LABUAN BAJO, Pena Katolik — Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, bersama Panitia Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 secara resmi menghentikan seluruh rangkaian acara penutupan festival tersebut. Keputusan mendadak ini diambil menyusul bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Mbay, Nagekeo, Pulau Flores.
Kebijakan pembatalan tersebut tertuang dalam Pernyataan Resmi Nomor: 20/II.1-KLB/VIII/2026 tertanggal 15 Agustus 2026. Dengan demikian, acara puncak dan penutupan yang sedianya digelar pada Sabtu 15 Agustus 2026 di kawasan Waterfront City Labuan Bajo dipastikan tidak dilanjutkan.
Dalam keterangan resminya, Mgr. Maksimus menjelaskan, bahwa keputusan berat ini diambil demi mengantisipasi dampak bencana serta potensi bahaya dari gempa susulan.
“Selain adanya dampak yang dirasakan oleh sejumlah masyarakat, kami juga mempertimbangkan kemungkinan terjadinya gempa susulan. Pihak panitia memilih untuk tidak melanjutkan kemeriahan, tetapi menunjukkan kepedulian dan kehadiran bagi mereka yang sedang menghadapi situasi sulit,” tegas Mgr. Maksimus.
Alasan Utama
Pihak Keuskupan Labuan Bajo dan panitia menggarisbawahi dua pertimbangan mendasar di balik penghentian agenda tahunan tersebut. Keuskupan menjamin perlindungan total bagi seluruh peserta, masyarakat umum, pelaku UMKM, tamu undangan, hingga petugas dan panitia di lapangan.
Dengan dikeluarkannya keputusan ini, setidaknya ada empat agenda utama penutupan yang resmi dibatalkan: Misa Penutupan Festival; Konser Musik dan Pentas Seni; Pameran UMKM; dan Seluruh kegiatan pendukung lainnya.
Menanggapi situasi darurat ini, panitia mengimbau seluruh pelaku UMKM, komunitas, dan pengunjung untuk dapat memaklumi keputusan tersebut. Masyarakat juga diminta tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta selalu memantau arahan resmi dari pihak berwenang.
Mengakhiri pernyataannya, Mgr. Maksimus menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah mendukung jalannya Festival Golo Koe 2026 sejak awal, sembari memanjatkan doa bagi keselamatan warga Flores.
“Festival boleh berhenti, tetapi semangat persaudaraan, solidaritas, dan kepedulian harus tetap menyala di dalam diri kita,” pungkasnya.
