Selasa, Maret 10, 2026

Bacaan dan Renungan Senin, 16 Maret 2026, Hari Biasa Pekan Prapaskah IV (ungu)

Bacaan I – Yes. 65:17-21

“Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati. Tetapi bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan, sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak dan penduduknya penuh kegirangan.

Aku akan bersorak-sorak karena Yerusalem, dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erangpun tidak.

Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk, sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda, dan siapa yang tidak mencapai umur seratus tahun akan dianggap kena kutuk.

Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13b

  • TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!
  • Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai. Dalam kesenanganku aku berkata: “Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!”
  • Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Bacaan Injil -Yoh. 4:43-54

Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri.

Maka setelah ia tiba di Galilea, orang-orang Galileapun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiripun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit.

Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”

Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.”

Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya.   Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Iman yang Melampaui Tanda dan Mukjizat

Kepulangan Yesus ke Galilea, di mana Ia disambut karena orang-orang telah melihat mukjizat-Nya di Yerusalem. Namun, Yesus memberikan teguran yang cukup tajam: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Teguran ini ditujukan kepada kita semua yang sering kali mendasarkan iman hanya pada bukti fisik atau pemenuhan keinginan duniawi.

Di tengah situasi itu, muncul seorang pegawai istana yang anaknya sedang sakit parah di Kapernaum. Ia datang kepada Yesus dengan satu permohonan yang mendesak: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Menariknya, Yesus tidak pergi bersamanya ke Kapernaum. Yesus hanya mengucapkan sepatah kata: “Pergilah, anakmu hidup!”

Di sinilah letak inti dari renungan kita. Pegawai istana itu dihadapkan pada pilihan sulit: apakah ia akan memaksa Yesus datang secara fisik, atau ia akan memegang kata-kata Yesus? Alkitab mencatat dengan indah: “Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.” Ini adalah definisi iman yang sejati—percaya sebelum melihat, melangkah hanya berdasarkan janji Tuhan.

Sering kali dalam hidup, kita merasa Tuhan “jauh” karena doa kita tidak langsung dijawab dengan cara yang kita inginkan. Kita ingin Tuhan “datang” sesuai skenario kita. Namun, kisah ini mengajarkan bahwa Sabda Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Jarak antara Kana dan Kapernaum tidak menjadi penghalang bagi otoritas Yesus. Ketika pegawai itu sedang dalam perjalanan pulang—masih dalam proses ketaatan—ia menerima kabar bahwa anaknya sembuh tepat pada saat Yesus mengucapkannya.

Mukjizat fisik hanyalah pintu masuk. Hasil akhir yang sesungguhnya dari peristiwa ini adalah: “ia pun percaya dan seluruh keluarganya.” Iman pegawai istana ini berkembang dari sekadar “iman karena butuh” menjadi “iman karena percaya pada Pribadi Yesus.”

Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah iman kita masih bergantung pada “tanda-tanda” atau kebetulan-kebetulan yang menguntungkan? Ataukah kita sudah mampu berpegang teguh pada Sabda-Nya, bahkan ketika situasi di depan mata tampak belum berubah? Percayalah, saat Tuhan berfirman, sesuatu yang besar sedang terjadi di balik layar kehidupan kita.

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Sang Firman yang Hidup. Kami bersyukur atas kuasa Sabda-Mu yang mampu memulihkan dan menghidupkan. Ampunilah kami yang sering kali ragu dan hanya mencari Engkau ketika kami membutuhkan mukjizat-Mu saja. Berikanlah kami rahmat agar kami memiliki iman seperti pegawai istana itu—iman yang berani melangkah hanya dengan berpegang pada janji-Mu.

Murnikanlah hati kami agar kami tidak terus-menerus menuntut tanda, melainkan mampu melihat penyertaan-Mu dalam diam dan kesabaran. Semoga melalui kesetiaan kami pada Sabda-Mu, keluarga dan orang-orang di sekitar kami pun dapat merasakan kehadiran Kerajaan-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

***

Santo Heribertus dari Cologne

Heribertus dari Kölnlahir di kota Worms, Jerman pada tahun 970. Ayahnya adalah seorang bangsawan kota Worms bernama Hugo.

Saat masih kecil Heribertus dititipkan ayahnya kepada Abbas Gorsse, pemimpin Biara Benediktin di Lorraine untuk dididik sesuai dengan cara hidup Kristiani.

Pendidikan dan cara hidup di biara itu berhasil menanamkan dalam batinnya hasrat yang kuat untuk menjalani hidup membiara. Namun cita-citanya itu tidak direstui oleh ayah dan sanak keluarganya.

Heribertus segera dipanggil pulang ke Istana Worms agar tidak lagi terpengaruh oleh cara hidup membiara. Namun rencana Tuhan atas dirinya tak terselami manusia.

Meskipun orangtuanya berusaha keras menghindarkan dia dari cita-cita hidup membiara itu, ia tetap menunjukkan kesalehan hidup yang mengagumkan. Melihat cara hidupnya itu, keluarganya akhirnya mengalah dan merelakan Heribertus untuk menjadi seorang biarawan benediktin.

Ia kemudian ditabhiskan menjadi imam. Oleh Raja Otto III, Heribertus diangkat menjadi penasehat pribadi baik dalam kehidupan politik maupun kehidupan rohani.

Prestasinya terus meningkat dengan pengangkatannya sebagai Vikaris Jendral Keuskupan Köln, lalu diangkat menjadi Uskup Agung Köln.

Heribertus memanfaatkan kedudukannya sebagai imam, uskup agung dan penasehat pribadi raja untuk menunjukkan cinta kasih Allah kepada orang banyak. Bersama Raja Otto III, ia mendirikan gereja dan biara di kota Deutss, didekat kota Rhein, atas tanggungan kerajaan.

Ia dengan giat merawat orang-orang sakit dan memperhatikan nasib para kaum miskin.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini