PenaKatolik.Com, Landak | Perjalanan pelayanan kadang membawa seseorang pada tempat-tempat sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam. Bukan karena kemewahan yang ditemukan, melainkan karena keramahan, cerita, dan penerimaan yang membuat setiap orang merasa menjadi bagian dari keluarga.
Suasana seperti itulah yang terasa ketika rombongan berkunjung ke kediaman Saudara Rodimin di Senakin, Kabupaten Landak, Jumat (3/7/2026).
Bersama istri, anak-anak, dan ibunya, Saudara Rodimin menyambut rombongan dengan hangat. Durian dan rambutan yang baru dipetik dari kebun menjadi sajian sederhana untuk menemani perjumpaan siang itu.
Sambil membuka durian, dia bercerita tentang buah yang disuguhkan kepada para tamu.
“Duriannya dari pinggir jalan, ke arah rumah singgah kita itu ada banyak pohonnya, lumayan juga buahnya,” katanya.
Percakapan pun mengalir begitu saja, tidak ada suasana formal, semua larut dalam obrolan dan tawa. Dari sebuah hidangan sederhana, tumbuh suasana persaudaraan yang membuat perjumpaan terasa dekat.
Durian dan Sebuah Jembatan Kebudayaan
Kebersamaan siang itu semakin berwarna bersama kehadiran Agustine, volunteer Program Dominican Volunteer asal Prancis.
Agustine tampak menikmati durian dengan antusias, kehadirannya itu tampak menjadi gambaran kecil bahwa perbedaan budaya tidak selalu menciptakan jarak. Sebaliknya, sesuatu yang sangat sederhana seperti menikmati buah lokal dapat menjadi jembatan untuk saling mengenal.
Durian, rambutan, dan cerita-cerita yang dibagikan hari itu seakan menjadi bahasa bersama. Tidak diperlukan kesamaan bahasa dan latar belakang untuk merasakan kegembiraan dalam sebuah perjumpaan.
Di sanalah persaudaraan menemukan bentuknya yang paling sederhana, duduk bersama, menikmati apa yang tersedia, dan membuka ruang untuk mengenal satu sama lain.
Pelayanan yang Menjadi Relasi
Dari cerita tentang buah-buahan, pembicaraan kemudian bergerak kepada pengalaman pelayanan di wilayah Senakin.
Saudara Rodimin membagikan kisah tentang dinamika pelayanan yang dijalani, berbagai tantangan yang ditemui, sekaligus sukacita yang hadir ketika berjalan bersama umat.
Pelayanan ternyata bukan hanya tentang datang, melakukan sesuatu, kemudian pergi. Di dalamnya terdapat relasi. Ada proses saling mengenal, mendengarkan, menemani, dan bertumbuh bersama.

Hal serupa disampaikan Sr. Skolastika, OP yang turut membagikan pengalaman selama mendampingi umat di wilayah pelayanan.
Dia mengisahkan bagaimana kehadiran para pelayan diterima dengan penuh sukacita oleh umat.
“Di salah satu tempat pelayanan, umat sangat senang dengan kehadiran kami. Bahkan ada seorang bapak yang selalu ingin bertemu dengan kami,” ungkapnya.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa kehadiran memiliki arti yang besar. Bagi sebagian orang, kehadiran seorang pelayan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi umat yang sedang menjalani pergulatan hidup, seseorang yang datang, mendengarkan, dan menemani dapat menjadi tanda bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Ketika Tawa Menjadi Bahasa Persaudaraan
Percakapan siang itu tidak selalu serius, sesekali canda dan gurauan muncul di antara pembicaraan. Bersama Saudara Edy, Saudara Rodimin, dan Sr. Skolastika saling melemparkan gurauan yang mengundang tawa.
Tawa sederhana tersebut justru menjadi bagian penting dari perjumpaan, tidak ada sekat antara pelayan dan umat. Semua duduk dalam suasana yang cair sebagai saudara.
Mungkin di situlah wajah pelayanan yang sering kali terlupakan. Pelayanan tidak selalu harus hadir dalam bentuk kegiatan besar. Kadang dia tumbuh melalui hal-hal kecil, sebuah rumah yang pintunya terbuka, sepiring makanan, buah dari kebun, percakapan yang jujur, dan tawa yang dibagikan bersama.
Selalu Ada Tempat untuk Pulang
Kunjungan ke rumah Saudara Rodimin di Senakin akhirnya menjadi lebih dari sekadar persinggahan dalam sebuah perjalanan.
Ada pengalaman tentang keramahan keluarga, ada cerita tentang pelayanan. Ada perjumpaan lintas budaya – ada persaudaraan yang tumbuh tanpa banyak direncanakan.
Dari Refleksi ini, rumah Saudara Rodimin mengingatkan bahwa perjalanan pelayanan tidak hanya membawa seseorang untuk menjumpai umat, tetapi juga memungkinkan seseorang menemukan keluarga dalam perjalanan itu sendiri.
Sebab dalam pelayanan, orang tidak hanya mencari tempat untuk bekerja. Dia juga membutuhkan tempat untuk berjumpa, berbagi, didengarkan, dan diterima.
Di tengah perjalanan yang panjang, selalu ada rumah-rumah sederhana yang membuat langkah terasa ringan.
Dan mungkin, di sanalah makna pulang sesungguhnya ditemukan: ketika kita diterima bukan karena siapa kita, tetapi karena kita datang sebagai saudara.*Abxy, Dominican Youth.