Teruslah Berjalan,“Go Ahead,” Pesan Father Bien

PenaKatolik.Com | Hampir setiap hari, Father Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, (Father Bein) menyampaikan kabar baik melalui pesan WhatsApp. Tidak selalu dengan kata-kata panjang atau nasihat yang berat. Terkadang, gambar yang sudah dieditnya dan melalui sapaan sederhana seperti gambar atau foto hal ini mengingatkan bahwa dirinya melupakan seseorang.

Lima puluh tahun hidup membiara mengajarkan Father Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, bahwa kesetiaan bukanlah perjalanan tanpa kegagalan. Di tengah kesepian, kekecewaan, dan keterbatasan, dia menemukan alasan untuk terus melangkah yakni kerahiman Allah.

Cara sederhana diatas itu terasa pula ketika saya menemuinya di perpustakaan yang sekaligus menjadi ruang rapat komunitas Biara Santo Dominikus Pontianak, Selasa, 6 Oktober 2026. Sebelum percakapan dimulai, masih hangat dalam ingatan tersaji secangkir kopi dan beberapa potong kue. Father Bien, demikian dia biasa disapa, menyambut tamunya dengan perhatian kecil yang tidak membutuhkan banyak penjelasan.

Redaksi Pena Katolik datang untuk berbicara tentang lima puluh tahun profesi religiusnya. Namun, sebelum pertanyaan pertama diajukan, dia telah memperlihatkan sesuatu tentang cara menghadirkan diri bagi orang lain dengan menyambut, berbagi, dan membuat perjumpaan yang terasa hangat.

Percakapan kemudian bergerak jauh melampaui peringatan setengah abad hidup membiara. Pada usia 73 tahun, Father Bien berbicara tentang panggilan, kegagalan, kesepian, kekecewaan, dan kemanusiaan. Dari semua pengalaman itu, satu keyakinan terus muncul yaitu Allah berjalan bersamanya.

Foto Father Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, berada di Biara Santo Dominikus Pontianak, saat di wawancarai. (2026).

Panggilan yang Terus Dijawab

Sebelum memasuki Ordo Dominikan dan menjalani masa novisiat, Father Bien berhadapan dengan sebuah pertanyaan dasar: “What do you seek?” Apa yang kamu cari?

Jawaban yang lazim diberikan saat itu ialah “God’s mercy and yours”—kerahiman Allah dan kerahimanmu.

Lima puluh tahun kemudian, pertanyaan itu tidak kehilangan maknanya. Bagi Father Bien, panggilan religius bukan sekadar keputusan seseorang untuk menjalani kehidupan membiara. Panggilan berawal dari Allah dan diterima melalui komunitas yang bersedia menyambut seseorang dalam perjalanan hidupnya.

“A vocation is a calling from God. It is an expression of God’s mercy, as well as the mercy of the community that accepted me,” katanya.

Panggilan baginya bukan hanya tentang apa yang dipilih manusia, tetapi juga tentang bagaimana dia menanggapi Allah yang memanggilnya. Penerimaan yang telah diberikan menjadi tanggung jawab untuk menjalani kehidupan sesuai dengan panggilan tersebut.

“Because vocation comes from God, my task is to respond faithfully to that calling in my daily life,” ujarnya.

Di sini, kesetiaan tidak berhenti pada hari ketika seseorang mengucapkan kaul, hal itu berjalan justru setelah janji diucapkan alias perjalanan sesungguhnya dimulai. Panggilan perlu dijawab kembali dalam keputusan-keputusan sehari-hari, termasuk ketika semangat berkurang, keadaan berubah, dan kehidupan tidak berjalan sesuai dengan harapan.

Bagi seorang Dominikan, Father Bien menjelaskan bahwa kesetiaan itu diwujudkan melalui empat pilar kehidupan diantara itu yakni doa, studi, kehidupan komunitas, dan pewartaan.

“As Dominicans, we are called to remain faithful to prayer, faithful to study, faithful to community life, and faithful to sharing the message of salvation,” jelasnya.

Keempat pilar tersebut bukan sekadar rutinitas, misalnya doa memelihara relasi dengan Allah, studi memperdalam pemahaman, kehidupan komunitas mengajarkan persaudaraan, sedangkan pewartaan membawa pesan keselamatan kepada orang lain. Semuanya menjadi cara konkret untuk terus menghidupi panggilan.

Menurut Father Bien ‘Kesetiaan’ bukan berarti mempertahankan keputusan masa lalu tanpa perubahan. Kesetiaan berarti terus menemukan makna panggilan dan mewujudkannya dalam keadaan yang terus berubah.

Menjadi Manusia di Balik Kaul

Lima puluh tahun hidup membiara tidak membuat Father Bien mengaku sebagai manusia yang selalu berhasil. Dia justru terbuka tentang pengalaman yang menyertai perjalanannya yaitu ada kegembiraan dan kesedihan, keberhasilan dan kegagalan, kesepian dan kekecewaan.

Ketika ditanya apa yang dipelajarinya tentang kemanusiaan setelah menjalani hidup religius selama puluhan tahun, dia menjawab dengan kalimat yang lugas.

“My humanness was not curtailed or removed by my vows or my being a Dominican,” katanya.

Kaul tidak menghapus kemanusiaan seseorang. Menjadi religius tidak berarti kehilangan kemampuan untuk merasa sedih, kecewa, kesepian, atau mengalami kegagalan. Semua itu tetap menjadi bagian dari perjalanan manusia.

Bahkan, Father Bien melihat pengalaman-pengalaman tersebut sebagai bagian yang membentuk dirinya hari ini.

“All the failures, loneliness, joys, and disappointments I encountered during my fifty years of Dominican life have contributed to who I am today,” ungkapnya.

Pengakuan ini memperlihatkan bahwa kematangan tidak selalu tumbuh dari keberhasilan. Ada pelajaran yang baru dapat dipahami ketika seseorang menghadapi kesalahan, mengakui keterbatasan, dan berusaha memperbaiki apa yang belum berjalan sebagaimana mestinya.

Father Bien tidak menutupi kenyataan bahwa kegagalan bisa terjadi, tetapi dia percaya bahwa kesalahan dapat diperbaiki apabila seseorang bertindak dengan benar dan memiliki niat untuk kebaikan bersama.

“Failures, as long as you do it right and with the intention for the good of the community, it will be corrected,” katanya.

Baginya, mengakui kegagalan bukan berarti menyangkal panggilan. Sebaliknya, kejujuran terhadap keterbatasan diri membuka kesempatan untuk belajar dan bertumbuh.

Pengalaman juga mengubah cara dia menghadapi kehidupan. Pada usia 73 tahun, dia menyadari bahwa kondisi fisiknya tidak lagi sama seperti ketika muda. Kemampuan yang dahulu dimiliki mungkin berkurang, sehingga cara menjalani komitmen pun perlu disesuaikan.

Namun, dia tidak menganggap kehidupan religius menjadi mudah hanya karena telah dijalani selama lima puluh tahun.

“I would not say that it has become easy, because I am still human and continue to face challenges,” katanya.

Kesetiaan tidak menuntut seseorang berpura-pura bahwa dirinya tidak memiliki keterbatasan. Kesetiaan menuntut kesediaan untuk terus belajar, mendisiplinkan diri, dan menjalani tanggung jawab sebaik mungkin di tengah perubahan.

Dominican Apostolic School, Jaro, Iloilo City, Philippines.Father Bien menggunakan Jubah Hitam-Putih (Dokumentasi Pribadi)

Kesepian Tidak Harus Menjadi Akhir

Dalam perjalanan misinya, Father Bien pernah bertugas di Pulau Camiguin yang terpencil dan di wilayah pegunungan Mindanao. Jauh dari tempat yang dikenal, dia mengalami kesepian yang tidak selalu mudah dihadapi.

Dia mengingat suatu masa ketika dirinya menangis dan mengasihani diri sendiri.

“There was self-pity,” katanya.

Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa kesepian bukan sekadar perkara jarak atau keadaan tempat tinggal. Cara seseorang menghadapi perasaan tersebut juga berpengaruh terhadap bagaimana dia menjalani hari-harinya.

“Loneliness depends on how you take it,” jelasnya.

Father Bien tidak menyangkal bahwa kesepian merupakan pengalaman manusia yang nyata tetapi dia mengingatkan bahwa seseorang perlu berhati-hati ketika kesepian membuatnya semakin menarik diri dan terperangkap dalam perasaan mengasihani diri sendiri.

Dalam konteks kehidupan misioner, kehadiran komunitas dan orang-orang yang berjalan bersama menjadi penting.

“You have the community. You have the people. You have the companions to go with. Don’t keep yourself alone by yourself,” pesannya.

Seorang misionaris tidak dipanggil untuk menjalani pelayanan seorang diri justru disana ada komunitas yang dapat menjadi tempat berbagi, ada rekan yang bisa mendampingi, dan ada masyarakat yang menjadi bagian dari perutusannya.

“A lonely person is a person who allows himself to be alone,” katanya.

Pernyataan itu merupakan refleksi pribadi Father Bien tentang bahaya membiarkan kesepian mendorong seseorang semakin menjauh dari orang lain. Bukan berarti setiap orang yang mengalami kesepian sengaja memilih keadaan tersebut, melainkan bahwa membuka diri terhadap pertolongan dan kebersamaan dapat menjadi langkah penting untuk menghadapinya.

Dalam pengalaman Father Bien, komunitas bukan hanya tempat tinggal bersama. Komunitas menjadi ruang untuk belajar menerima kehadiran orang lain sekaligus menyadari bahwa seseorang tidak harus menanggung seluruh pergulatannya sendirian.

Dominican Apostolic School, Jaro, Iloilo City, Philippines (1971-1972). Father Bien di urutan ketiga dari kanan ke bawah (Dokumentasi Pribadi)

Misi yang Bertumbuh, Kekecewaan yang Tersisa

Di antara berbagai pengalaman yang dikenangnya, perkembangan misi Dominikan di Indonesia menjadi sumber kegembiraan tersendiri. Baginya, kehadiran dan pertumbuhan komunitas Dominikan Indonesia merupakan bagian dari mimpi yang dahulu ikut dirintis.

“Looking back on my fifty years in the mission, I am very happy, especially now here in Indonesia, because this was my dream,” katanya.

Dia mengenang keterlibatannya bersama pemimpin provinsi dan sejumlah rekan dalam merintis misi di Indonesia. Pada 2005, mereka mulai menjajaki lokasi untuk mengembangkan kehadiran dan karya Dominikan.

Dua puluh tahun kemudian, dia menyaksikan perkembangan komunitas yang membahagiakan. Dalam wawancara, dia menyebut telah ada dua belas anggota Dominikan Indonesia, konven pertama, dan prior pertama di lokasi yang disebutnya sebagai Pudjana.

“After twenty years, we have twelve Dominican Indonesians. We have our first convent, we have our first prior here,” ujarnya.

Dia juga menyebut tiga karya pelayanan penting yakni formasi seminari, pengelolaan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, serta pelayanan di Paroki Santa Perawan Maria Reinha Rosario Supadio.

Bagi Father Bien, pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah misi dapat berkembang melampaui tahap perintisan. Komunitas bertumbuh, anggota lokal mengambil bagian, dan karya pelayanan semakin nyata.

Bagi Father Bien bahwa keberhasilan tidak berarti seluruh kebutuhan dapat dipenuhi, di balik program yang direncanakan, selalu ada keterbatasan sumber daya, kebutuhan finansial, dan perlunya orang-orang yang bersedia bekerja bersama.

“A disappointment because I cannot do everything. I cannot provide everything,” katanya.

Father Bien tidak berusaha menggambarkan misi sebagai perjalanan yang selalu berhasil. Dia mengakui bahwa kekecewaan adalah bagian dari kenyataan pelayanan.

“I have disappointments. I will not deny or else my mission is not successful without disappointments,” ungkapnya.

Yang menarik, dia tidak memandang kekecewaan semata-mata sebagai penghalang. Pengalaman tersebut justru membuatnya semakin menyadari bahwa kemampuan manusia terbatas dan hasil pelayanan tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.

“Disappointments make me stronger and make me more dependent on the mercy of God,” katanya.

Di titik ini, kerahiman Allah bukan sekadar ungkapan yang diucapkan dalam doa. Kerahiman menjadi sumber kekuatan ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat diselesaikannya sendiri.

Allah yang Berjalan Bersamanya

Ketika percakapan kembali pada hubungan antara perjalanan hidup dan iman, Father Bien mengungkapkan keyakinannya dengan tegas.

“Indeed, I said and I’m very convinced that God is with me. That God walks with me,” katanya.

Lima puluh tahun hidup religius tidak membuatnya terbebas dari kesulitan. Sebaliknya, pengalaman tersebut semakin meneguhkan keyakinannya bahwa Allah hadir di tengah pergulatan hidup.

“God’s mercy provides me everything that I need in my struggles, in my pilgrimage as a religious and as a human being,” ujarnya.

Baginya, mengenal Allah bukan hanya soal memahami ajaran atau memperdalam pengetahuan. Relasi dengan Allah juga bertumbuh melalui pengalaman konkret yaitu ketika rencana tidak terwujud, ketika kesepian datang, ketika kegagalan perlu diperbaiki, dan ketika manusia menyadari batas kemampuannya.

“Without God, I am nothing. Without the mercy of God, I cannot do anything,” ungkapnya.

