METZ, Pena Katolik — Paus Leo XIV menegaskan bahwa masa depan Eropa tidak terletak pada penyeragaman (keseragaman), melainkan pada keharmonisan di tengah perbedaan. Pesan mendalam tersebut disampaikan Paus dalam Misa Kudus di Katedral St. Stefanus, Metz, yang menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian Perjalanan Apostoliknya di Prancis.
Mengacu pada nubuatan Kitab Nabi Yesaya mengenai padang gurun, taman, dan rumah, Bapa Suci menjelaskan tiga tahapan penting dalam membangun keadilan dan perdamaian. Padang gurun menggambarkan kesederhanaan, taman memancarkan keindahan hidup yang sejalan dengan kehendak Tuhan, sedangkan rumah melambangkan perdamaian yang dibangun melalui kerja sama, kasih, serta pengampunan antarmanusia.
Paus menegaskan bahwa memilih jalan pengampunan dan belas kasih di tengah dunia yang dilukai oleh kekerasan dan pembalasan bukanlah sebuah kelemahan. Sebaliknya, hal itu merupakan bentuk kekuatan sejati untuk memutus rantai dendam, sebagaimana sejarah kawasan Moselle dan Metz yang dulu kerap terpecah oleh konflik persaudaraan namun kini menjadi sarana rekonsiliasi.
“Anda sekalian, anak-anak dari tanah yang di masa lalu terkoyak oleh konflik antarsaudara, paham betul bahwa tidak benar orang yang menuntut balas dendam lebih kuat daripada orang yang mengampuni,” ujarnya.
Melalui keindahan arsitektur dan kaca patri Katedral St. Stefanus—yang memiliki koleksi kaca patri Gotik terbesar di Eropa—Paus mengibaratkan bahwa cahaya Ilahi tidak pernah menghapus keunikan budaya, melainkan menyatukannya menjadi mozaik perdamaian yang indah. Mengenai identitas dan masa depan Eropa, Paus Leo XIV menekankan:
“Katedral ini mengajarkan kita bahwa cahaya Allah tidak menghapus identitas unik kita, melainkan menyatukan berbagai sejarah dan budaya yang berbeda menjadi satu mozaik perdamaian yang menakjubkan—yang sangat dibutuhkan di zaman kita yang terkoyak oleh perpecahan dan konflik baru.”
Paus mengingatkan bahwa nilai-nilai keutamaan Kristen seperti perlindungan terhadap martabat manusia, kebebasan, dan kepedulian terhadap sesama adalah fondasi utama pembangunan Eropa. Mengakhiri kotbahnya, Paus mengajak seluruh umat untuk menjadi saksi kasih yang berani serta menyerahkan komunitas Metz, Prancis, dan dunia ke dalam perlindungan Bunda Maria serta para kudus pelindung.
