LONG ISLAND, Pena Katolik – Ia kehilangan satu lengannya saat berusia dua tahun, mengajar matematika selama sekitar 70 tahun, dan kini memulai pagi dengan berbicara kepada Tuhan. Bagi Sr. Francis Piscatella OP, menjalani hidup yang baik adalah pekerjaan yang tak pernah selesai.
Setiap pagi, sebelum hari bergerak terlalu jauh, Sr. Francis Piscatella mengambil waktu untuk berbicara dengan Tuhan.
Di usianya yang ke-113, kebiasaan itu tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya. Tak ada rumusan rumit dalam doanya. Tak ada pula pengakuan bahwa dirinya telah mencapai kesempurnaan. Yang ada adalah percakapan sederhana—dan kesediaan untuk menjalani hari yang dipercayakan kepadanya.
“Saya masih punya pekerjaan yang harus dilakukan,” katanya.
Kalimat itu terdengar luar biasa dari seseorang yang telah melewati lebih dari satu abad kehidupan. Namun, bagi Sr. Francis, pekerjaan itu bukan soal seberapa banyak hal yang masih bisa ia kerjakan. Ia percaya bahwa selama hidup masih dianugerahkan, selalu ada kesempatan untuk belajar dan melakukan kebaikan.
“Berikan saja kepadanya. Ia akan melakukannya.”
Kelahiran
Sr. Francis lahir dengan nama Ursulina Piscatella pada 1913. Ketika berusia dua tahun, ia kehilangan satu lengannya. Sejak kecil, ia harus berhadapan dengan keterbatasan yang bisa saja membuat orang lain meragukan kemampuannya.
Namun ibunya tidak membiarkan sang anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ia tak mampu. Di rumah, ada ungkapan yang selalu dikenangnya: “Berikan saja kepadanya. Ia akan melakukannya.”
Kalimat itu bukan sekadar dorongan. Di dalamnya ada kepercayaan seorang ibu kepada anaknya—kepercayaan yang perlahan menjadi keberanian.
Mungkin sejak itulah Sr. Francis belajar bahwa keterbatasan tidak harus menjadi akhir sebuah cerita. Ada hal-hal yang tidak dapat kita ubah, tetapi kita masih dapat memilih cara untuk menjalaninya.
Pada usia 17 tahun, Ursulina bergabung dengan para suster. Ia kemudian dikenal sebagai Sr. Francis Piscatella, seorang biarawati Dominikan yang mengabdikan sekitar 70 tahun hidupnya untuk mengajar matematika di sekolah menengah dan perguruan tinggi.
Matematika mungkin bukan pelajaran yang disukai semua murid. Sr. Mary Anna Euring, salah seorang mantan muridnya, mengaku tidak menyukai matematika. Namun, ia mengenang Sr. Francis sebagai guru yang mampu membuat pelajaran itu terasa menyenangkan.
Sr. Francis memahami bahwa mengajar bukan hanya soal menguasai rumus. Seorang guru juga perlu menyukai apa yang diajarkan, mempersiapkan diri, dan hadir bagi murid-muridnya.
Pengabdian panjang itu menunjukkan bagaimana kesetiaan sering tumbuh melalui hal-hal yang tampak biasa: datang ke kelas, menyiapkan pelajaran, mendengarkan pertanyaan, dan mencoba lagi ketika seorang murid belum mengerti.
Tanpa Harus Sempurna
“Sungguh, kita belajar setiap hari,” ujar Sr. Francis. “Tuhan tidak mengharapkan kita sempurna. Ia ingin kita menjalani hidup yang baik.”
Pesan itu terdengar sederhana, tetapi dekat dengan pengalaman banyak orang. Kita kerap merasa harus selalu berhasil, selalu kuat, atau selalu tahu jawaban yang benar. Sr. Francis mengingatkan bahwa hidup yang baik tidak mensyaratkan kesempurnaan.
Yang diperlukan adalah kesediaan untuk terus belajar: belajar mengasihi, memperbaiki kesalahan, menerima keterbatasan, dan melakukan kebaikan yang masih dapat kita lakukan hari ini.
Ia pun tidak menyebut dirinya orang kudus. “Saya bukan orang kudus,” katanya dengan terus terang. Kerendahan hati itu justru membuat pesannya terasa semakin nyata. Ia tidak berbicara dari hidup tanpa kesulitan, melainkan dari perjalanan panjang yang dijalani dengan tekun.
Kini, Sr. Francis tinggal bersama komunitas Suster Dominikan di Amityville, New York. Ia menghabiskan waktu dalam suasana doa, termasuk di kapel kecil yang dahulu ia rawat dengan penuh perhatian.
Pada ulang tahunnya yang ke-113, ia menerima berkat dari Paus Leo XIV. Ia juga disebut sebagai biarawati tertua di dunia dan orang tertua di Negara Bagian New York.
Namun, yang paling menonjol dari kisahnya bukan hanya panjang usia atau perhatian yang diterimanya. Ada sesuatu yang lebih hening: seorang perempuan yang, setiap pagi, masih mengarahkan hati kepada Tuhan dan bertanya bagaimana menjalani hidup dengan baik.
Pesannya bagi orang lain pun tetap sederhana: “Jalani saja hidup yang baik.”
Mungkin itulah pekerjaan yang ia maksud. Bukan pekerjaan yang selesai dalam satu hari, melainkan panggilan yang diperbarui setiap pagi—dalam doa, dalam kesetiaan, dan dalam kebaikan kecil yang dapat dilakukan.
Di usia berapa pun, kita masih bisa bertanya: kebaikan apa yang dipercayakan Tuhan kepada saya hari ini?



