Bacaan I – Flp. 1:1-11
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur Tanggapan (Mzm 111:1-2.3-4.5-6)
Refrain: Besarlah perbuatan-perbuatan Tuhan.
- Aku bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan di tengah jemaat. Besarlah perbuatan-perbuatan Tuhan, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.
- Agung dan semaraklah pekerjaan-Nya, keadilan-Nya tetap untuk selama-lamanya. Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan peringatan; Tuhan itu pengasih dan penyayang.
- Kepada orang takwa diberikan-Nya rezeki, selama-lamanya Ia ingat akan perjanjian-Nya. Kekuatan perbuatan-Nya Ia tujukan kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka para bangsa.
Bait Pengantar Injil
Refrain: Alleluya.
Ayat: Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan; Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.
Bacaan Injil – Luk. 14:1-6.
Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.
Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.
Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.
Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
***
Belas Kasih di Atas Formalitas
Kehidupan beragama sering kali diuji bukan saat kita berada di dalam tempat ibadah, melainkan ketika kita dihadapkan pada penderitaan sesama di kehidupan sehari-hari. Dalam Injil Lukas, Yesus diundang makan di rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi pada hari Sabat. Di sana, orang-orang mengamati-Nya dengan cermat, mencari celah untuk menyalahkan-Nya.
Di hadapan Yesus, ada seorang yang menderita sakit busung air. Kondisi ini membuat Yesus mengajukan pertanyaan mendasar kepada para ahli Taurat dan orang Farisi: “Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka semua diam. Diamnya mereka menunjukkan ketakutan akan aturan hukum, ketimbang kepedulian terhadap kemanusiaan.
Tanpa ragu, Yesus memegang orang sakit itu, menyembuhkannya, dan membiarkannya pergi. Ia kemudian menegur kepalsuan sikap mereka dengan analogi sederhana: jika anak atau lembu mereka jatuh ke dalam sumur pada hari Sabat, tentu mereka akan segera menariknya keluar.
Tindakan Yesus menegaskan satu kebenaran penting: keselamatan dan belas kasih manusia tidak boleh ditunda demi formalitas aturan. Hari Sabat diciptakan Allah sebagai hari perhentian dan pengudusan, dan cara terbaik menguduskan hari Tuhan adalah dengan menghadirkan kasih dan pemulihan bagi mereka yang menderita.
Sering kali kita terjebak dalam sikap seperti orang Farisi—lebih sibuk menilai kebenaran tata cara daripada mengulurkan tangan membantu sesama. Kita merasa sudah menjadi umat Kristen yang baik hanya karena setia mengikut ritual, namun hati kita dingin terhadap penderitaan orang lain.
Melalui peristiwa ini, Yesus mengajak kita untuk memiliki “mata yang melihat” dan “hati yang tergerak”. Jangan biarkan aturan, gengsi, atau kesibukan menutup pintu belas kasih kita. Menjadi murid Kristus berarti berani mendahulukan kasih di atas segalanya.
Doa Penutup
Ya Tuhan Yesus Kristus, Sang Sumber Belas Kasih dan Pemulihan, kami bersyukur atas ajaran-Mu yang membebaskan kami dari kesalehan yang kaku. Ampunilah kami bila sering kali kami lebih mementingkan aturan dan penilaian manusia ketimbang mengulurkan tangan bagi sesama yang membutuhkan. Berilah kami hati yang peka dan penuh belas kasih, agar kami berani membawa kesembuhan, penghiburan, dan kedamaian bagi sesama di sekitar kami. Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.
***
Santo Marcellus, Martir
Perwira Romawi yang bertugas di Tanger, Afrika ini konon menjadi Kristen dan dipermandikan langsung oleh Santo Petrus Rasul. Ia menolak mengikuti upacara korban untuk memuja kaisar dan dewa-dewa Romawi. Dengan tegas ia berkata: “Aku hanya mengabdi kepada Raja Abadi, Tuhanku Yesus Kristus”. Akibatnya ia langsung ditangkap dan dihukum mati pada tahun 298.



