Selasa, Februari 24, 2026

Paus Leo XIV Mengingatkan Para Imam untuk Menggunakan Otak, dan Bukan AI, untuk Menyusun Homili

VATIKAN – Dalam sebuah pertemuan tertutup yang penuh kehangatan, Paus Leo XIV memberikan pesan menohok bagi para imam di Keuskupan Roma. Ia meminta para imam untuk mengandalkan pemikiran mereka sendiri dan doa, alih-alih menggunakan Kecerdasan Buatan (artificial intelligence /AI) saat menyusun homili atau khotbah. Pertemuan tersebut berlangsung pada Kamis 19 Februari 2026 di Aula Paulus VI, Vatikan.

“Gunakan otak kita dan bukan kecerdasan buatan [AI] untuk mempersiapkan khotbah, seperti yang sekarang ia lihat dan dengar terjadi,” kata Paus seperti ditirukan seorang imam yang ikut dalam pertemuan itu.

Pada peertemuan itu, Paus Leo XIV menyampaikan pidato publik bertajuk “Mengobarkan Kembali Api Pelayanan”. Setelahnya, Paus melanjutkan sesi tanya jawab pribadi dengan para imam untuk membahas tantangan nyata di lapangan.

Menanggapi salah satu pertanyaan mengenai efektivitas pelayanan, Paus memberikan catatan khusus mengenai tren penggunaan teknologi di mimbar. Menurut seorang imam yang hadir, Paus mengamati adanya kecenderungan imam yang mulai mengandalkan AI untuk menulis pesan-pesan rohani.

Paus menekankan, bahwa kekuatan sebuah khotbah bukan terletak pada kecanggihan algoritma, melainkan pada kedalaman doa dan kedekatan pribadi dengan Tuhan. Paus mengingatkan para imam agar tidak sekadar menggugurkan kewajiban melalui doa brevir, tetapi benar-benar meluangkan waktu untuk mendengarkan Tuhan.

Selain masalah AI, Paus Leo XIV menjawab empat poin krusial bagi kehidupan imamat saat ini: Pelayanan imam hendaknya menjangkau terutama kaum muda. Paus menegaskan, bahwa kesaksian hidup seorang imam adalah kunci utama. Ia mendorong para imam muda untuk memperluas cakrawala agar bisa merangkul lebih banyak orang melalui semangat komuni (persekutuan).

Untuk mencintai komunitas, seorang imam harus mengenal realitas mereka dengan baik. Selanjutnya, Paus menyoroti fenomena sulitnya sesama imam untuk bersukacita atas keberhasilan rekan sejawatnya. Beliau meminta para imam memberikan contoh persaudaraan yang tulus dan terus memperbarui diri melalui studi yang berkelanjutan.

“Dibutuhkan upaya bersama untuk memahami tantangan umat guna menghadapinya bersama-sama,” pesan Paus.

Terakhir, Paus mendorong kepedulian terhadap Imam Lansia. Ia menanggapi isu kesepian di kalangan imam senior, dan menggarisbawahi pentingnya kerendahan hati dan rasa syukur atas rahmat tahbisan setiap harinya.

Pertemuan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Banyak yang mengapresiasi cara Paus berbicara yang tidak hanya bersifat teologis, tetapi sangat membumi dan menyentuh persoalan praktis sehari-hari.

“Secara pribadi, saya senang. Kami sangat menghargai Paus atas pidato yang sangat, sangat konkret ini,” pungkas salah seorang imam, seperti diberitakan EWTN.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini