Sabtu, Maret 21, 2026

Bacaan dan Renungan Kamis, 26 Maret 2026, Hari Biasa Pekan Prapaskah V (ungu)

Bacaan I – Kej. 17:3-9

Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.

Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.

Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 105:4-5,6-7,8-9

  • Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Ny dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,
  • Hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya.
  • Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak;

Bacaan Injil – Yoh. 8:51-59

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.”

Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.

Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?”

Jawab Yesus: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya.

Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.”

   Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”

   Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

***

Mengenali Sang Hidup yang Kekal

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jikalau seseorang menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Pernyataan ini memicu kemarahan besar di kalangan pendengarnya. Bagi mereka, maut adalah realitas mutlak yang bahkan menimpa tokoh-tokoh besar seperti Abraham dan para nabi. Mereka terjebak dalam pemahaman biologis dan temporal tentang kehidupan, sehingga mereka menganggap Yesus sedang menghujat Allah atau setidaknya sedang kerasukan setan.

Ketegangan ini menunjukkan perbedaan jurang antara ketaatan lahiriah pada hukum dan persekutuan batiniah dengan Sang Sabda. Yesus tidak sedang menjanjikan bahwa tubuh fisik manusia tidak akan hancur, melainkan Ia menawarkan kehidupan yang tidak bisa dihancurkan oleh maut—kehidupan ilahi yang berasal dari Bapa. Masalah utama para lawan bicara Yesus adalah mereka merasa sudah “memiliki” kebenaran melalui silsilah keturunan mereka dari Abraham. Mereka begitu membanggakan masa lalu sehingga mereka gagal mengenali Allah yang sedang bekerja di masa kini melalui Yesus.

Puncak dari perikop ini adalah deklarasi identitas Yesus yang paling megah: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Dengan menggunakan ungkapan “Aku telah ada” (Ego Eimi), Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang kekal, yang melampaui waktu dan sejarah. Ia bukanlah sekadar nabi yang muncul setelah Abraham, melainkan Sang Sumber yang darinya Abraham memperoleh sukacita. Pengakuan ini begitu berat bagi telinga mereka sehingga mereka memungut batu untuk melempari-Nya. Tragisnya, di rumah Tuhan sendiri, Sang Pemilik Rumah justru hendak dirajam oleh mereka yang mengaku menyembah-Nya.

Renungan ini mengundang kita untuk memeriksa “batu-batu” apa yang mungkin masih kita genggam dalam hati kita. Seringkali kita melempar batu penghakiman atau penolakan ketika kehendak Tuhan tidak sesuai dengan logika atau keinginan kita. Kita lebih memilih rasa aman dalam aturan yang kaku daripada kebebasan dalam kasih yang menuntut perubahan hidup. Percaya kepada Yesus berarti berani melepaskan keterikatan pada hal-hal duniawi yang fana dan mulai berpegang pada Firman-Nya yang menghidupkan. Mari kita mohon rahmat agar kita tidak hanya mengenal Yesus sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai Tuhan yang hidup, yang menyelamatkan kita dari maut yang paling ngeri, yaitu keterpisahan kekal dari kasih Allah.

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Sang “Aku Adalah”, Allah yang kekal yang telah ada sebelum segala abad. Kami bersyukur atas janji kehidupan kekal yang Engkau tawarkan kepada kami melalui ketaatan pada Firman-Mu. Ampunilah kami jika seringkali kami menjadi bebal dan lebih mengandalkan pemikiran manusiawi kami daripada percaya pada penyelenggaraan-Mu yang ajaib.

Berilah kami hati yang rendah hati agar kami mampu mengenali kehadiran-Mu dalam setiap peristiwa hidup kami. Jauhkanlah kami dari kesombongan rohani yang membuat kami merasa lebih baik dari sesama. Biarlah rahmat-Mu membebaskan kami dari ketakutan akan maut, sehingga kami dapat hidup sepenuhnya bagi kemuliaan-Mu dan kebahagiaan sesama. Sebab Engkaulah Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

***

Santo Ludgerus, Uskup

Ludgerus lahir pada tahun 742. Cita- cita imamatnya tercapai ketika ia ditabhiskan menjadi imam dan kemudian menjadi Uskup pertama di Muenster, Jerman. Sebagai Uskup ia berusaha keras mempertobatkan orang – orang Jerman yang masih kafir dan meletakkan dasar yang kokoh bagi perkembangan iman umat di seluruh keuskupannya. Ia meninggal dunia pada tahun 809, tatkala sedang dalam perjalanan apostolis mengelilingi wilayah keuskupannya.

Santo Ireneus dari Sirmium, Martir

Ireneus masih sangat muda ketika terpilih menjadi Uskup kota Sirmium, sebuah kota di Propinsi Pannonia, Eropa Tenggara. Dia dikenal sebagai seorang Uskup yang beriman kokoh dan punya semangat pengabdian dan kerasulan yang tinggi. demi Kristus dan kerajaan Allah, ia rela meninggalkan sanak saudara dan orang tuanya.

Sewaktu terjadi penganiayaan terhadap orang Kristen pada masa pemerintahan kaisar Diokletianus, Irenius dihadapkan kepada Gubernur Pannonia untuk diadili. Ia dipaksa membawakan kurban persembahan kepada dewa- dewa kafir Romawi. Uskup Ireneus yang saleh dengan tegas menolak perintah Gubernur. Katanya kepada Gubernur: Sengsara itu akan kutanggung dengan gembira supaya aku dapat mengambil bagian dalam sengsara Tuhan ku.

Karena jawabannya ini, ia disiksa dengan kejam. Ibu dan sanak saudara, kenalan dan sahabat- sahabatnya menganjurkan dia agar dia mengikuti saja kemauan gubernur supaya luput dari kematian ngeri.

Meskipun demikian Ireneus tetap setia kepada Kristus karena berpegang teguh pada kata- kata Kristus: Barangsiapa menyangkal Aku di hadapan manusia, maka akupun akan menyangkal dia dihadapan Bapa Ku yang di surga. Ia sebaliknya menantang gubernur agar segera menyelesaikan perkaranya sesuai kehendaknya.

Ia digiring ke atas panggung untuk dipenggal kepalanya. Ireneus tampak tak gentar. Ia bahkan membuka sendiri pakaiannya, lalu mengangkat tangannya ke atas sambil memohon agar Yesus datang menjemput jiwanya. Peristiwa ini terjadi di kota Mitrovicea, Yugoslavia pada tahun 304.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini