VATIKAn, Pena katolik — Paus Fransiskus menyerukan pembebasan segera para sandera yang diculik dalam aksi pembantaian mengerikan di Haiti. Ia juga memanjatkan doa bagi para korban bencana banjir bandang yang melanda wilayah Nepal dan Tibet.
Pernyataan tersebut disampaikan Bapa Suci di Castel Gandolfo usai doa Angelus pada Minggu 30 Agustus 2026. Paus mengaku menerima laporan tragis mengenai tragedi kemanusiaan yang terjadi di Kenscoff, Haiti.
“Laporan tragis datang dari Haiti mengenai pembantaian mengerikan di Kenscoff, di mana banyak orang kehilangan nyawa dan sebagian lainnya disandera,” ujar Paus. “Saya menyampaikan kedekatan spiritual kepada para korban dan keluarga mereka, serta mendesak pembebasan segera bagi seluruh sandera.”
Paus juga mengetuk hati para pemegang kekuasaan agar mengambil langkah konkret guna menjamin keamanan masyarakat dan menghentikan segala bentuk kekerasan.
Pada 23 Agustus, sekitar 150 anggota geng menyerang sebuah desa yang menghadap ke ibu kota Port-au-Prince. Geng tersebut melepaskan tembakan ke arah orang-orang di jalanan, dan ketika warga berusaha melarikan diri ke sebuah gereja Protestan, beberapa di antaranya tewas di halaman gereja tersebut. Sebanyak 47 orang tewas dalam serangan itu, 50 orang lainnya diculik, dan sekitar 2.500 orang mengungsi meninggalkan rumah mereka, yang beberapa di antaranya dibakar.
Doa Untuk Nepal
Selain Haiti, Paus menyampaikan belasungkawa mendalam bagi para korban, pengungsi, serta tim penyelamat yang terdampak banjir besar di Nepal dan Tibet. Paus menyerukan doa dan dukungan nyata bagi korban banjir bandang dahsyat yang menerjang Nepal serta Tibet. Seiring terus meningkatnya jumlah korban jiwa dan ribuan orang yang masih dinyatakan hilang, Pemimpin Gereja Katolik tersebut memastikan belasungkawa serta pendampingan spiritual yang berkelanjutan bagi para korban.
“Saya memperbarui doa saya bagi mereka yang terdampak banjir hebat yang melanda Nepal dan Tibet. Mari kita berdoa bagi mereka yang telah kehilangan nyawa, yang terluka, yang hilang, serta bagi keluarga dan tim penyelamat,” tuturnya. “Semoga Kepedulian semua orang dapat membantu meringankan penderitaan dan menyediakan bantuan yang diperlukan bagi warga.”
Sebagai bentuk tindakan nyata, Paus meluncurkan bantuan keuangan tahap awal yang disalurkan melalui koordinasi dengan Nunsiatura Apostolik Nepal kepada Caritas Nepal. Bantuan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak para korban di lapangan.
Prefek Dikasterium untuk Layanan Amal, Uskup Agung Luis Marín de San Martín, menjelaskan bahwa dana tersebut merupakan tanda tanggap cepat dari Takhta Suci. Langkah ini hadir sebagai wujud nyata perhatian dan kehangatan Gereja dalam mendampingi warga yang berada dalam kondisi paling rentan.
Mengutip pemikiran Santo Agustinus, Paus mengingatkan umat Kristiani untuk terus menjadi pembawa perdamaian di tengah konflik global. “Semoga semakin banyak orang yang berani membagikan ‘roti perdamaian’, meruntuhkan perpecahan, mempromosikan keadilan, dan mengampuni demi kebaikan bersama,” tuturnya.
Sebelum doa Angelus, Paus turut merenungkan kisah Injil tentang Petrus. Ia berpesan agar umat tetap menjaga dialog yang jujur dengan Tuhan di saat-saat sulit, serta rendah hati menerima kehendak-Nya meski kerap tak sesuai harapan manusia.
