BEIJING, Pena Katolik – Tahun Baru Imlek merupakan perayaan yang mengakar kuat dalam peradaban Tiongkok. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa seorang biarawan Yesuit asal Jerman pada abad ke-17 pernah memainkan peran krusial dalam mereformasi kalender kekaisaran—sistem penanggalan yang menjadi acuan penetapan tanggal festival paling penting di Asia Timur tersebut.
Biarawan tersebut adalah Pater Johann Adam Schall von Bell, SJ, seorang astronom dan matematikawan yang tiba di Tiongkok pada awal abad ke-17. Seperti para misionaris Serikat Yesus (Yesuit) pada zamannya, ia tidak hanya membawa pengetahuan teologi, tetapi juga keahlian ilmu pengetahuan modern. Seri pimpinan Yesuit kala itu menjadikan matematika dan astronomi sebagai strategi utama untuk membuka ruang dialog antarbangsa.
Di Tiongkok era kekaisaran, astronomi bukan sekadar ilmu teoretis. Kalender kekaisaran mengatur seluruh sendi kehidupan: pertanian, perpajakan, ritual keagamaan, hingga legitimasi politik sang kaisar. Memprediksi gerhana dan menentukan awal tahun baru imlek secara tepat adalah urusan vital negara. Kesalahan perhitungan tidak hanya dianggap sebagai kegagalan teknis, melainkan juga ancaman politik.
Ketika Dinasti Ming runtuh dan Dinasti Qing naik ke tampuk kekuasaan, keahlian Pater Schall terbukti sangat dibutuhkan. Ia bekerja di observatorium kekaisaran di Beijing dan akhirnya diangkat menjadi Direktur Biro Astronomi Kekaisaran di bawah pemerintahan Kaisar Shunzhi. Menggunakan metode kalkulasi astronomi Eropa yang lebih presisi, Pater Schall berhasil mereformasi dan mengoreksi akumulasi kesalahan perhitungan pada kalender tradisional Tiongkok.
Mekanisme Tahun Baru Imlek
Sistem penanggalan Imlek mengacu pada kalender lunisolar, artinya hitungan bulan didasarkan pada siklus bulan, sementara hitungan tahun disesuaikan dengan siklus matahari. Setiap bulan dimulai saat fase bulan baru (new moon). Tahun Baru Imlek ditentukan jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin (winter solstice), itulah mengapa tanggalnya selalu bergeser antara 21 Januari hingga 20 Februari.
Reformasi perhitungan astronomi yang dilakukan Pater Schall berhasil meningkatkan akurasi penentuan fase bulan baru tersebut. Secara langsung, kontribusi ilmiahnya memastikan keandalan penetapan waktu Imlek bagi generasi-generasi berikutnya.
Pendekatan yang dilakukan Ordo Yesuit saat itu merupakan strategi akomodasi budaya—mempelajari tradisi Tiongkok dari dalam alih-alih menggantikannya. Pater Schall dan rekan-rekannya mempelajari teks-tks Konfusianisme, menguasai bahasa Mandarin, serta menjembatani iman dan ilmu pengetahuan tanpa merusak nilai lokal.
Meski sempat mengalami masa-masa sulit akibat konflik politik istana hingga dipenjara menjelang akhir hidupnya, Pater Schall akhirnya dibebaskan dari segala tuduhan sebelum wafat.
Kisah Pater Schall menunjukkan bahwa sains dan iman dapat berjalan beriringan untuk melayani kebaikan bersama. Katekismus Gereja Katolik menekankan bahwa “penelitian metodis dalam semua cabang ilmu pengetahuan tidak akan pernah bertentangan dengan iman” (KGK 159). Jauh sebelum prinsip tersebut dirumuskan secara formal, hidup Pater Schall telah menjadi bukti nyatanya.
Kini, di saat jutaan orang di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Imlek, nama sang astronom Yesuit di istana Dinasti Qing mungkin jarang terdengar. Meski demikian, kontribusi sunyinya menyisakan pelajaran berharga: keunggulan intelektual dan iman keagamaan mampu membangun jembatan kepercayaan antarperadaban.
