Senin, Maret 16, 2026

Bacaan dan Renungan Sabtu, 21 Maret 2026, Hari Biasa Pekan Prapaskah IV (ungu)

Bacaan I – Yer. 11:18-20

TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan perbuatan mereka kepadaku.

Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: “Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!”

Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 7:2-3,9bc-10,11-12

  • supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan.
  • Ya TUHAN, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.
  • Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat. Sungguh, kembali ia mengasah pedangnya, melentur busurnya dan membidik.

Bacaan Injil – Yoh. 7:40-53

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkata itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea!

Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.”

Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya. Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?”

Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan?

Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!”

Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?”

Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya,

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Terbelah karena Kebenaran

Teks Injil hari ini memperlihatkan sebuah fenomena yang sangat manusiawi namun menyedihkan: perpecahan di antara orang banyak karena sosok Yesus. Sebagian mengakui-Nya sebagai nabi, sebagian mengimani-Nya sebagai Mesias, namun sebagian lagi menolak-Nya mentah-mentah hanya karena persoalan asal-usul geografis. “Adakah Mesias datang dari Galilea?” tanya mereka. Ketegangan ini mencapai puncaknya ketika para penjaga Bait Allah, yang diutus untuk menangkap Yesus, justru pulang dengan tangan hampa. Alasan mereka sangat sederhana namun mendalam: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!”

Perikop ini mengajak kita merenungkan bagaimana kita memandang kebenaran Tuhan. Seringkali, seperti orang-orang Farisi, kita terjebak dalam legalisme dan prasangka. Kita merasa paling tahu tentang aturan agama, paling mengerti tentang bagaimana Tuhan seharusnya bekerja, sehingga kita menutup mata terhadap kehadiran-Nya yang nyata di depan mata. Orang Farisi meremehkan Yesus karena mereka merasa lebih terpelajar dan menganggap orang banyak yang mengikuti Yesus sebagai orang-orang terkutuk yang tidak mengenal hukum Taurat. Kesombongan rohani inilah yang menjadi penghalang terbesar untuk melihat kemuliaan Tuhan.

Namun, di tengah kegelapan prasangka itu, muncul sosok Nikodemus. Ia mencoba memberikan suara keadilan dengan mengingatkan bahwa hukum tidak boleh menghukum seseorang sebelum didengar keterangannya. Meskipun ia kemudian diejek oleh rekan-rekannya, Nikodemus mewakili jiwa yang mau mencari kebenaran dengan jujur. Ia menunjukkan bahwa iman membutuhkan kerendahan hati untuk mendengar, bukan sekadar menghakimi berdasarkan label atau asal-usul.

Pengalaman para penjaga Bait Allah juga menjadi teguran bagi kita. Mereka yang “biasa saja” dan tidak memegang jabatan tinggi agama justru mampu merasakan getaran ilahi dalam perkataan Yesus. Terkadang, kita butuh melepaskan segala atribut kesombongan kita agar bisa terpukau kembali oleh sabda-Nya. Kristus memang seringkali menjadi batu sandungan yang membelah pendapat dunia, namun bagi mereka yang mau membuka hati, Ia adalah Kebenaran yang memerdekakan. Mari kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita lebih sering mencari alasan untuk menolak sapaan Tuhan, ataukah kita berani seperti para penjaga itu, yang membiarkan diri kita “takluk” oleh pesona sabda-Nya?

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Sabda Hidup yang memiliki kuasa untuk mengubah hati. Kami mohon ampun jika seringkali hati kami menjadi keras karena kesombongan, prasangka, dan merasa paling benar. Berilah kami kerendahan hati seperti para penjaga Bait Allah yang mampu mengenali suara-Mu yang menyejukkan jiwa.

Jangan biarkan kami terjebak dalam formalitas agama yang menjauhkan kami dari kasih yang sejati. Seperti Nikodemus, berilah kami keberanian untuk tetap berpijak pada kebenaran meskipun dunia di sekitar kami penuh dengan penghakiman. Semoga hidup kami senantiasa menjadi kesaksian akan kehadiran-Mu yang mempersatukan, bukan memecah belah. Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

***

Santo Noel Pinot, Martir

Rovolusi Perancis membawa gejolak besar di dalam Gereja. Biara- biara di tutup, pendidikan imam dihentikan, dan banyak rohaniwan- rohaniwati dipaksa untuk bersumpah dan mengakui konstitusi Perancis yang anti gereja. Tak terkecuali uskup- uskup. Banyak dari antara mereka dibunuh karena tidak bersedia mengakui konstitusi itu. Noel Pinot adalah seorang imam yang mengalami nasib itu. Ia dengan penuh semangat berkhotbah mencela uskup- uskup yang mengangkat sumpah atas konstitusi Prancis yang anti gereja itu. Karena itu pastor kepala paroki ini dipecat dan dibuang. Namun dengan diam- diam ia pulang kembali untuk melanjutkan perjuanggannya. Tatkala sedang mempersembahkan misa di tengah malam, Noel Pinot dikhianati, ditangkap dan dipenggal kepalanya. Ia mati sebagai martir Kristus pada tahun 1794.

Santo Serapion, Pengaku Iman

Serapion adalah murid St. Antonius Agung. Ia dipilih menjadi Uskup Thmuis, Mesir dan berjuang gigih melawan semua aliran bidaah yang berkembang pada masa itu. Ia dengan gigih membela St. Athanasios di hadapan pengadilan Kaisar demi tegaknya ajaran iman yang benar. Oleh karena itu, ia dibuang oleh pemerintah. Dalam masa pembuangannya, ia menulis buku- buku liturgi yang penting. Serapion meninggal pada tahun 362.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini