Minggu, 4 Oktober 2026
Hari Minggu Biasa XXVII
Pesta Santo Fransiskus dari Assisi
Pesta Bunda Maria Ratu Rosario dari Manaoag
Yesaya 5:1–7; Filipi 4:6–9; Matius 21:33–43
“Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
— Filipi 4:6
Ketika membaca ayat ini, pesannya terasa begitu sederhana: “Jangan khawatir.” Indah untuk didengar, tetapi dalam kenyataan, tidak selalu mudah untuk dijalani.
Setiap orang memiliki kekhawatirannya sendiri. Kita mengkhawatirkan keluarga, pekerjaan, masa depan, kesehatan, hubungan dengan sesama, dan begitu banyak hal lainnya. Kita sering menyebutnya kecemasan. Pikiran terasa penuh, hidup menjadi tidak nyaman, dan hati kehilangan ketenangan.
Namun, ketika mengingat siapa yang mengucapkan kata-kata ini, kita mungkin bertanya: Bagaimana Paulus dapat meminta kita untuk tidak khawatir, sementara hidupnya sendiri dipenuhi penderitaan, bahaya, dan ketidakpastian?
Barangkali justru itulah yang membuat kata-katanya begitu kuat. Paulus tidak mengatakan bahwa orang beriman tidak akan pernah merasa cemas. Ia mengajarkan ke mana kita dapat membawa kecemasan itu: kepada Tuhan, melalui doa.
Kita sering berkata, “Kalau khawatir, berdoalah.” Namun, terkadang setelah berdoa pun, hati kita belum langsung merasa damai. Mengapa?
Mungkin karena doa kita terkadang masih sebatas kata-kata dalam pikiran, belum sungguh meresap ke dalam hati.
Berdoa bukan sekadar meminta Tuhan menyingkirkan semua persoalan. Doa adalah saat kita kembali menyadari siapa diri kita dan siapa Tuhan bagi kita.
Kita boleh mengakui bahwa kita takut, cemas, bingung, dan tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita tidak perlu menyangkal perasaan-perasaan itu. Namun, di tengah semuanya, kita diajak untuk mengingat: Aku adalah ciptaan Tuhan, dan hidupku berada dalam tangan-Nya.
Itulah sebabnya, ketika kecemasan datang, kita diajak kembali kepada Sumber kehidupan kita.
Ketika menjauh dari Sumber itu, segala sesuatu dapat terasa lebih berat karena kita mencoba menghadapi hidup hanya dengan kekuatan sendiri. Namun, ketika kembali kepada Tuhan dan mulai memandang hidup dalam terang-Nya, perlahan kita menyadari bahwa kita tidak sendirian.
Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia tetap menyertai kita.
Hari ini, ketika merayakan Santo Fransiskus dari Assisi, kita mengenang seorang yang belajar memandang seluruh ciptaan sebagai saudara dan saudari, karena semuanya berasal dari Tuhan, Sang Sumber kehidupan.
Dan ketika merayakan Bunda Maria Ratu Rosario dari Manaoag, kita diingatkan untuk terus membawa hidup kita kepada Tuhan melalui doa.
Maka, ketika kecemasan dan ketakutan datang, kembalilah kepada Sang Sumber.
Ketika kita merindukan kedamaian, ketenangan, dan kekuatan, ingatlah dari mana semuanya berasal.
“Jangan takut” bukan sekadar kalimat penghiburan. Kata-kata itu menjadi sumber kekuatan ketika kita sungguh percaya bahwa Tuhan menyertai kita.
Kita mungkin tidak tahu apa yang akan dibawa oleh hari esok. Hari ini pun mungkin masih menyimpan banyak kekhawatiran. Namun, satu hal kita tahu: kita tidak berjalan sendirian.
Barangkali inilah yang ingin diajarkan Paulus kepada kita: orang beriman bukanlah orang yang tidak pernah khawatir, melainkan orang yang, bahkan di tengah kekhawatirannya, tahu ke mana dan kepada siapa ia selalu dapat kembali.
Rm. El, OP



