Refleksi Kritis Kebakaran Hutan di Papua: Anak “Membakar Ibunya” Hidup-Hidup

Oleh: Lewi Pabika

Mengikuti dan membaca relaitas Papua di bulan Oktober 2026 secara online maupun offline, semua orang membagikan berita yang sama. Beritanya adalah kebakaran hutan diseluruh wilaya Papua. Wilaya Papua memiliki 6 (enam) Provinsi, yaitu Provinsi Papua, Papua Barat Daya, Papua Selatan, Papua Tengah dan Papua Pengunungan. Hampir seluruh wilaya provinsi memiliki polemic tentang kebakaran hutan sepanjang tahun 2026. Ratusan hingga ribuan hektar hutan terbakar habis.

Menurut data yang dimuat oleh tirto.id pada 16 Oktober 2026 adalah Provinsi Papua sebanyak 544,61 hektar tanah di Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi dan Yapen; provinsi Papua Barat Daya terbakar seluas 588,35 hektar tanah di Kabupaten Sorong, Sorong Selatan, Rajaampat, dan Maybrat; Papua Pengunungan tercatat 1.681,43 hektar tanah yaitu kab. Jayawijaya, Lani Jaya, Tolikara, Yahukimo, Mambramo Tengah dan Pengunungan Bintang; Papua Barat mencakup 2.486,39 hektar tanah yaitu kab. Fak-Fak, Manokwari, Telukwondama dan Kaimana; Papua Tengah terbakar dengan luasnya, 2.519,88 hektar tanah yaitu kab. Paniai, Dogiyai,             Puncak Jaya, Intan Jaya dan Nabire; kemudian, Papua Selatan adalah 25.838,53 yang diataranya kab. Merauke, Mappi, Asmat dan Boven Digoel, (https://tirto.id, 16 Oktober 2026).  Berdasarkan data diatas, jumlah keseluruhan hutan yang terbakar habis di seluruh wilaya Papua adalah 33.659,19 hektar tanah.

Papua Menurut Orang Papua

Paradoks yang harus kita akui adalah secara umum kita menyebutkan tanah sebagai ibu pertiwi. Sebab, pada hakekatnya, kehidupan dan kematian manusia berpusat pada alam. Konsep ini bagi orang Papua dapat memahami tanah sebagai “seorang mama” yang memiliki rahim. Rahim adalah hakekat terdalam dari seorang ibu/mama, (Bukega, 2021: 29). Konsep filosofis sebagai seorang mama  merupakan lahir dari kondisi sosio-ekologis orang Papua berdasarkan pengalaman hidup dalam aspek ekonomis-biologis (pusat kehidupan orang Papua), aspek sosial (interaksi dan aktivitas manusia Papua dengan alam), aspek antropologis (pemahaman yang berkaitan dengan budaya), aspek psikologis (pengalaman spiritual dan emosional dengan alam dan koneksi dengan alam sebagai sumber inspirasi), politis (kekuasaan terhadap tanah, hutan, laut dan seterusnya) dan aspek historis (peradaban manusia Papua).

Secara singkatnya, paham ‘tanah’ sebagai mama bukan sekedar konsep tanah ‘ibu pertiwi’ tetapi bagi orang Papua adalah manusia ‘seorang mama’ yang memiliki rahim, juga yang memiliki nilai, martabat dan hakekatnya sebagai manusia Papua. Dengan demikian, tanah Papua adalah seorang mama yang melahirkan, menbesarkan dan menghidupkan serta memberikan susu dan madu bagi anak-anak Papua, (Bukega, 2021:xi).  

Anak Membakar Ibunya Hidup-Hidup

            Tanah Papua disebut oleh Orang Papua adalah mama. Mama yang memiliiki Rahim, mama yang menjadi pusat dan urat nadi kehidupan, mama yang memberikan susu dan madu, mama yang menyediakan tempat bereksistensi dan mama yang eksis ada untuk anaknya. Ketika tanah Papua disebut mama, berarti anak-anaknya adalah manusia Papua. Keduanya (anak dan mama) memiliki relasi intim yang tak terpisahkan. Keintiman adalah pada aspek tugas dan tangungjawab; sebagai seorang mama menyediakan kebutuhan hidup (makanan, air, udara, adat dan identitas) bagi anaknya, dan sebagai seorang anak hadir untuk menjaga dan merawat mamanya dari luka dan sakit.

            Berdasarkan fakta hari ini sedang terjadi kebakaran hutan Papua. Datanya mencapai 33.659,19 hektar tanah “hutan” terbakar habis. Pertanyaan adalah kalau orang Papua sebut ekologi Papua sebagai mama, apakah kita pantas disebut anak yang baik?  Bagi penulis adalah kita Orang Asli Papua (OAP) bukanlah anak yang baik! mengapa?

Pertama, kebakaran hutan bukan bencana, melaingkan pembunuhan paksa. Jika hutan terbakar karena petir berarti itu adalah bencana. Tetapi hutan dibakar oleh tangan anaknya sendiri, itu adalah kejahatan. Maka, kita tidak bisa lagi mengatakan kita korban. Saat kita membakar mama “hutan Papua”, kita menjadi algojo bagi mama. Kitab Suci memiliki gambaran yang sama; “Aku membesarkan anak, tapi mereka memberontak melawan Aku”, (bdk. Yes.1:2).

Dan Kedua, anak terjadi ‘mati rasa’ dalam dirinya. Mati rasa artinya anak lupa mama yang melahirkan, menyediakan susu dan madu, air-udara segar dan perlengkapan hidup. Ia menganggap seorang mama tidak penting dan tidak terpengaruh dalam hidupnya. Sehingga yang terjadi adalah tubuh mama  dibakar hidup-hidup.

Dengan sengaja membakar tanah-hutan Papua yang kita sebut mama. Kita sadar bahwa ibu masih hidup, masih bernafas, masih memberi hidup, dan masih menjawab kebutuhan kita, meskipun sebagian tubuhnya dikerok oleh kepentingan para capital yang haus akan tubuh mama. Tetapi karena  moralitas kita orang asli Papua yang hancur sehingga membakar mama  dengan tangan kita sendiri. Sehingga akibatnya adalah bukanlah mama yang terbakar habis hingga mati, tetapi kitalah yang perlahan-lahan akan mati dan habis.

Artikel sebelum

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini