MANILA, Pena Katolik – Tahun ini, Filipina memperingati ulang tahun ke-40 Revolusi EDSA, Arsip Provinsi Dominikan Filipina (DPPA) membuka kembali lembaran sejarah melalui dokumen khusus bertajuk “Dominicans in EDSA”. Dokumen ini menyoroti peran spiritual dan aksi nyata para biarawan Ordo Pengkhotbah (OP) dalam peristiwa bersejarah People Power tahun 1986 yang berlangsung damai.
Arsip tersebut menampilkan edisi khusus “Freedom” dari majalah OP Dialogues yang diterbitkan pada Agustus 1986. Di dalamnya, para biarawan merefleksikan bagaimana keterlibatan mereka bukan sekadar partisipasi politik, melainkan sebuah misi untuk menegakkan martabat manusia dan keadilan.
Koin dan Setetes Air
Salah satu refleksi mendalam ditulis oleh Bro. Dennis Maquiraya, O.P. dalam artikelnya yang berjudul “A Coin and a Drop of Water”. Ia mengibaratkan kontribusi setiap individu dalam revolusi tersebut seperti koin kecil di cangkir pengemis atau setetes air di dalam gelas. Meskipun satu koin atau satu tetes air tampak tidak berarti, ketika dikumpulkan bersama koin dan tetesan lainnya, mereka mampu membeli makanan dan memuaskan dahaga seorang pengemis.
Maquiraya menekankan bahwa setiap orang di EDSA membuat perbedaan hanya dengan “hadir di sana”. Kehadiran massa yang bersatu adalah upaya untuk memuaskan dahaga “Juan de la Cruz” (rakyat Filipina) akan keadilan dan perdamaian.
Daftar isi dari dokumen Dialogues tersebut mengungkapkan berbagai perspektif keterlibatan Dominikan, antara lain catatan mengenai komunitas Sto. Domingo sebagai pusat komunitas yang bergerak dalam revolusi. Ada juga kesaksian mengenai peran Radio Veritas (RV) sebagai “suara kecil kebenaran” selama masa krisis.
Sebuah foto bersejarah dalam arsip juga menunjukkan para biarawan dan umat membawa patung Bunda Maria di tengah kerumunan massa, menegaskan sifat revolusi yang sangat bernuansa doa dan iman. Selain itu, nampak sebuah spanduk yang mengutip semangat ordo untuk mengungkap kebenaran: “Nothing covered that shall not be known, nor hidden that shall not be revealed”.
Melalui arsip-arsip ini, keluarga besar Dominikan diingatkan kembali akan misi abadi mereka: mewartakan Injil dengan berani, menjaga martabat manusia, dan bekerja tanpa lelah demi kesejahteraan bersama.



