VATIKAN, Pena Katolik — Menandai sepuluh tahun penerbitan ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus, Vatikan resmi meluncurkan sebuah atlas digital baru bertajuk Atlas of Laudato Si’. Inisiatif ini diperkenalkan oleh Laudato Si’ Actions Platform dalam konferensi pers di Kantor Berita Takhta Suci, Roma, 4 November 2026, bersamaan dengan penyampaian laporan tahunan kelima yang mencatat keterlibatan lebih dari 13.600 peserta sejak 2021.
Atlas digital ini dirancang untuk menampilkan komitmen Gereja Katolik global terhadap ekologi integral. Menggunakan basis data dari Leonum Institute di Catholic University of America dan Pontifical University of Saint Thomas Aquinas (Angelicum), platform ini memungkinkan pengguna memetakan inisiatif lingkungan yang dilakukan berbagai keuskupan dan lembaga Katolik, sekaligus mengakses data bencana alam di seluruh dunia.
Dalam acara peluncuran tersebut, Suster Alessandra Smerilli, FMA, Prefek Dikasteri untuk Pembangunan Manusia Berkelanjutan, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan panggilan iman yang mendasar.
“Menjalani panggilan kita sebagai penjaga karya Allah bukanlah hal opsional atau aspek sekunder dari pengalaman Kristiani,” ujar Sr. Smerilli.
Pionir pengumpulan data atlas ini, kartografer asal Amerika Serikat Molly Burhans, menekankan pentingnya pemetaan digital dalam aksi nyata pemeliharaan bumi. Menurutnya, peta adalah sarana terbaik untuk memahami kondisi lingkungan secara mendalam.
“Jika Anda ingin mengambil aksi lingkungan, Anda harus memahami lingkungan tersebut lebih dulu,” tutur Burhans. Ia juga mengingatkan bahwa menjaga bumi adalah amanat kitab suci. “Kita di sini untuk merawat taman ciptaan. Itu tertulis dalam Kitab Kejadian. Jika ada yang menganggap kepedulian lingkungan sebagai agenda politik, saya rasa mereka perlu membaca ulang Alkitab.”
Melalui peluncuran peta digital ini, Vatikan berharap gerakan ekologi integral dapat terus mengakar dan menginspirasi tindakan nyata komunitas Katolik secara global.
