BERLIN, Pena Katolik – Persahabatan Presiden ke-3 RI, Bacharudin Jusuf Habibie dan Romo Y. B. Mangunwijaya telah menjadi cerita bhkan legenda. Awal persahabatan keduanya terjadi ketika keduanya sama-sama menjadi mahasiswa di RWTH Aachen, Jerman. Romo Mangun kuliah di RWTH Aachen antara tahun 1960 – 1966, sementara Habibie lebih senior, ia kuliah di sana 1955 – 1965.
Perjumpaan Romo Mangun dan Habibie salah satunya terjadi di sebuah gereja di Aachen. Di Jerman, mustahil bagi Habibie menemukan masjid untuk menunaikan salat. Sesekali, ia salat di gereja di Aachen. Pikirnya, gereja juga merupakan rumah Tuhan, sehingga ia dapat berdoa di sana.
“Saya tahu Tuhan, orang yang yang membuat tempat ini adalah mereka yang percaya satu Tuhan,” ujar Rudy, panggilan akrab Habibie ketika kuliah di Jerman. “Saya tidak mengganggu mereka, saya hanya ingin berdoa di tempat ini karena tidak mempunyai tempat.”
Setelah beberapa kali salat di tempat itu, Rudy berjumpa dengan Romo Mangun yang kebetulan sedang berada di gereja yang sama. Rudy awalnya tidak tahu, kalau Romo Mangun juga sama-sama orang Indonesia.
Kepergok sedang salat di gereja, Rudy was-was, jangan-jangan ia akan kena marah. Romo Mangun pun melihat dengan seksama, seorang pemuda yang sedang salat di gereja. Saat itu bukan kali pertama keduanya berjumpa, mereka sudah saling mengenal, meskipun tidak akrab.
“Rud, mengapa kamu salat disini?” tanya Romo Mangun.
“Sebelum mas Romo ke sini, saya sering salat disini. Aku menumpang saja Mas. Aku butuh kedamaian Allah, disini kan tidak ada masjid,” kata Rudy.
“Rudy…Rudy, andaikan satu dunia ini sepertimu,” ujar Romo Mangun sambil tersenyum.
Rudy bingung menangkap maksud perkataan Romo Mangun, jangan-jangan benar bahwa kata-kata itu adalah teguran untuk Rudy.
“Seperti saya? tukang ngotot maksudnya?” timpal Rudy.
Melihat sahabatnya itu bingung, Romo Mangun pun menjalaskan maksud perkataannya. Romo Mangun senang melihat Rudy Salat di gereja. Bagi Romo Mangun, siapa saja bisa berdoa di gereja, termasuk untuk umat Islam seperti Rudy. Toh, di gereja pun semua orang dapat bertemu Allah.
“Bukan begitu, tetapi orang yang selalu yakin Tuhan yang Maha Pengasih, apa yang dibuatnya, segala cobaannya, dan segala perbedaan di bumi,” terang Romo Mangun.
Romo Mangun merasa senang, Rudy bisa dengan nyaman berdoa dan menunaikan salat di gereja itu.
“Senang sekali melihatmu nyaman berdoa di gereja dengan caramu sendiri, ini justru bukti keimananmu tak mudah goyah Rud,” jelas Romo Mangun.
Romo Sama dengan Pastor
Rudy merasa Bahagia, ia tidak kena tegur. Pada saat itulah, Rudy melihat pribadi Romo Mangun yang ramah, lembut, dan bijak seperti seorang imam. Di sanalah, ia berkelakar kepada Romo Mangun.
“Ah, mas Romo bijak sekali, seperti pastor saja,” kata Rudy.
“Lho selama ini kamu memanggil saya Romo kan, kok kaget kalau saya pastor?” ucap Romo Mangun.
“La itu kan nama mas Rama kan? Romo?” sambung Rudy.
“Bukan! saya itu Romo alias pastor, nama saya Y.B Mangunwijaya, Romo itu panggilan dalam bahasa Jawa (nama panggilan untuk pastor dalam bahasa Jawa – red),” terang Romo Mangun.
Di sini, Rudy baru ngeh, ternyata sahabatnya itu adalah seorang imam Katolik. Tadinya, ia meyakini bahwa Romo mangun hanya mahasiswa biasa seperti dirinya. Keduanya kemudian tertawa, dan persahabatan merepa pun menjadi semakin dekat sejak saat itu.
Pada kesempatan itu, Rudy berterima kasih kepada Romo Mangun. Ia merasa, Romo Mangun telah memberi peneguhan, dan menguatkan dirinya sebagai pemeluk Islam.
“Terima kasih Romo, Anda mengajarkan saya Ber-Islam,” kata Rudy.

Sahabat Dekat
Sejak perkenalan dan perjumpaan di Jerman itu, Habibie bersahabat dengan Romo Mangun, sampai keduanya menyelesaikan kuliah masing-masing dan kembali ke Indonesia. Di Jerman, Habibie mengambil jurusan Teknik Penerbangan, sedangkan Romo Mangun mendalami Teknik Arsitektur. Romo Mangun juga sempat dianugerahi Habibie Award sebagai penghargaan atas dedikasi dan karya kemanusiaannya.
Romo Mangun meninggal di Jakarta, 10 Februari 1999. Sebelum diberangkatkan ke Yogyakarta, jenazah Romo Mangun disemayamkan di Gereja Katedral Jakarta. Saat itulah, Rudy Habibie, yang sudah menjadi Presiden Republik Indonesia datang melayat ke Katedral Jakarta.
Di Katedral, Habibie berdoa untuk sahabatnya dengan tata cara Islam. Kesedihannya tak tertahan, ia mengenang saat keduanya berjuma di Jerman dan menjadi sahabat.
“Apa boleh saya berdoa dengan cara saya, Romo Mangun adalah sahabat saya,” pinta Habibie.
Ketika jenazah Romo Mangun akan diberangkatkan ke Yogyakarta, Habibie mengirim pesawat Hercules untuk mengantar sahabatnya. Si “Burung Manyar” pun diterbangkan dengan pesawat sahabatnya. Romo Mangun dimakamkan di Yogyakarta, di Kompleks Pemakaman para Imam Keuskupan Agung Semarang di samping Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan.
Romo Mangun bukan imam pertama yang dijumpai Habibie di Jerman. Pada awal kuliah, Habibie dibantu oleh romo Katolik bernama Pastor Gilbert, bahkan membantu, Rudy Habibie, nama masa muda Habibie, untuk mencari tempat tinggal selama di Jerman.
Di tengah kesibukannya bergelut dengan rumus-rumus teknik penerbangan di Aachen, Rudy muda ternyata pernah melabuhkan hatinya pada seorang wanita Katolik asal Polandia. Ternyata, kekasih Rudy ini fasih berbahasa Indonesia karena kedekatannya dengan seorang suster biarawati asal Ambon. Suster tersebut merupakan misionaris yang bertugas di Polandia. Meski cinta itu tulus, Rudy akhirnya memilih untuk melepaskannya. Habibie meninggal 20 tahun setelah kepergian Romo Mangun, pada 11 September 2019.





