Kardinal Dominique Mathieu Tiba yang Dievakuasi dari Iran Tiba dengan Selamat di Roma

ROMA – Setelah sempat menjadi teka-teki selama operasi militer berlangsung, keberadaan pemimpin umat Katolik di Iran akhirnya terungkap. Kardinal Dominique Mathieu (Uskup Agung Teheran-Isfahan) mengonfirmasi bahwa ia telah tiba dengan selamat di Roma, Italia pada Minggu 8 Maret 2026.

Kabar melegakan ini disampaikan langsung oleh Kardinal Mathieu kepada CathoBel, situs berita Katolik Belgia. Kardinal berusia 62 tahun tersebut mengungkapkan perasaan yang berat. Ia mengaku meninggalkan Iran “dengan penyesalan dan kesedihan bagi saudara-saudari kami di Iran.”

Evakuasi Bersama Staf Diplomatik

Proses evakuasi Kardinal Mathieu dilakukan berbarengan dengan pemulangan seluruh personel Kedutaan Besar Italia di Teheran. Keputusan ini diambil mengingat posisi strategis sekaligus rentan dari pusat administrasi Gereja Katolik di sana. Katedral Consolata, kediaman Uskup Agung, serta kantor kuria semuanya berada di dalam kompleks diplomatik tersebut.

Dunia sempat kehilangan kontak dengan Kardinal Mathieu sejak Israel dan Amerika Serikat meluncurkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Pemutusan akses internet hampir total oleh pemerintah Iran membuat nasib warga di dalam negeri, termasuk sang Kardinal, menjadi gelap bagi dunia luar. Kekhawatiran global sempat memuncak, mengingat posisi umat Katolik yang rentan terjepit di antara serangan udara dan potensi aksi balas dendam terhadap mereka yang dianggap beraliansi dengan Barat.

Saat ini, Kardinal Mathieu untuk sementara akan tinggal di Roma sampai situasi kondusif dan perang berakhir di Iran. Ia akan memberikan laporan langsung kepada Takhta Suci mengenai situasi riil di lapangan. Ia juga mengajak umat beriman untuk tidak berhenti berharap.

Tugas Kardinal Mathieu di Iran dikenal sebagai salah satu misi tersulit di dunia. Umat Katolik Roma adalah minoritas sangat kecil—hanya beberapa ribu jiwa di tengah populasi 80 juta orang yang mayoritas Muslim Syiah. Laporan menyebutkan bahwa sejak tahun lalu, sang Kardinal melayani lima paroki di ibu kota seorang diri tanpa bantuan imam atau diakon.

Pengangkatannya sebagai Kardinal oleh Paus Fransiskus pada tahun 2024 dipandang sebagai langkah strategis “menjangkau pinggiran” dan upaya Roma membangun dialog dengan pemerintah Iran. Namun, eskalasi konflik bersenjata ini membuat jalur diplomasi tersebut menjadi sangat rumit.

Situasi bagi umat Kristen di Iran dilaporkan memburuk dalam satu tahun terakhir. Konstitusi 1979 Iran mengakui keberadaan umat Kristen, Yahudi, dan Zoroaster. Namun sebagai minoritas resmi, kebebasan beragama mereka sangat terbatas. Menurut laporan Iran International, sepanjang tahun 2025 terjadi lonjakan represi dengan 254 penangkapan umat Kristen atas dasar “keamanan nasional.”

Perang singkat 12 hari dengan Israel pada tahun 2025 menjadi titik balik di mana pemerintah mulai mengincar kelompok minoritas, terutama warga yang berpindah keyakinan. Hingga kini, sulit untuk memastikan sejauh mana konflik militer terbaru ini akan berdampak pada intensitas persekusi terhadap umat Kristen yang tersisa di sana.

Di tengah ketidakpastian politik Timur Tengah, umat Kristiani di seluruh dunia diajak untuk bersatu dalam doa bersama Kardinal Mathieu demi keselamatan dan perdamaian seluruh masyarakat yang terdampak konflik tersebut.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini