Rabu, Februari 25, 2026

Hari Ketika St. Fransiskus Asisi Mulai Merubah Wajah Gereja

ASISI, Pena Katolik – Bagi Santo Fransiskus dari Asisi, tanggal 24 Februari bukanlah hari biasa. Setelah meninggalkan kehidupan lamanya yang penuh kemewahan, Fransiskus sempat berada dalam masa pencarian.

Pada awalnya, ia mengira Tuhan memanggilnya untuk membangun gereja secara fisik. Ia pun dengan tekun memperbaiki tiga kapel kecil di sekitar Asisi, termasuk sebuah kapel mungil yang sangat ia cintai bernama “Portiuncula”, ‘bagian kecil’.

Namun, meski kapel itu telah berdiri kembali, Fransiskus masih merasakan kegelisahan di batinnya. Ia tahu, Tuhan memanggilnya untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar batu dan semen.

Pada pagi hari tanggal 24 Februari 1208, Fransiskus mengikuti Misa di kapel Portiuncula. Bacaan Injil hari itu (Pesta Santo Matias) mengisahkan perutusan para murid: “Pergilah dan wartakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat… Janganlah kamu membawa emas atau perak… janganlah membawa bekal dalam perjalanan, janganlah membawa dua helai baju, kasut, atau tongkat.” (Matius 10:7-13).

Usai Misa, Fransiskus meminta imam menjelaskan makna ayat-ayat tersebut. Begitu mendengar penjelasannya, sebuah cahaya terang seolah menyinari jiwanya. Fransiskus berseru dalam hati: “Inilah yang aku inginkan! Inilah yang kucari!”

Tanpa menunda waktu, Fransiskus langsung melakukan tindakan radikal. Saat itu, ia masih mengenakan jubah yang bagus, ikat pinggang kulit, serta kasut dan tongkat. Ia segera menanggalkan semuanya. Sebagai gantinya, ia membuat sebuah jubah kasar dan mengikat pinggangnya dengan seutas tali jemuran yang sederhana.

Fransiskus merasa Tuhan memanggilnya untuk menghidupi kata-kata Yesus secara harfiah. Ia memutuskan untuk tidak membawa uang, tidak memakai alas kaki, dan tidak memiliki harta benda. Baginya, sebelum ia mewartakan Injil kepada dunia, ia harus terlebih dahulu menghidupinya dalam kemiskinan yang murni.

Keputusan radikal pada hari itu segera membuahkan hasil. Fransiskus mulai berkeliling Asisi untuk berkhotbah dengan cara yang belum pernah dilihat orang sebelumnya. Ketulusan dan kemiskinannya yang ekstrim justru memancarkan kebahagiaan sejati yang menarik hati banyak orang. Beberapa terinspirasi dan meninggalkan segala milik mereka untuk mengikuti cara hidup baru ini.

Apa yang dimulai di sebuah kapel kecil pada 24 Februari itu, pada akhirnya tumbuh menjadi sebuah gerakan besar yang mengubah wajah Gereja dan dunia melalui semangat kemiskinan, perdamaian, dan persaudaraan semesta.

Berjumpa Sultan Al-Kamil

Pada akhir musim semi 1212, Fransiskus sempat mencoba berlayar menuju Yerusalem, namun badai besar menghantam kapalnya di pesisir Dalmatia, memaksanya kembali ke Italia. Meski rencana pertamanya gagal, Tuhan menyediakan tempat lain bagi kontemplasinya. Pada 8 Mei 1213, Fransiskus menerima hadiah berupa Gunung La Verna dari Pangeran Orlando di Chiusi, sebuah tempat terpencil yang kelak menjadi tempat favoritnya untuk melakukan matiraga dan doa.

Ambisi Fransiskus untuk membawa damai membawanya ke Mesir pada tahun 1219 di tengah berkecamuknya Perang Salib Kelima. Bersama Saudara Illuminatus, ia tiba di Damietta saat pasukan Salib sedang mengepung kota tersebut. Di tengah gencatan senjata pasca serangan berdarah pada Agustus 1219, Fransiskus mengambil langkah berisiko tinggi: menyeberangi garis musuh untuk menemui Sultan Mesir, Al-Kamil.

Sultan Al-Kamil, keponakan dari Salahuddin Al-Ayyubi, menerima Fransiskus dengan sangat ramah. Meskipun tidak ada catatan resmi dari pihak Arab mengenai pertemuan ini, tradisi Fransiskan mencatat bahwa Fransiskus berkhotbah dengan berani di hadapan Sultan. Pertemuan ini menjadi simbol dialog antaragama yang luar biasa; alih-alih dieksekusi sebagai musuh, Fransiskus justru pulang tanpa cedera. Beberapa sumber bahkan menyebutkan bahwa Sultan memberikan izin khusus bagi Fransiskus untuk mengunjungi dan berkhotbah di tempat-tempat suci di Yerusalem.

Dampak dari keberanian Fransiskus menemui Sultan memiliki pengaruh jangka panjang yang luar biasa bagi Gereja Katolik. Sejak misi tersebut, kehadiran para Fransiskan di Tanah Suci nyaris tidak terputus sejak tahun 1217. Semangat dialog yang dibangun Fransiskus membuka jalan bagi ordonya untuk menerima konsesi dari Sultan Mameluk pada tahun 1333 guna menjaga tempat-tempat suci di Yerusalem dan Betlehem.

Hingga hari ini, tugas mulia tersebut diteruskan oleh Custodia Terrae Sanctae (Penjaga Tanah Suci) di bawah naungan Ordo Fransiskan. Kisah ini menjadi pengingat abadi bahwa kekuatan iman dan ketulusan hati mampu menembus tembok permusuhan yang paling tebal sekalipun, mengubah konflik menjadi ruang untuk saling menghargai.

Dari Keluarga Kaya

Lahir dengan nama Giovanni di Pietro di Bernardone pada sekitar tahun 1181, St. Fransiskus dari Asisi adalah putra pedagang kaya di Italia. Namun, panggilan spiritual yang radikal mengubah jalan hidupnya secara total. Terinspirasi untuk menghidupi kemiskinan kristiani yang murni, ia meninggalkan segala kemewahan, menjadi seorang pengemis, dan berkeliling sebagai pengkhotbah jalanan. Inilah awal mula berdirinya Ordo Fransiskan yang kelak mengubah wajah dunia.

Dalam ikonografi Katolik, Fransiskus sering digambarkan mengenakan jubah cokelat kasar dengan tali yang melingkar di pinggangnya. Tali tersebut memiliki tiga simpul yang melambangkan tiga nasihat injili: kemiskinan, kesucian, dan ketaatan. Kedekatannya dengan penderitaan Kristus memuncak pada tahun 1224 di tengah sebuah ekstase religius. Menurut tradisi, ia menerima stigmata—luka-luka ajaib pada tangan dan kakinya yang menyerupai luka penyaliban Yesus—menjadikannya salah satu mistikus paling dihormati dalam sejarah Gereja.

Jejak Fransiskus tidak hanya tertinggal dalam doa, tetapi juga dalam tradisi yang kita hidupi hingga kini. Pada tahun 1223, ia menggagas pembuatan Kandang Natal hidup pertama di Greccio untuk merayakan kelahiran Yesus. Selain itu, semangat damainya melampaui batas agama; pada tahun 1219, di tengah berkecamuknya Perang Salib Kelima, ia berani berangkat ke Mesir demi menemui Sultan Al-Kamil untuk mengupayakan perdamaian dan mewartakan kasih.

Fransiskus dikenal karena devosinya yang luar biasa kepada Ekaristi dan kecintaannya pada seluruh ciptaan Tuhan. Baginya, hewan dan alam adalah saudara yang harus dikasihi. Itulah sebabnya, setiap tanggal 4 Oktober, Gereja merayakan pesta namanya dengan upacara pemberkatan hewan, yang kini juga diperingati sebagai Hari Hewan Sedunia.

Bersama Santa Katarina dari Siena, Santo Fransiskus ditetapkan sebagai Santo Pelindung Italia. Namanya juga diabadikan sebagai nama kota San Francisco di Amerika Serikat. Ia meninggal pada 3 Oktober 1226 dan dikanonisasi oleh Paus Gregorius IX hanya dua tahun setelah wafatnya. Hingga kini, semangatnya dalam mencintai kemiskinan dan alam semesta tetap menjadi inspirasi abadi bagi kemanusiaan.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini