Senin, Maret 2, 2026

Pasca Serangan Amerika Serikat ke Iran, Paus Leo XIV Serukan Perdamaian Dunia: “Hentikan Spiral Kekerasan Sebelum Menjadi Jurang Tak Terobati”

VATIKAN, Pena Katolik – Di tengah eskalasi konflik yang mencekam di Timur Tengah, Paus Leo XIV menyampaikan pesan mendalam saat doa Angelus di Lapangan Santo Petrus, Minggu 1 Maret 2026. Pemimpin umat Katolik dunia tersebut menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, serta serangan balasan yang menyusul kemudian.

Menanggapi situasi di Teheran dan kota-kota lain di Iran yang diguncang serangan udara sejak Sabtu lalu, Paus menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak akan pernah lahir dari moncong senjata atau ancaman timbal balik.

“Stabilitas dan perdamaian tidak dibangun dengan ancaman yang saling membalas, juga tidak dengan senjata yang menabur kehancuran, penderitaan, dan kematian,” ujar Paus Leo XIV. “Hanya dialog yang masuk akal, autentik, dan bertanggung jawab yang dapat mewujudkannya.”

Paus secara khusus memberikan peringatan keras akan potensi tragedi kemanusiaan yang lebih besar jika kekerasan tidak segera diredam, terlebih dengan kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia mengimbau pihak-pihak yang terlibat untuk memikul tanggung jawab moral guna menghentikan “spiral kekerasan” sebelum terperosok ke dalam “jurang yang tak terobati”.

Selain menyoroti konflik Iran, Paus juga menyuarakan harapan bagi wilayah lain. Ia meminta agar diplomasi kembali menjalankan fungsinya demi kebaikan bangsa-bangsa yang merindukan koeksistensi damai berdasarkan keadilan. Paus turut menyerukan perdamaian di wilayah perbatasan Pakistan dan Afghanistan, mendesak kembalinya jalur dialog. Di tengah isu geopolitik, Paus menyatakan solidaritasnya bagi warga negara bagian Minas Gerais, Brasil, yang tengah dilanda banjir bandang hebat.

Dalam renungan sebelum Angelus, yang bertepatan dengan kisah Transfigurasi Kristus dalam Injil, Paus Leo XIV menghubungkan cahaya Paskah dengan penderitaan manusia saat ini. Ia menyebut bahwa cahaya Tuhan menyinari tubuh-tubuh yang “dicambuk oleh kekerasan,” “disalibkan oleh penderitaan,” dan “ditinggalkan dalam kemiskinan”.

Paus menutup pesannya dengan mengajak seluruh umat beriman untuk terus berdoa bagi perdamaian dunia, menegaskan bahwa hanya damai sebagai anugerah Tuhan yang mampu menyembuhkan luka antarbangsa.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini