ROMA, Pena Katolik – Dari Monako, wilayah Afrika kolonial, hingga pusaran Revolusi Tiongkok, Kardinal Antonio Riberi mencatatkan perjalanan hidup luar biasa sebagai diplomat Vatikan. Melayani di bawah kepemimpinan empat Paus (Pius XI, Pius XII, Yohanes XXIII, dan Paulus VI), Riberi menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah dalam berbagai peristiwa besar abad ke-20.
Lahir di Monako pada 15 Juni 1897 dari pasangan imigran asal Italia, Riberi menghabiskan masa kecilnya di Piedmont, Italia, dan Monako. Usai ditahbiskan menjadi imam pada 1922, ia dikirim ke Akademi Gerejani Pontifikal di Roma—akademi pencetak diplomat Vatikan. Di sana, ia menjalin persahabatan erat dengan Pastor Giovanni Battista Montini, yang kelak menjadi Paus Paulus VI.
Diplomat Handal di Afrika
Karier diplomasinya dimulai di Bolivia pada 1925 dan Irlandia pada 1930. Pada usia 37 tahun, ia diangkat menjadi Uskup Agung sekaligus Delegatus Apostolik untuk Afrika Britania (wilayah Kenya, Uganda, dan Tanzania saat ini).
Di Afrika, Riberi dikenal sebagai diplomat yang tak segan turun tangan langsung. Demi mendanai operasional misi, membangun sekolah, dan melatih klerus lokal, ia membeli lahan serta mengelola perkebunan kopi, kapas, dan tembakau untuk dijual ke pasar internasional. Kerja kerasnya membuahkan hasil bersejarah saat ia memfasilitasi tahbisan Mgr. Joseph Kiwanuka dari Uganda sebagai uskup Afrika modern pertama pada 1939.
Ketika Perang Dunia II berkecamuk, status paspor Italia yang dimilikinya membuat pemerintah Inggris memintanya pergi. Paus Pius XII kemudian menariknya ke Vatikan pada 1940 untuk memimpin Komisi Bantuan Pontifikal guna membantu warga Italia yang terdampak perang.
Pada 1946, Riberi diangkat menjadi Nunsio Apostolik pertama untuk Tiongkok yang berkedudukan di Nanjing. Ketika pasukan komunis pimpinan Mao Zedong menguasai Nanjing pada April 1949, Riberi memilih bertahan di Tiongkok demi mendampingi umat Katolik, meski korps diplomatik asing lainnya melarikan diri.
Ia berupaya bernegosiasi dengan rezim komunis untuk mempertahankan kebebasan Gereja dan mendesak Vatikan menunda pengakuan resmi terhadap Taiwan demi membuka ruang dialog. Namun, pemerintah komunis menolak tawarannya dan menuntut Gereja memutus hubungan dengan Roma.
Setelah ditahan dan diinterogasi selama 10 hingga 12 jam nonstop, Riberi akhirnya diusir dari Tiongkok pada 4 September 1951 atas tuduhan menjadi sekutu Chiang Kai-shek dan menggerakkan perlawanan anti-komunis. Ia kemudian bertolak ke Taiwan untuk memulihkan hubungan diplomatik Takhta Suci dengan Republik Tiongkok hingga 1959.
Kembali ke Eropa
Tugas diplomasinya berlanjut sebagai Nunsio Apostolik di Irlandia dan Spanyol. Di Spanyol, ia menunjukkan keahlian diplomasi tingkat tinggi dalam bernegosiasi dengan diktator Francisco Franco terkait pencalonan uskup-uskup baru.
Pada 1967, sahabat lamanya yang telah menjadi Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai Kardinal. Rumor di Roma bahkan sempat menyebut Riberi sebagai calon kuat Sekretaris Negara Vatikan berikutnya.
Namun, tak lama setelah pengangkatannya, Kardinal Antonio Riberi wafat secara mendadak di Roma pada 16 Desember 1967. Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di tanah leluhurnya di Limone Piemonte, Italia.
