Kasih yang Ditinggalkan Tak Pernah Sia-Sia

PenaKatolik.Com | Nyala lilin perlahan menerangi ruang doa. Dalam keheningan, doa-doa dipanjatkan, bukan hanya untuk mengenang seorang santo, tetapi juga untuk merenungkan perjalanan hidup manusia yang suatu hari akan sampai pada akhirnya. Apa yang tersisa ketika seseorang meninggalkan dunia?

Bagi keluarga Fransiskan, jawabannya bukan semata-mata nama yang dikenang, melainkan kasih, kebaikan, dan damai yang pernah dihadirkan.

Suasana reflektif itu mewarnai Malam Transitus Santo Fransiskus dari Assisi di Komunitas Suster Misi Fransiskanes Santo Antonius (SMFA), Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Pesta Santo Fransiskus dari Assisi yang berpuncak pada Perayaan Ekaristi, Minggu, 4 Oktober 2026.

Dalam suasana hening dan penuh doa, para suster, saudara-saudari, serta umat berkumpul untuk mengenang wafat Santo Fransiskus.

Cahaya lilin menjadi simbol Kristus Sang Terang, sementara doa dan keheningan mengajak setiap orang merefleksikan kesetiaan Fransiskus dalam mengikuti Kristus hingga akhir hayatnya.

Malam Transitus tidak hanya mengarahkan perhatian pada kematian, tetapi juga pada cara manusia menjalani kehidupan. Waktu yang dimiliki setiap orang terbatas, tetapi kebaikan yang dilakukan dengan tulus dapat meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan sesama.

Teladan Fransiskus mengajak umat bertanya kepada diri sendiri, sudahkah hidup kita menjadi berkat bagi orang lain? Sudahkah kita membawa kedamaian di tengah pertengkaran, memberikan perhatian kepada mereka yang tersisih, dan merawat ciptaan yang menjadi rumah bersama?

Dokumentasi arsip dari Saudari Fransiskan SMFA Komunitas Nanga Pinoh dan Embrio OFS Persaudaraan Lokal St. Kontradus Pontianak pada Transitus dan Perayaan Pesta Santo Fransiskus Assisi. (2026).

Merayakan Iman dan Persaudaraan

Refleksi tersebut berlanjut dalam Perayaan Ekaristi Pesta Santo Fransiskus dari Assisi pada Minggu, 4 Oktober 2026. Ekaristi dipimpin oleh RD. Sabinus Amir dan dihadiri para suster SMFA, suster Ursulin, suster Alma, serta saudara-saudari Emrio Ordo Fransiskan Sekular (OFS) Melawi dari persaudaraan lokal Santo Kontradus Pontianak.

Perayaan berlangsung dalam suasana syukur dan sukacita. Kehadiran para suster dan embrio OFS menjadi tanda kebersamaan dalam menghidupi spiritualitas Fransiskan yang berakar pada kesetiaan kepada Kristus, kesederhanaan, dan persaudaraan universal.

Santo Fransiskus dikenal sebagai pribadi yang memilih hidup sederhana, merendahkan hati, mengasihi sesama, mencintai seluruh ciptaan, dan mengupayakan perdamaian. Nilai-nilai tersebut tetap relevan di tengah kehidupan masa kini, ketika kepentingan pribadi dan persaingan sering kali membuat manusia lupa akan pentingnya hubungan dengan sesama.

Mengikuti Fransiskus berarti belajar melihat orang lain bukan sebagai saingan, melainkan sebagai saudara. Semangat itu juga menuntun manusia untuk tidak memandang alam semata-mata sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan, tetapi sebagai bagian dari ciptaan yang harus dirawat dengan penuh tanggung jawab.

Dokumentasi arsip dari Saudari Fransiskan SMFA Komunitas Nanga Pinoh dan Embrio OFS Persaudaraan Lokal St. Kontradus Pontianak pada Transitus dan Perayaan Pesta Santo Fransiskus Assisi. (2026).

Persaudaraan yang Tidak Berhenti pada Perayaan

Setelah Perayaan Ekaristi, para suster dan saudara-saudari emrio OFS Melawi mengabadikan kebersamaan dalam suasana penuh kegembiraan. Momen tersebut menjadi bagian dari sukacita perayaan sekaligus mempererat persaudaraan di antara mereka.

Namun, makna persaudaraan tidak berakhir ketika perayaan selesai. Semangat Fransiskus justru diuji dalam kehidupan sehari-hari: ketika seseorang bersedia mendengarkan orang lain, mengampuni kesalahan, membantu mereka yang membutuhkan, dan menghormati perbedaan.

Begitu pula dengan perdamaian. Damai bukan sekadar kata yang diucapkan dalam doa, melainkan pilihan untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian dan tidak membiarkan ego menguasai hubungan antarmanusia.

Rangkaian Malam Transitus dan Perayaan Ekaristi di Komunitas SMFA Nanga Pinoh menjadi pengingat bahwa spiritualitas Fransiskan bukan hanya warisan masa lalu. Spiritualitas itu merupakan panggilan yang terus hidup dan menuntut perwujudan nyata.

Pada akhirnya, setiap orang akan meninggalkan dunia ini. Namun, selama kehidupan dijalani dengan kasih, kebaikan, dan kepedulian, kehadirannya dapat terus memberi arti bagi sesama.

Semangat itulah yang hendak terus dihidupi: menjadi saudara bagi semua dan pembawa damai di tengah dunia.

Santo Fransiskus dari Assisi, doakanlah kami.

Pace e Bene — Damai dan Kebaikan. *|S|Sumber: Sr. Domisia, SMFA.

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini