YORDAN, Pena Katolik – Dalam Injil Matius, dikisahkan bahwa segera setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan, “Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis” (Matius 4:1). Peristiwa serupa juga dicatat dalam Injil Markus dan Lukas, yang menempatkan momen pencobaan ini tepat sebelum Yesus memulai karya pelayanan-Nya di hadapan publik.
Tradisi lokal meyakini bahwa lokasi spesifik tempat Yesus berpuasa berada di sebuah gunung dekat Sungai Yordan yang sekarang dikenal sebagai “Gunung Pencobaan”. Gunung ini merupakan dinding cadas yang terjal dan sangat sulit untuk didaki. Dengan tebing-tebing yang curam dan gua-gua alam, tempat ini menawarkan kesendirian mutlak bagi Yesus untuk terputus dari hiruk-pikuk dunia.
Meskipun tradisi Kristiani sering menyebut tempat ini sebagai “padang gurun” atau “gurun pasir”, kata asli dalam bahasa Yunani yang digunakan adalah “eremos”. Kata ini sebenarnya merujuk pada “sebuah lokasi yang terisolasi, tidak berpenghuni, dan tanahnya tidak cocok untuk penggembalaan”. Ini adalah tempat yang benar-benar sunyi dan liar.
Sejak abad-abad awal, gua-gua di gunung ini menjadi tempat tinggal bagi para rahib dan pertapa Kristiani yang membaktikan hidup mereka dalam doa yang sunyi. Akhirnya, sebuah biara dibangun di sana sebagai tanda penghormatan atas peristiwa iman tersebut. Meskipun tidak ada bukti arkeologis yang mutlak bahwa di sinilah titik tepatnya Yesus berada, umat Kristiani selama berabad-abad telah menjaga tempat ini sebagai simbol nyata dari ketaatan Yesus dalam menghadapi godaan.
Isolasi di gunung tersebut memberikan pesan penting bagi, terutama selama masa Prapaskah. Setiap orang dipanggil untuk menemukan “padang gurun” sendiri—sebuah waktu dan ruang setiap hari untuk menjauh dari semua orang demi merenungkan rencana misterius Allah.
Di zaman yang sangat terkoneksi secara digital ini, orng sering kali terpaku pada perangkat elektronik dan kebisingan media sosial. Orang membutuhkan momen untuk “mencabut steker” (unplug) dari koneksi “duniawi” tersebut. Bagi sebagian orang, “padang gurun” itu mungkin adalah sudut taman yang sunyi; bagi yang lain, itu hanyalah kamar tidur dengan ponsel yang dimatikan.
Di mana pun “padang gurun” Anda berada, marilah kita terinspirasi oleh tindakan Yesus. Luangkanlah waktu sejenak jauh dari keramaian dunia untuk menyegarkan jiwa dan memperkuat iman kita kembali.




