Misteri Perang Dunia II: Siapa Pengebom Vatikan pada 1943?

VATIKAN, Pena Katolik — Pada malam 5 November 1943 sekitar pukul 20.00, sebuah pesawat tak dikenal menjatuhkan lima buah bom di atas Kota Vatikan. Empat bom meledak dan merusakkan sejumlah bangunan, sementara satu bom mendarat sangat dekat hingga hampir menghantam Basilika Santo Petrus.

Sebagai wilayah netral, Vatikan sebagian besar luput dari serangan militer selama Perang Dunia II, meskipun Kota Roma menjadi sasaran pemboman sengit oleh pasukan yang bertikai. Peristiwa malam itu menjadi pengecualian yang mengejutkan dunia internasional. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun misteri mengenai pelakunya bertahan selama puluhan tahun hingga sebuah teori kuat terungkap pada 2010.

Vatikan di Bawah Nazi

Saat peristiwa itu terjadi, Roma berada di bawah kendali Republik Sosial Italia — negara boneka Jerman yang dipimpin Benito Mussolini — setelah pendudukan Nazi dua bulan sebelumnya. Johan Ickx, peneliti Perang Dunia II membagikan gambaran situasi Vatikan pada masa sulit tersebut.

Di tengah keterbatasan, Paus Pius XII sempat memerintahkan agar sistem pemanas di bangunan-bangunan Vatikan dimatikan sebagai bentuk solidaritas dengan masyarakat di luar Vatikan. Selain itu, Vatikan juga menjadi tempat perlindungan rahasia bagi banyak pengungsi yang kemudian diberdayakan untuk membantu operasional harian.

Sebelum insiden pengeboman Vatikan terjadi, Paus Pius XII telah bersurat kepada Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt agar Sekutu melindunginya dari kehancuran. Roosevelt membalas surat tersebut pada 16 Juni 1943.

Roosevelt meyakinkan Pau, meskipun tentara Sekutu akan mengebom Roma, namun pilot pesawat tempur telah diberitahu posisi Vatikan, dan diperingatkan untuk tidak menjatuhkan bom di sana.

 “Serangan terhadap Italia dibatasi, sejauh memungkinkan secara manusiawi, hanya pada sasaran militer. Jika pesawat Sekutu harus beroperasi di atas Roma, penerbang kami telah diberi informasi lengkap mengenai lokasi Vatikan dan secara khusus diinstruksikan untuk mencegah jatuhnya bom di dalam Kota Vatikan,” begitu jawaban Roosevelt.

Meski demikian, serangan udara tetap melanda Roma, termasuk pemboman dahsyat pada 19 Juli 1943 di distrik San Lorenzo yang menewaskan ribuan warga sipil. Usai serangan tersebut, Paus Pius XII bersama Mgr. Giovanni Montini (yang kelak menjadi Paus Paulus VI) turun langsung ke lokasi untuk membagikan bantuan keuangan kepada para korban.

Malam Penyerangan

Dua bulan kemudian, bom benar-benar jatuh di tanah Vatikan. Ledakan bom seberat 150 kilogram tersebut menghantam area gubernuran (governatorate), laboratorium mosaik, serta kantor-kantor pejabat Kuria Roma. Salah satu ledakan bahkan menghempaskan kaca-kaca jendela belakang Basilika Santo Petrus.

Sekretaris Negara bagian Hubungan Luar Negeri saat itu, Mgr. Domenico Tardini, lolos dari maut karena sedang berjalan di koridor dan belum memasuki ruang kerjanya. Menyikapi serangan tersebut, Paus Pius XII menyampaikan keprihatinannya secara pribadi.:

“Kairo, sebagai pusat keagamaan Islam, justru lebih dihormati daripada Roma. Secara lebih konkret, kita terpukul oleh kenyataan, bahwa tidak lagi ada, saya tidak mengatakan hati nurani Kristiani, tetapi bahkan tingkat minimal dari pemahaman manusiawi dan rasa loyalitas bertindak yang seharusnya cukup untuk membiarkan penerus Santo Petrus berada di sebidang tanah sempit yang masih tersisa ini,” ujar Paus Pius XII.

Pengungkapan Misteri

Vatikan segera menggelar penyelidikan atas insiden tersebut. Kepingan bom yang ditemukan hanya menyisakan tiga huruf terakhir produsen pembuatnya, yakni “lli”. Tim penyelidik sempat membuat daftar produsen senjata yang berakhiran huruf tersebut, namun jumlahnya mencapai puluhan.

Vatikan juga mengajukan pertanyaan resmi kepada Amerika Serikat, Inggris, Italia, dan Jerman. Semua pihak membantah keterlibatan mereka. Di tengah ketidakpastian ini, ketakutan terbesar Vatikan adalah jika pelakunya adalah pihak Jerman yang berpotensi mengambil alih seluruh kompleks dan menawan Paus.

Propaganda perang pun bermunculan di media massa, termasuk klaim koran Italia dengan tajuk lucu: “Stalin thanks Churchill for dropping the bombs in the Vatican”, ‘Stalin berterima kasih kepada Churchill karena menjatuhkan bom di Vatikan’.

Misteri ini baru menemukan titik terang yang masuk akal pada tahun 2010 melalui buku karya penulis Augusto Ferrara berjudul 1943. Bombe sul Vaticano ‘1943. Bom di Vatikan’.

Dalam penelusurannya, Ferrara mengungkap bahwa bom-bom tersebut kemungkinan besar dijatuhkan dari pesawat S.79 milik Republik Sosial Italia yang lepas landas dari pangkalan udara Viterbo, sekitar 50 mil di utara Roma. Serangan tersebut diduga kuat atas perintah Roberto Farinacci, seorang politisi fasis dan penasihat Mussolini.

Saat itu, Farinacci ingin menghancurkan Radio Vatikan. Ia mencurigai stasiun tersebut memancarkan informasi militer kepada pihak musuh. Johan Ickx mengamini penemuan tersebut sebagai “a plausible explanation” ‘penjelasan yang masuk akal’.

Empat bulan pasca insiden tersebut, pada 1 Maret 1944, tembok Vatikan kembali terkena sasaran bom nyasar dari pesawat Inggris. Berbeda dari kejadian pertama, insiden kedua ini menelan korban jiwa, menewaskan seorang pekerja Vatikan serta melukai seorang biarawan Augustinian.

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini