Sebuah Perjalanan Merenungi Imamat Bersama Uskup Fulton Sheen

NEW YORK, Pena Katolik – Di tengah zaman yang serba terukur oleh efisiensi, indikator kinerja, dan kalkulasi profesional, gagasan Mgr. Fulton Sheen dalam karyanya The Priest Is Not His Own menyengat kesadaran kita tentang batas antara profesi dan panggilan. Sheen menawarkan pemaknaan radikal bahwa imamat. Imamat bukanlah sebuah pekerjaan, di dalamnya seseorang menyerahkan identitas secara utuh. Seorang imam tidak lagi milik dirinya sendiri, melainkan sepenuhnya milik Kristus dan Gereja.

Gagasan ini menghantam kecenderungan mendasar manusia modern yang kerap memandang pelayanan sebatas aktivitas manajemen rohani, seperti mengelola keuangan paroki, menyusun strategi penginjilan, atau memimpin rapat. Tentu hal-hal praktis itu penting, namun Mgr. Sheen mengingatkan bahwa kepenuhan imamat jauh melampaui kecakapan administratif.

Pilar pertama yang amat menantang dari pemikiran Sheen adalah penegasan bahwa imam adalah seorang “korban” (victim). Di meja altar, seorang imam tidak sedang memperagakan teater rohani atau sekadar memimpin ritual, melainkan dipanggil untuk mati bersama Kristus. Tanpa keberanian untuk bersatu dalam penderitaan dan pengorbanan Kristus di Salib, seorang imam mungkin bisa menjadi konselor yang hebat, manajer paroki yang efisien, atau orator yang memukau, tetapi ia kehilangan daya spiritualnya sebagai penuntun menuju keabadian. Pelayanan yang berdaya ubah tidak pernah lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesediaan untuk menjadi korban persembahan yang hidup.

Selanjutnya, Mgr. Sheen menggambarkan imam sebagai sebuah jembatan (bridge) yang menyerupai Tangga Yakub, yaitu menjangkau ke samping kepada manusia sekaligus menjangkau ke atas kepada Allah. Secara kemanusiaan, tuntutan untuk selalu bijaksana, mendampingi mereka yang sakaratul maut, dan menampung beban emosional umat tentu menjadi beban yang teramat berat bagi manusia biasa.

Keindahan imamat justru terletak pada kesadaran bahwa kekuatan seorang imam tidak bersumber dari dirinya sendiri, melainkan mengalir dari Kristus, Sang Imam Agung. Kekuatan ini terus menopang keterbatasan fisik dan mentalnya.

Pilar penting lainnya adalah kehadiran Bunda Maria. Ibu Tuhan ini berperan sebagai Ibu spiritual bagi setiap imam. Mgr. Sheen menggeser pemahaman imamat dari sekadar persaudaraan profesi menjadi hubungan kekeluargaan rohani yang mendalam. Dengan menempatkan Bunda Maria sebagai Ibu bersama, imamat dijalankan dengan hati seorang putra yang mencintai rumahnya. Kepemilikan imam atas hidup pribadi dan waku luangnya telah diserahkan secara penuh kepada Gereja Universal melalui keibuan Maria.

Mgr. Sheen lalu membuat analogi “rumah dua lantai” sebagai sindiran yang sangat relevan bagi pelayanan zaman ini. Lantai dua melambangkan “kenyamanan” sedangkan lantai satu adalah “ladang pelayanan” nyata.

Jika seorang imam “tinggal di lantai dua” yang nyaman dan hanya sesekali turun ke lantai satu untuk menolong keluarga yang menderita lalu kembali ke kenyamanannya, ia belum menghidupi imamat secara utuh. Imamat sejati menuntut keberanian untuk “turun dan memilih tinggal di tengah penderitaan umat”.

Refleksi Mgr. Sheen mengingatkan, bahwa imamat menuntut seorang imam “mengosongkan dirinya” agar Kristus dapat melayani dan menyembuhkan dunia melalui dirinya. Imam hendaknya tidak tergoda untuk menjadi “populer atau sukses” di mata dunia.

Artikel sebelum

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini