Terkadang, ketika berdoa, kita meminta tanda dari Tuhan untuk mengetahui apakah doa kita telah dijawab. Kita mengharapkan tanda yang membantu kita mengambil keputusan atau memberi keberanian untuk melangkah. Meminta tanda bukanlah sesuatu yang salah. Namun, kadang kita terlalu bergantung padanya. Kita lupa bahwa tanda bukanlah tujuan, melainkan petunjuk untuk mengenali arah yang perlu kita tempuh.
Kita menginginkan tanda karena tanda membuat sesuatu lebih mudah dipahami. Namun, ketika terlalu bergantung pada tanda, kita bisa melupakan Tuhan yang sesungguhnya membimbing kita. Kita terus menunggu tanda berikutnya, hingga ragu untuk percaya kepada-Nya dan melangkah dalam iman.
Dalam Injil hari ini, orang-orang meminta tanda kepada Yesus, padahal mereka sudah menyaksikan karya-Nya dan mendengarkan ajaran-Nya. Mereka belum mengenali bahwa Allah telah hadir di tengah mereka. Yesus mengingatkan bahwa yang mereka perlukan adalah hati yang terbuka untuk mengenali dan percaya kepada-Nya.
Terkadang, kita pun demikian. Kita terus meminta Tuhan menunjukkan apa yang harus kita lakukan, padahal mungkin Ia sudah menunjukkan jalan melalui sabda-Nya, orang-orang di sekitar kita, dan berbagai peristiwa dalam hidup. Karena terlalu sibuk menunggu tanda yang kita inginkan, kita melewatkan bimbingan yang sesungguhnya sudah Ia berikan.
Tanda dapat membantu perjalanan kita. Namun, iman perlu berakar pada kepercayaan kepada Tuhan. Yesus sendirilah yang kita percayai dan ikuti.
Hari ini, marilah kita belajar mengenali kehadiran Tuhan dan memperhatikan karya-Nya dalam hidup kita. Mungkin jawaban yang kita nantikan sudah ada di hadapan kita. Kita hanya membutuhkan mata iman untuk melihatnya dan keberanian untuk menanggapinya.
Tuhan, bukalah hati kami agar mampu mengenali kehadiran dan bimbingan-Mu dalam hidup kami. Bantulah kami agar tidak hanya bergantung pada tanda, tetapi sungguh percaya kepada-Mu dan berani melangkah ke mana pun Engkau menuntun kami. Amin. (Rm. EL, OP)



