Home BERITA TERKINI Menghidupi Panggilan hingga Akhir Peziarahan, Selamat Jalan P. Gabriele Luigi Antonelli, CP

Menghidupi Panggilan hingga Akhir Peziarahan, Selamat Jalan P. Gabriele Luigi Antonelli, CP

0

PenaKatolik.Com | Perjalanan seorang misionaris tidak selalu dimulai dari keinginan untuk memilih tempat pelayanan. Terkadang, panggilan justru menemukan maknanya ketika seseorang bersedia diutus ke tempat yang membutuhkan kehadirannya. Itulah salah satu kisah hidup P. Gabriele Luigi Antonelli, CP, imam Kongregasi Pasionis yang telah mengabdikan kurang lebih 50 tahun hidupnya untuk pelayanan di Indonesia.

P. Gabriele mengembuskan napas terakhir di RS Sint Carolus, Jakarta, pada Rabu, 4 November 2026, dalam usia 81 tahun. Dia lahir pada 25 September 1945. Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang misionaris yang telah melewati berbagai medan pelayanan, terutama di Kalimantan Barat.

Berdasarkan sumber dari SHARING KEHIDUPAN || P. Gabriele Luigi Antonelli, CP || Go Passio || Kongregasi Pasionis || 2024 – di kanal Youtube kehadirannya di Indonesia bermula setelah ditahbiskan menjadi imam pada 1972. Ketika pimpinan kongregasi membuka kesempatan bagi para imam untuk menggantikan misionaris yang sebelumnya berkarya di Kalimantan Barat, dia menyatakan kesediaannya.

Dia bukan orang pertama yang datang. Sebelumnya, Pastor Cornelius dan Pastor Marco telah lebih dahulu menjalankan misi tersebut. P. Gabriele kemudian menyusul pada 25 Januari 1973, setelah menjalani persiapan dan belajar bahasa Indonesia selama tiga bulan di Yogyakarta.

Dalam refleksinya mengenai perjalanan panggilan, dia pernah mengungkapkan bahwa kedatangannya ke Indonesia bukan terutama karena pilihan pribadi terhadap suatu negara.

“Bagi setiap orang, entah Pasionis atau bukan, di mana diperlukan, di situlah kita bersedia. Ya sudahlah, Tuhan, inilah aku,” demikian inti kesaksian yang dia sampaikan mengenai keputusan berangkat ke Indonesia.

Pendidikan dan pelayanan di pedalaman Kalimantan Barat

Setibanya di Kalimantan Barat, P. Gabriele memulai karya pastoral di Paroki Pakiti. Namun, perjalanan pelayanannya kemudian membawanya kepada tanggung jawab yang lebih luas, khususnya dalam bidang pendidikan.

Dia dipercaya menangani yayasan pendidikan yang mengelola berbagai sekolah. Meskipun sempat merasa belum siap karena baru datang dan kemampuan bahasa Indonesianya masih terbatas, dia akhirnya menerima tugas tersebut.

Keputusan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pelayanannya. Selama kurang lebih 12 tahun, dia terlibat dalam pengembangan pendidikan masyarakat Dayak. Berbagai lembaga pendidikan didirikan dan dikelola, mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Pendidikan Guru, hingga Sekolah Guru Agama Katolik. Dalam karya tersebut, sekitar 56 tenaga pengajar turut terlibat.

Baginya, pendidikan merupakan kebutuhan mendasar masyarakat pedalaman. Anak-anak harus memperoleh kesempatan bersekolah dan setidaknya mampu membaca serta menulis.

Selain pendidikan formal, dia juga mengembangkan pembinaan bagi para guru agama Katolik melalui rumah retret yang diusulkannya kepada Prefek Apostolik pada akhir 1975. Tempat tersebut kemudian menjadi sarana pembinaan dan persiapan tenaga pengajar agama Katolik selama kurang lebih delapan tahun.

Karya pastoralnya juga mencakup pelayanan di wilayah dengan sekitar 152 stasi. Bersama imam lainnya, dia menjalankan kunjungan pastoral secara bergantian agar umat di wilayah yang luas tetap memperoleh pelayanan.

Membina Pasionis yang memahami identitasnya

Pada akhir 1987, P. Gabriele menerima tugas baru di Malang untuk menangani pendidikan para Frater. Selama kurang lebih sembilan tahun, dia menjalankan tugas pembinaan sekaligus mengajar filsafat dan filsafat Abad Pertengahan di STFT Widya Sasana.

Dalam masa itu, dia turut mengusahakan pembangunan biara baru di Bandulan, Malang, karena tempat pembinaan sebelumnya semakin tidak memadai seiring bertambahnya jumlah Frater.

Namun, perhatian utamanya tidak berhenti pada fasilitas pendidikan. Dia memiliki pandangan tegas mengenai identitas hidup seorang Pasionis.

“Pasionis adalah Pasionis,” demikian prinsip yang berulang kali dia tekankan.

Menurutnya, seorang imam Pasionis tidak cukup hanya menjalankan pelayanan pastoral seperti imam pada umumnya. Di mana pun ditempatkan, dia harus tetap menghadirkan spiritualitas dan karisma Kongregasi Pasionis.

Karena itu, rumah retret menjadi salah satu sarana yang terus dia perjuangkan. Rumah retret di Sekadau, Malang, dan Nilo merupakan bagian dari upayanya memperkenalkan spiritualitas kongregasi kepada para Frater dan umat.

Dia juga mendorong keterlibatan para Frater dalam pengelolaan kehidupan komunitas. Mereka diajak berkebun, memelihara ternak, serta mengusahakan kebutuhan pangan sendiri. Bahkan, komunitas pernah memelihara sekitar 60–70 ekor babi.

Melalui kegiatan tersebut, dia ingin membentuk para calon imam yang tidak hanya berkembang secara intelektual dan spiritual, tetapi juga memiliki kemandirian, tanggung jawab, serta semangat kerja.

Memperkenalkan spiritualitas kepada kaum awam

Perhatian P. Gabriele terhadap spiritualitas Pasionis tidak hanya diarahkan kepada anggota kongregasi. Sekitar 1992, dia mulai memperluas pewartaan kepada kaum awam melalui kegiatan retret.

Salah satu kegiatan awal berlangsung di Pacet dengan diikuti sekitar 42 peserta. Untuk mempersiapkannya, dia mengumpulkan dan menyusun berbagai bahan mengenai teologi Gereja serta misteri sengsara Yesus Kristus.

Dari kegiatan tersebut, tumbuh kelompok Sahabat Yesus Tersalib yang kemudian berkembang menjadi Awam Pasionis.

Baginya, kaum awam juga perlu mengenal dan menghidupi kekayaan spiritualitas yang menjadi karunia Kongregasi Pasionis. Namun, dia menyayangkan apabila kelompok-kelompok yang sudah terbentuk tidak mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan.

Dia pernah mencontohkan perkembangan kelompok Awam Pasionis di Nilo, Maumere, yang dapat bertumbuh melalui pendampingan yang konsisten.

FOTO- Perbaharuan gambar dari sumber – SHARING KEHIDUPAN || P. Gabriele Luigi Antonelli, CP || Go Passio || Kongregasi Pasionis || 2024 – Youtube. 

Kain Kafan Turin sebagai sarana pewartaan

Salah satu karya yang turut mewarnai perjalanan pewartaannya adalah pameran Kain Kafan Turin. Ketertarikannya terhadap sarana ini bermula ketika mencari bahan pembinaan untuk para Frater di Roma sekitar 1992.

Dalam pencarian tersebut, dia dipertemukan dengan Pastor Matteo, seorang imam yang telah mempelajari Kain Kafan Turin selama sekitar 50 tahun. Dari pertemuan itu, dia memperoleh berbagai buku, slide, dan dokumentasi yang kemudian digunakan sebagai bahan pembinaan.

Ketika berada di Jakarta, dia menawarkan gagasan penyelenggaraan pameran kepada kelompok Sahabat Yesus Tersalib. Pameran pertama berlangsung di Gereja Santa Theresia dan mendapat perhatian besar dari umat. Selanjutnya, kegiatan tersebut berkembang ke berbagai wilayah di Indonesia.

Bagi P. Gabriele, pameran itu bukan sekadar memperlihatkan sebuah benda bersejarah. Lebih dari itu, pameran menjadi sarana untuk mengajak umat merenungkan penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus.

Dia masih mengingat komentar pengunjung yang sering muncul setelah mengikuti pameran: “Kami baru tahu sengsara Yesus seperti ini.”

Komentar sederhana tersebut baginya memperlihatkan bahwa umat membutuhkan sarana untuk mengenal misteri sengsara Kristus secara lebih mendalam.

Warisan bagi generasi Pasionis

Dalam refleksi terakhirnya mengenai perjalanan hidup dan pelayanan, P. Gabriele menyampaikan kegelisahan sekaligus harapan terhadap masa depan Kongregasi Pasionis.

Dia mengingatkan bahwa spiritualitas sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus harus menjadi pusat seluruh karya pelayanan. Teknologi dan kecerdasan buatan mungkin akan menggantikan banyak pekerjaan manusia, tetapi pewartaan inti iman Kristiani tetap menjadi tanggung jawab Gereja.

“Kalau bukan kita, siapa lagi?” menjadi pertanyaan yang menggambarkan semangat pewartaan yang terus dia dorong.

Dia juga meninggalkan banyak bahan pembinaan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Jumlahnya, menurut pengakuannya, mencapai sekitar 20.000 halaman ketikan. Bahan-bahan tersebut diharapkan dapat terus diolah menjadi buku, materi retret, dokumentasi, dan sarana pewartaan bagi generasi berikutnya.

Pada akhir refleksinya, dia mengajak para Pasionis muda untuk tidak takut menghadapi tantangan. Setiap karya pasti memiliki kesulitan, tetapi kesulitan bukan alasan untuk berhenti.

Kini, P. Gabriele telah menyelesaikan peziarahan hidupnya. Berbagai karya yang pernah dirintisnya menjadi bagian dari sejarah pelayanan Kongregasi Pasionis di Indonesia. Namun, pesan yang dia tinggalkan tidak berhenti sebagai kenangan: spiritualitas Pasionis harus terus dihidupi dan dibagikan kepada dunia.

Jenazah P. Gabriele disemayamkan di Rumah Duka Ukrida, Lantai 6, Ruang Charis 2. Rangkaian penghormatan dan ibadah meliputi Misa Requiem pada 5 dan 6 November 2026, Misa Tutup Peti pada 7 November 2026, serta Ibadat Pelepasan dan pemberangkatan pada 8 November 2026. Dia selanjutnya dimakamkan di Ensang, Sekadau, Kalimantan Barat.

Selamat jalan, P. Gabriele Luigi Antonelli, CP. Semoga segala benih pelayanan yang telah ditaburkan terus bertumbuh, dan semoga engkau beristirahat dalam damai bersama Bapa di Surga. (Samuel)

Exit mobile version

polestoto

lahirtoto

warung403

warung403 login

situs warung403

lahirtoto

LAHIRTOTO

LAHIRTOTO LOGIN

lahirtoto

imgstock

Hosting Gambar

Kasino Online dan Fenomena Perubahan Pola Konsumsi Hiburan di Era Internet

Mengapa Informasi tentang Risiko Kasino Digital Sering Terabaikan Pengguna?

Di Balik Sistem Bonus Kasino Online, Ada Mekanisme yang Perlu Dipahami

Kasino Digital dan Tantangan Menjaga Kendali Diri di Tengah Akses Tanpa Batas

Bagaimana Tampilan Visual Kasino Online Membentuk Persepsi terhadap Permainan?

Ketika Teknologi Kasino Digital Berkembang Lebih Cepat dari Pemahaman Pengguna

Kasino Online dalam Sorotan Perubahan Kebiasaan Transaksi Masyarakat Digital

Mengenali Bias Psikologis yang Memengaruhi Penilaian Peluang di Kasino Online

Kasino Berbasis Internet dan Pentingnya Memahami Jejak Aktivitas Digital

Mengapa Edukasi Risiko Finansial Semakin Relevan dalam Fenomena Kasino Online?