JAKARTA, Pena Katolik — Perayaan 50 tahun gerakan Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) Indonesia diperingati dengan penuh rasa syukur dalam acara Golden Jubilee 2026 yang berlangsung di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (10/10/2026). Puncak perayaan yang mengusung tema “Roh Kudus, Api Evangelisasi” ini dihadiri sekitar 12.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Momen ini menjadi pijakan bagi Orang Muda Katolik (OMK) untuk menguatkan iman, memperbarui semangat pelayanan sosial, serta mendorong Gereja agar semakin terbuka terhadap kebutuhan masyarakat.
Uskup Sibolga yang dilegasikan menjadi Penasihat Episkopal bagi Badan Pelayanan Nasional Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPN PKK/PKKI) di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Monsinyur Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga, menegaskan pentingnya memberikan ruang yang lebih besar bagi anak muda dalam berbagai bidang pelayanan. Ia mengingatkan bahwa gerakan pelayanan berisiko mengalami kemunduran pada masa mendatang jika regenerasi tidak berjalan secara aktif.
“Orang muda tidak boleh menjadi penonton, tidak boleh. Orang muda harus menjadi pemain, orang muda harus menjadi aktor, penerima karunia-karunia Roh Kudus itu,” kata Monsinyur Fransiskus dalam jumpa pers Golden Jubilee 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (10/10/2026).
Monsinyur Fransiskus menegaskan bahwa keterlibatan anak muda dalam kehidupan beragama tidak hanya berdampak pada pertumbuhan iman, tetapi juga membentuk karakter dan integritas yang bermanfaat dalam kehidupan profesional maupun bermasyarakat.
Pengalaman Iman dan Tantangan Zaman
Moderator BPN PKK Indonesia di KWI, Romo Yustinus Hilman Pujiatmoko, menambahkan bahwa secara global gerakan ini berawal dari pengalaman sekelompok mahasiswa yang mengikuti retret pada tahun 1967. Gerakan tersebut kemudian mulai berkembang ke Indonesia pada tahun 1976 melalui persekutuan doa di Jakarta, hingga kini telah tumbuh pesat menjadi 734 persekutuan doa di berbagai wilayah Nusantara.
Romo Yustinus menyampaikan keprihatinannya terhadap situasi ketika sebagian anak muda rentan menjauh dari kehidupan rohani. Oleh karena itu, Gereja perlu hadir menyediakan ruang agar mereka dapat bertumbuh dalam iman dan membangun hubungan yang kokoh dengan komunitas.
“Kalau sekarang ini situasi bangsa atau mungkin juga situasi masyarakat, anak-anak muda itu sering atau mudah lari ke tempat-tempat yang kurang pas, maka ini menjadi PR bagi kita agar mereka punya pengalaman iman,” ucap Romo Yustinus.
Koordinator Kepemudaan BPN PKK Indonesia, Bonaventura Feduoti Wisanggeni, menceritakan bahwa upaya mengajak orang muda aktif dalam komunitas dan pelayanan membawa dampak luas. Melalui seminar rohani, pendampingan komunitas, hingga kesempatan menjadi pewarta dan pengajar, anak muda belajar mengasah kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan ketekunan.
“Pelayanan di Gereja ternyata menjadi sekolah kehidupan bagi anak muda. Di sana mereka belajar menjadi pribadi yang jujur, berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama,” ujar Bonaventura.
“Nilai-nilai yang mereka pelajari tidak berhenti di lingkungan Gereja, tetapi juga dibawa ke dunia kerja, kehidupan profesional, dan masyarakat,” lanjut Bonaventura.
Kesaksian Generasi Muda
Dampak positif dari pendampingan komunitas dirasakan langsung oleh Angeline Vania (29), anak muda asal Surabaya yang merantau untuk kuliah di Jakarta. Bergabung dengan komunitas mahasiswa Katolik sejak 10 tahun lalu membantunya tetap teguh memegang iman ketika jauh dari keluarga, sekaligus mendewasakan kepribadiannya di tengah arus kehidupan modern yang serba instan akibat teknologi dan media sosial.
”Dan, proses itu yang membuat saya bertahan di dalam pekerjaan saya sekarang, bertahan di dalam kehidupan yang segalanya rasanya serba cepat. Dari sana saya belajar untuk tetap maju berproses mencari sebuah syukur dalam kehidupan dari hal yang kecil tanpa membandingkan dengan orang di luar sana yang jauh lebih hebat,” kata Vania.
Dari pengalaman memimpin berbagai kegiatan retret mahasiswa, Vania belajar menghadapi perbedaan pendapat, menerima kegagalan, dan tekun berproses. Kini, ia aktif sebagai pewarta dan pengajar OMK, sekaligus dipercaya menjabat sebagai sekretaris panitia Golden Jubilee 2026.
Pengalaman serupa dialami Calvin Renato (34) yang telah aktif melayani selama 15 tahun. Bagi perantau di Jakarta ini, komunitas menjadi tempat bernaung dan bertumbuh. Saat memimpin kegiatan BPK Funwalk, Calvin belajar mengelola perbedaan pandangan antargenerasi, mendengarkan masukan, serta menyelesaikan persoalan bersama.
Aksi Nyata
Selain pembinaan rohani, perjalanan 50 tahun PKK Indonesia juga ditandai dengan penguatan aksi sosial bagi masyarakat luas. Koordinator BPN PKK Indonesia, Budi Sutedjo, menjelaskan bahwa bentuk keterlibatan gerakan ini antara lain bakti sosial tahunan dalam rangka Hari Orang Sakit Sedunia, pelayanan pendampingan bagi orang tua yang memiliki anak dengan kondisi autisme, serta pemeriksaan mata dan pembagian kacamata gratis.
“Selain itu, ada pula kegiatan pemeriksaan mata dan pembagian kacamata gratis yang sudah berjalan selama sembilan tahun. Itu juga rutin kami lakukan dan berkembang bukan cuma sekadar komunitas Katolik, sukarelawannya sudah ribuan orang di seluruh Indonesia,” ucap Budi.
Ketua Panitia Golden Jubilee 2026, Okie Imanto, menambahkan bahwa panitia merencanakan subsidi silang bagi umat kurang mampu serta program pendampingan rohani bagi keluarga prasejahtera, penyandang disabilitas, dan orang muda.
Rangkaian acara Golden Jubilee 2026 berlangsung semarak dengan menghadirkan Goju Fair, pujian dan penyembahan, sesi dialog, doa Rosario inkulturasi yang menonjolkan kekayaan budaya Indonesia dan diikuti 12 ribu umat, adorasi, hingga Misa Syukur konselebrasi. Melalui perjalanan setengah abad ini, PKK Indonesia berharap pelayanan Gereja terus melahirkan generasi muda yang berkarakter, mampu memimpin, dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa.