Keyakinan itu tidak membuatnya berhenti berusaha, Father Bien menyadari pentingnya kerja sama, perencanaan, dan kesediaan melayani, tetapi dia juga percaya bahwa kasih dan belas kasih Allah memberinya keberanian untuk terus berjalan.

“The presence of God, the love of God, the compassion of God makes me go on, allows me to go on and continue my religious life,” katanya.

Karena itu, lima puluh tahun profesi religius bukanlah garis akhir baginya. Dia berharap tetap dapat melayani selama komunitas masih membutuhkan kehadirannya dan Allah masih memberinya kesempatan untuk berkarya.

“I hope not only until fifty years, but as long as the community needs me, as long as God allows me to work in His vineyard,” ujarnya.

Harapan itu memperlihatkan bahwa panggilan bukan sekadar perjalanan yang telah ditempuh, melainkan kesediaan untuk terus hadir selama masih ada kesempatan untuk melayani.

“Go Ahead.” Teruslah Berjalan

Menjelang akhir pertanyaan sesi itu, Father Bien diajak membayangkan dirinya yang masih muda pada 1976, ketika pertama kali mengikrarkan kaul. Jika dapat berbicara kepada dirinya sendiri saat itu, apa yang akan dia sampaikan?

Jawabannya sederhana, tetapi menyimpan pengalaman panjang.

“Father Bien, it is not an easy life. It is a challenging life, but it is a fulfilling life.”

Kehidupan membiara bukan jalan tanpa tantangan. Ada keterbatasan, kegagalan, kesepian, dan kekecewaan. Namun, di tengah semua itu, ada kepenuhan makna yang ditemukan melalui pelayanan dan kesediaan untuk menjawab panggilan.

“It will bring you to the vineyard of the Lord, to become His apostle. It will bring you to put into action what St. Dominic dreamed about: the salvation of souls,” katanya.

Bagi Father Bien, perjalanan yang sudah berlalu itu memberinya kesempatan mengambil bagian dalam cita-cita Santo Dominikus untuk mewartakan Injil dan melayani keselamatan jiwa-jiwa. Karenanya, dia akan mengajak dirinya yang muda untuk bersyukur atas kesempatan mengikrarkan kaul pertama dan terus melanjutkan panggilan.

Sebab rasa syukur atas perjalanan yang telah ditempuh bukan berarti tugasnya telah selesai.

“After fifty years, you are going to renew your profession and go ahead with your journey. The journey is not yet done,” ungkapnya.

Dia lalu menghubungkan refleksinya dengan gambaran Santo Paulus tentang perjalanan iman sebagai perlombaan yang harus dijalani dengan tekun.

“Following St. Paul, maybe you have done the race, but not yet finished.”

Mungkin perlombaan itu telah ditempuh, tetapi belum selesai.

Seperti rangkuman dari seluruh percakapan kami, bahwa lima puluh tahun adalah perjalanan panjang yang patut disyukuri, bukan alasan untuk berhenti melangkah dia menggarisbawahi bahwa selama masih ada kesempatan untuk melayani, panggilan tetap perlu dijawab.

Penulis kembali mengingat kopi dan beberapa potong kue yang telah disiapkan sebelum wawancara dimulai, di tengah refleksi tentang panggilan dan kerahiman Allah, perhatian sederhana itu terasa selaras dengan cara Father Bien memaknai pelayanan adalah hadir bagi orang lain melalui hal-hal yang dapat dilakukan hari ini.

Kabar baik tidak selalu datang dalam bentuk khotbah panjang atau kata-kata besar. Kadang-kadang, kabar baik hadir sebagai sapaan, kesediaan mendengarkan, atau secangkir kopi yang disiapkan untuk seorang tamu.

Mungkin di situlah kesetiaan menemukan bentuknya yang paling dekat dengan kehidupan, (bukan) dalam klaim bahwa seseorang telah menjalani semuanya dengan sempurna, melainkan dalam kesediaan untuk terus belajar, memperbaiki diri, menerima kerahiman, dan melanjutkan perjalanan.

Pada usia 73 tahun, setelah lima puluh tahun hidup membiara, Father Bien tidak menempatkan masa lalu sebagai akhir dari panggilannya. Dia masih memandang ke depan, kepada hari-hari yang belum dijalani dan pelayanan yang masih mungkin diteruskan.

Pesan terakhirnya singkat: “Go ahead.”

Teruslah berjalan.

*(Samuel — Wawancara di Biara Santo Dominikus Pontianak, 6 Oktober 2026.)

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini