YERUSALEM, Pena Katolik – Memahami iman Kristiani tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah dan bahasa tempat iman tersebut bertumbuh. Para sejarawan umumnya sepakat bahwa Yesus berbicara dalam bahasa Aram sebagai bahasa sehari-harinya. Bahasa Aram adalah bahasa Semit yang populer di wilayah Palestina pada abad ke-1 dan masih digunakan oleh komunitas Kristiani di beberapa bagian Timur Tengah hingga saat ini.
Namun, Yesus juga sangat akrab dengan bahasa Ibrani, yaitu bahasa teks suci dan ritual keagamaan. Di sisi lain, karena pendudukan Romawi, Yesus kemungkinan besar memiliki paparan terhadap bahasa Yunani, yang merupakan lingua franca atau bahasa pergaulan internasional kala itu. Faktanya, seluruh naskah asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Berikut adalah tiga kata Ibrani yang sangat penting untuk diketahui:
1. Elohim (Allah)
Kata Elohim sering kali diterjemahkan sebagai “Allah”. Secara tata bahasa, Elohim adalah bentuk jamak dari Eloah. Meski berbentuk jamak, dalam Alkitab Ibrani, kata ini paling sering digunakan untuk merujuk pada Allah yang satu. Penggunaan nama Elohim merujuk pada konsep otoritas tertinggi, kekuasaan yang tak terbatas, serta kedaulatan Allah atas seluruh alam semesta.
2. Ruach HaKodesh (Roh Kudus)
Frasa Ruach HaKodesh diterjemahkan sebagai “Roh Kudus”. Baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru, istilah ini merujuk pada kehadiran dan kuasa Allah yang bekerja di dunia serta di dalam kehidupan orang percaya. Ruach juga berarti “napas” atau “angin”, yang mengacu pada inspirasi ilahi, bimbingan, serta pemberdayaan spiritual untuk melayani.
3. Kippur (Penebusan)
Kata Kippur merujuk pada konsep penebusan atau pendamaian. Hari yang paling suci bagi umat Yahudi adalah Yom Kippur (Hari Penebusan), sebuah masa untuk berpuasa dan bertobat guna mencari pengampunan. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan pembebasan hutang, baik secara moral maupun finansial.
Pemahaman ini bergema kuat dalam doa “Bapa Kami” (ampunilah kesalahan/hutang kami) dan dalam khotbah perdana Yesus di Lukas 4, saat Ia mengumumkan datangnya “Tahun Rahmat Tuhan” atau Tahun Yobel—tahun di mana segala hutang dihapuskan dan pembebasan diproklamasikan.



