ASISI, Pena Katolik – Setiap tanggal 3 Oktober, pengikut Santo Fransiskus dari Asisi—mulai dari para biarawan, biarawati, hingga awam di seluruh dunia—memperingati perjalanan sang santo dari kematian menuju kehidupan kekal.
Tradisi kenangan komunitas yang dikenal dengan istilah Latin “Transitus” ini terasa kian istimewa tahun ini, bertepatan dengan peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus (1181–1226) sekaligus Tahun Yubileum Santo Fransiskus yang dicanangkan oleh Paus Leo XIV.
Lantas, apa arti penting Transitus bagi umat secara umum, termasuk mereka yang bukan bagian dari keluarga Ordo Fransiskan?
“Saya pikir jawabannya sangat jelas: kita semua kelak akan menghadapi kematian,” ujar Pastor Joseph Mary Elder, Direktur Panggilan dan Komunikasi Fransiskan Kapusin Provinsi St. Conrad di Denver.
Berpulangny St. Fransiskus
Transitus adalah perayaan berpulangnya Santo Fransiskus dari Asisi dari kehidupan duniawi menuju kemuliaan surgawi. Bukan sekadar fakta kematiannya yang dirayakan—karena semua orang pasti mati—melainkan cara Santo Fransiskus menghadapi ajalnya. Ia menyambut kematian dengan cara yang sama seperti ia menjalani hidupnya: dengan keberanian yang radikal dan total.”
“Saat Santo Fransiskus berpulang, tubuhnya didera rasa sakit yang hebat dan penglihatannya hampir buta. Namun, ia tetap menyanyikan ‘Gita Ciptaan’ yang ia tulis tak lama sebelum wafatnya,” kata Pastor Joseph.
Karya sastra spiritual tersebut, yang juga dikenal sebagai ‘Gita Sang Surya’, diciptakan antara tahun 1225 dan 1226. Didalamnya, Fransiskus memuji Tuhan melalui keindahan alam semesta: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama semua makhluk-Mu, terutama Sang Saudara Matahari… Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Bulan dan bintang-bintang.”
“Di tengah kegelapan dan penderitaan menjelang ajal, Fransiskus justru melantunkan pujian atas kemuliaan Tuhan yang terpancar melalui keagungan ciptaan-Nya. Sebuah paradoks yang luar biasa, dan semoga spirit ini juga menjadi teladan bagi kita semua,” tambah Pastor Joseph.
Bagi masyarakat umum yang ingin mengenal sosok serta semangat kepasrahan Santo Fransiskus, kehadiran dalam upacara Transitus—baik secara langsung di paroki-paroki Fransiskan maupun secara livestreaming—menjadi sarana yang tepat. Upacara ini umumnya diisi dengan pembacaan riwayat hidup sang santo oleh para biografer awal, pendarasan tulisan-tulisannya, pembacaan Kitab Suci, nyanyian pujian, serta doa bersama.
Saudari Maut dan Gerbang Kehidupan
Memperingati 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus, Universitas Fransiskan Steubenville di Ohio menggelar konferensi khusus bertajuk “Sister Death – Gate of Life” pada 5–7 November.
Konferensi ini menghimpun para teolog, filsuf, tenaga medis, pakar etika, rohaniwan, dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu. Mereka mengeksplorasi pandangan Fransiskus mengenai kematian dan kehidupan kekal, relevansi teladannya di masa kini, serta bagaimana pemahaman Kristiani tentang kematian menjawab berbagai persoalan mendesak masyarakat modern.
“Konferensi ini digagas sebagai bentuk peringatan 800 tahun peralihan Santo Fransiskus dari kematian menuju kehidupan abadi, yang menjadi inti dari makna Transitus,” tutur James Matenaer, Profesor Sejarah di universitas tersebut. “Ini juga menjadi cara merayakan Tahun Yubileum serta menegaskan betapa pentingnya karisma gerakan Fransiskan dalam iman Katolik.”
Pesan Utama Transitus
Lantas, apa yang diharapkan Santo Fransiskus untuk kita renungkan pada peringatan 800 tahun wafatnya ini? Bagi Pastor Greg, satu ungkapan terkenal dari Santo Fransiskus menjadi perenungan yang sangat relevan. “Aku telah melakukan apa yang menjadi bagianku; semoga Kristus mengajarkan kepadamu apa yang menjadi bagianmu.”
“Saya rasa ini adalah pesan yang sangat penting dari Fransiskus. Di peringatan 800 tahun ini, ia tentu ingin kita bertanya pada diri sendiri: ‘Bagaimana kita fokus menjalankan apa yang menjadi tugas dan panggilan kita dalam semangat Kristus?'” ujar Pastor Greg.
Bagi umat yang masih merasa asing dengan tradisi perayaan kematian ini, Pastor Greg memberikan analogi yang sederhana.
“Jika ada yang bertanya mengapa kami memperingati kematian Santo Fransiskus setiap tahun, jawabannya sama seperti bagaimana kita mengenang anggota keluarga kita yang telah berpulang—seperti kakek atau nenek kita. Kita menceritakan kembali kisah hidup mereka, merayakan warisan nilai yang mereka tinggalkan, dan meneruskannya,” pungkasnya.
Keluarga Besar Fransiskan
Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 650.000 anggota keluarga besar Fransiskan yang tersebar di 110 negara. Hampir 35.000 biarawan (friars) bernaung dalam Ordo Pertama Biarawan Hina (OFM), Ordo Pertama Fransiskan Kapusin (OFMCap), Ordo Pertama Fransiskan Konventual (OFMConv), dan Ordo Ketiga Reguler (TOR).
Pengikut Santa Klara (Biarawati Klaris/Ordo Kedua) berjumlah sekitar 60.000 biarawati kontemplatif. Terdapat pula hampir 155,000 bruder dan suster Ordo Ketiga Reguler. Selain itu, sekitar 400.000 umat awam—baik pria dan wanita, lajang maupun menikah—menjalani hidup sesuai spirit Fransiskan melalui Ordo Fransiskan Awam (OFS).
Selama delapan abad, warisan spiritual dan kisah Santo Fransiskus telah melintasi berbagai belahan dunia. Namun, Pastor Greg Friedman, penulis sekaligus biarawan Fransiskan dari Provinsi Our Lady of Guadalupe, mengingatkan pentingnya memahami fakta sejarah di balik berbagai legenda Santo Fransiskus.
“Kita sering kali memiliki persepsi tersendiri tentang Fransiskus, dan pemahaman itu bisa sangat beragam,” ungkap Pastor Greg. “Kadang tepat, kadang kurang tepat. Terkadang fokus kita terlalu berlebihan pada sosok Fransiskus sehingga melupakan hal yang paling mendasar dari hidupnya: yakni keputusannya untuk mengikut Yesus dan menghidupi Injil secara utuh.”
