JAKARTA BARAT – Gereja St. Thomas Rasul (Sathora) mempertegas perannya di tengah masyarakat melalui dua aksi kemanusiaan besar di wilayah Kembangan dan sekitarnya. Dalam sepekan terakhir, gereja tidak hanya mempererat toleransi lewat pembagian sembako dan buka puasa bersama, tetapi juga turun langsung ke lokasi banjir untuk memberikan bantuan moral dan fisik bagi umat yang terdampak.
Sinergi Lintas Agama di Kembangan Selatan
Puncak rangkaian kegiatan sosial ini berlangsung pada Jumat, 13 Maret 2026, di wilayah RW 02 Kembangan Selatan. Melalui kolaborasi Seksi HAAK, Sie PSE, dan WKRI Sathora, gereja menyalurkan paket sembako kepada warga prasejahtera serta menggelar acara buka puasa bersama tokoh masyarakat dan pemerintah setempat.
Pastor Kepala Sathora, Romo Antonius Suhardi Antara, Pr (Romo Aan), menegaskan bahwa kehadiran gereja harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama.
”Gereja Katolik hadir juga untuk sesama, salah satunya melalui penyaluran sembako hari ini. Ini sejalan dengan semangat puasa Pra-Paskah umat Katolik yang beriringan dengan ibadah puasa umat Muslim,” ujar Romo Aan di hadapan perwakilan FKUB Jakarta Barat, Wakapolsek, serta jajaran Kecamatan Kembangan.
Perhatian bagi Korban Banjir dan Lansia
Sebelum aksi sosial di Kembangan Selatan tersebut, Romo Aan bersama tim HAAK telah lebih dulu melakukan kunjungan pastoral pada Minggu dan Senin, 8–9 Maret 2026. Fokus kunjungan ini adalah menyapa umat yang terdampak banjir di kawasan Bojong Kavling dan para lansia di Lingkungan St. Agatha, Wilayah Yohanes.
Dalam aksi “blusukan” tersebut, Romo Aan membagikan bantuan konsumsi makanan sekaligus memberikan penguatan rohani bagi warga yang rumahnya terendam air. “Tetap semangat walaupun dalam banjir. Sehat selalu,” pesannya kepada warga.
Respons Haru dari Warga dan Umat
Aksi nyata ini memicu respons emosional dari warga. Ibu Indrie, Ketua RW 02 Kembangan Selatan, mengapresiasi konsistensi Gereja Sathora yang setiap tahun selalu mengingat warga prasejahtera di wilayahnya.
Di sisi lain, perhatian langsung ke lokasi banjir meninggalkan kesan mendalam bagi umat Katolik. Ibu Martha, salah satu warga yang terdampak, mengungkapkan rasa syukurnya dengan haru. “Baru pertama kali ada gembala yang mengunjungi dombanya yang sedang tenggelam. Rasanya senang sekali,” tuturnya.
Senada dengan itu, Ibu Rita yang merupakan salah satu lansia di Lingkungan St. Agatha juga merasa sangat tersentuh. “Bahagia sekali Romo sampai mengunjungi kita yang lagi kebanjiran,” katanya singkat namun penuh makna.
Kegiatan yang berlangsung maraton sejak kunjungan banjir pada awal Maret hingga acara buka puasa bersama di pertengahan bulan ini menjadi bukti nyata kehadiran Gereja Sathora. Gereja berkomitmen hadir tidak hanya dalam perayaan ibadah, tetapi juga secara konkret di tengah situasi krisis dan dalam upaya merajut keberagaman di Jakarta Barat.
(Lourentius EP)




