Komunitas Bruder MTB dalam Menanggapi Krisis Ekologi

PenaKatolik.Com | Dalam memahami ekologi atau lingkungan hidup yang menopang kehidupan, penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan alam, melakukan konservasi lingkungan, mengelola sumber daya alam, serta memprediksi dampak perubahan lingkungan terhadap keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

Kerusakan lingkungan hidup atau krisis ekologi disebabkan, antara lain, oleh ulah manusia. Salah satunya adalah alih fungsi lahan secara masif, terutama hutan, untuk perkebunan berskala besar seperti kelapa sawit, pertambangan, dan proyek strategis nasional. Selain itu, terjadi pencemaran industri, termasuk limbah cair, asap smelter, serta emisi kendaraan dan pabrik yang belum memenuhi standar emisi.

Persoalan lainnya adalah pengabaian prinsip Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan perizinan lingkungan. Banyak proyek pembangunan dijalankan tanpa kajian lingkungan yang memadai atau disertai manipulasi data mengenai dampaknya. Bahkan, penolakan masyarakat terhadap proyek yang merusak lingkungan terkadang direspons dengan ancaman hukum atau intimidasi.

Untuk mencegah kerusakan lingkungan hidup dan krisis ekologi, kita memerlukan kepemimpinan ekologis dalam dunia pendidikan dan penghayatan iman. Tanggung jawab para pemimpin, baik pemerintah maupun Gereja, perlu diwujudkan melalui kebijakan pendidikan ekologis.

Pendidikan ekologis tersebut perlu diperkuat melalui pembiasaan penghayatan iman ekologis di berbagai lingkungan kehidupan: keluarga, komunitas biara, sekolah, paroki, serta lembaga dan instansi pemerintah maupun swasta, baik di tingkat nasional maupun global. Dengan demikian, pendidikan dan penghayatan iman ekologis dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebagai insan yang peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan dan harmoni seluruh ciptaan. Dalam semangat itulah, Bruder MTB berusaha mengambil bagian dalam merawat bumi.

Komunitas Bruder MTB diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga dan merawat bumi. Tanggung jawab ini dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, mulai dari memilah sampah, merawat dan memelihara tanaman, menanam pohon, hingga melakukan restorasi lahan. Tindakan-tindakan tersebut berdampak pada keberlangsungan ekosistem dan kualitas hidup.

Merawat Bumi melalui Kehidupan Komunitas

Menghadapi krisis ekologi, salah satu langkah strategis yang telah dan perlu terus dilakukan oleh komunitas-komunitas Bruder MTB, baik di Belanda maupun di Indonesia, adalah membangun lingkungan hidup yang hijau dan asri.

Salah satu ciri khas komunitas Bruder MTB adalah keberadaan beragam tanaman dan pepohonan di lingkungan biara. Kehadirannya tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga menciptakan suasana rindang dan sejuk bagi setiap orang yang datang berkunjung.

Para pengunjung kerap menyampaikan kesan bahwa lingkungan biara Bruder MTB dipenuhi beragam tanaman dan pepohonan yang rindang serta menyejukkan. Hal ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian komunitas terhadap lingkungan hidup.

Di samping merawat lingkungan biara, kita juga perlu membangun dan mengembangkan komunitas ekologi yang integral dan menghidupkan. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kongregasi Bruder MTB memiliki program kerja JPIC Bruder MTB yang memberikan perhatian pada pendidikan ekologis sejak dini.

Pendidikan ini bertumpu pada tiga pilar, yakni pendidikan tentang lingkungan, pendidikan di atau dari lingkungan, dan pendidikan untuk lingkungan. Dalam penerapannya, pendidikan ekologi mengacu pada pendekatan ekopedagogi.

Sekolah-sekolah, asrama, dan kelompok binaan Bruder MTB perlu memperoleh pendidikan tersebut demi masa depan. Terlebih dalam situasi sekarang, ketika bumi sebagai rumah bersama sedang mengalami penderitaan akibat krisis multidimensi, pendidikan ekologi melalui pendekatan ekopedagogi menjadi semakin mendesak.

JPIC Bruder MTB berupaya mengambil bagian dalam menjawab persoalan tersebut. Untuk mendukung pembelajaran ekologis, JPIC Bruder MTB menyiapkan tiga tempat pembelajaran, yakni Selat Panjang, Kuala Dua, dan Merauke.

Pembelajaran berbasis lingkungan hidup dan kearifan lokal menjadi salah satu cara untuk menanggapi krisis yang terjadi. Bruder MTB mengembangkan berbagai kegiatan, seperti mengolah sampah menjadi pupuk organik, menanam sayuran, buah-buahan, dan pohon, serta memelihara ikan, ayam, kambing, dan hewan lainnya.

Kita juga belajar membuat eco enzyme sebagai salah satu upaya memanfaatkan bahan organik dan mendukung pengelolaan lingkungan. Pembelajaran ini menjadi bagian dari upaya menanggapi persoalan pencemaran dan dampak aktivitas manusia terhadap alam.

Selain itu, kita belajar dari adat dan budaya untuk membangun relasi yang harmonis antarmanusia, dengan Tuhan Sang Pencipta, serta dengan alam semesta beserta seluruh isinya.

Kita belajar untuk berpihak pada kehidupan, bukan kematian; membangun solidaritas dan belas kasih; serta peduli terhadap penderitaan bumi sebagai rumah bersama. Kepedulian ekologis tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata dan keberpihakan terhadap kehidupan.

Dalam bidang ekopastoral, JPIC Bruder MTB melalui Br. Joni merespons kebutuhan anak-anak dengan menghadirkan pondok atau bevak pintar. Kegiatan di dalamnya meliputi literasi, pembinaan iman, dan berbagai latihan keterampilan.

Respons tersebut pada akhirnya diarahkan untuk membangun gaya hidup yang cukup, tidak berlebihan, ugahari, dan penuh belas kasih demi menumbuhkan persaudaraan semesta. Gaya hidup ini juga tercermin dalam pola konsumsi makanan. Kita diajak untuk tidak bergantung pada makanan instan atau cepat saji, melainkan lebih mengutamakan makanan alami dan organik yang bersahabat dengan tubuh serta lingkungan.

Membangun Ekologi Integral

Komunitas Bruder MTB menjadi bagian dari upaya mewujudkan ekologi integral, yakni menyatukan kesadaran akan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari, relasi dengan setiap orang yang dijumpai beserta budayanya, dan hubungan dengan alam demi keberlanjutan kehidupan.

Krisis ekologi tidak dapat dilepaskan dari pandangan antroposentrisme yang menempatkan alam semata-mata sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pandangan ini perlu dikritisi agar manusia tidak hanya memandang alam berdasarkan manfaat yang dapat diperoleh darinya, tetapi juga menyadari tanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya.

Karena itu, kita perlu merancang dan mengembangkan model pembelajaran ekologi melalui pendekatan ekopedagogi secara bersama-sama. Pendidikan ekologis tidak cukup hanya menyampaikan pengetahuan tentang lingkungan. Pendidikan tersebut perlu membentuk kesadaran, sikap, dan kebiasaan yang menghormati kehidupan serta menjaga keberlanjutan bumi.

Walaupun gerakan yang kita lakukan mungkin kecil dan sederhana, tindakan yang dijalankan dengan hati tulus dan ikhlas tetap dapat memberikan sumbangan berarti. Melalui pendidikan, pembiasaan hidup sederhana, perawatan lingkungan, dan penghayatan iman ekologis, komunitas Bruder MTB berupaya mengambil bagian dalam meretas krisis multidimensi dan membangun masa depan yang lebih baik.

Br. Filipus Neri, MTB tinggal di komunitas Putussibau.

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini