PenaKatolik.Com | Memiliki banyak pengetahuan tidak selalu membuat seseorang semakin bijaksana. Di tengah kemudahan memperoleh informasi pada era digital, setiap orang diajak untuk tetap rendah hati, membuka hati terhadap kebenaran, dan menyadari bahwa dirinya masih membutuhkan Allah.
Pesan tersebut disampaikan Bruder Gerardus, MTB, dalam refleksi rohani bertema “Tersembunyi bagi Orang Bijak dan Pandai” berdasarkan Injil Lukas 10:21, yang dikirimkannya melalui via WhatApps ke redaksi, 3 Oktober 2026.
Dalam sabda tersebut, Yesus bersyukur kepada Bapa karena misteri Kerajaan Allah disembunyikan dari orang bijak dan pandai, tetapi dinyatakan kepada orang kecil.
Bruder Gerardus menjelaskan, perkataan Yesus bukanlah penolakan terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Sebaliknya, Yesus mengingatkan bahwa pengetahuan dapat menjadi penghalang untuk mengenal Allah apabila disertai kesombongan dan sikap merasa diri sudah mengetahui segalanya.
Misteri Kerajaan Allah, menurutnya, tidak hanya dapat dipahami melalui kecerdasan dan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan keterbukaan hati untuk menerima kehadiran serta karya keselamatan Allah.
Orang yang merasa dirinya paling tahu dapat menutup diri terhadap kebenaran. Sebaliknya, orang yang menyadari keterbatasannya akan lebih mudah mendengarkan, belajar, percaya, bertobat, dan membiarkan Tuhan mengubah hidupnya.
Bruder Gerardus juga menegaskan bahwa sebutan orang kecil tidak semata-mata merujuk pada orang miskin, tidak berpendidikan, lemah, atau tidak memiliki kedudukan. Lebih dari itu, menjadi kecil di hadapan Allah merupakan sikap batin yang ditandai oleh kesederhanaan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk dibimbing oleh Tuhan.
Yesus sendiri menunjukkan kedekatan dengan anak-anak, orang miskin, orang-orang sederhana, serta para pendosa yang mau bertobat. Mereka datang kepada-Nya dengan menyadari keterbatasan dan kebutuhan akan pertolongan Allah.
Dalam refleksinya, Bruder Gerardus menghubungkan pesan Injil tersebut dengan kehidupan masyarakat masa kini yang semakin mudah mengakses informasi melalui teknologi digital.
Dengan hanya menggunakan telepon genggam, seseorang dapat memperoleh berbagai pengetahuan tentang agama, kehidupan, sesama, bahkan tentang Tuhan. Namun, banyaknya informasi yang dimiliki belum tentu sejalan dengan kedalaman iman dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, dia mengajak umat untuk memeriksa diri melalui sebuah pertanyaan reflektif: “Apakah semakin bijak dan pandai membuat kita semakin rendah hati, terbuka, dan membutuhkan-mengandalkan Tuhan dalam hidup?”
Menurut Bruder Gerardus, mengenal Allah tidak cukup hanya dengan memiliki banyak pengetahuan tentang-Nya. Relasi dengan Allah perlu diwujudkan melalui kesediaan mendengarkan sabda-Nya, memeriksa hati, bertobat, mengasihi sesama, dan mengandalkan penyelenggaraan-Nya.
Kebijaksanaan sejati, lanjutnya, semestinya membawa seseorang kepada kerendahan hati, bukan membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain. Pengetahuan seharusnya menuntun manusia kepada kasih, bukan kesombongan; kepada pertobatan, bukan penghakiman; serta kepada kepercayaan kepada Allah, bukan ketergantungan berlebihan pada kekuatan diri sendiri.
Dia juga mengingatkan bahwa Tuhan dapat menyampaikan kebijaksanaan melalui orang-orang yang kerap tidak diperhitungkan, nasihat sederhana, teguran seorang sahabat, maupun berbagai pengalaman sehari-hari yang mengundang seseorang untuk berubah.
Melalui refleksi ini, Bruder Gerardus mengajak umat untuk terus belajar tanpa merasa paling tahu, terbuka terhadap kritik, serta berani mengakui kesalahan dan keterbatasan diri.
Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, semakin besar pula kerendahan hati yang perlu bertumbuh. Sebab, pada akhirnya, mengenal Allah bukan hanya tentang seberapa banyak seseorang mengetahui tentang Tuhan, melainkan juga tentang seberapa terbuka hatinya untuk menerima kasih, mengikuti kehendak-Nya, dan menghadirkan kasih tersebut dalam kehidupan bersama.
Sebagai penutup Br. Gerardus, MTB menyampaikan Pace e Bene, Salve. *Samuel – Pena Katolik.



