BARBASTRO, Pena Katolik — Pada tanggal 12 dan 13 Agustus, Gereja Katolik memperingati kesucian 51 martir—yang sebagian besar merupakan para seminaris muda—yang tewas dibunuh secara kejam di kota kecil Barbastro pada masa Perang Saudara Spanyol.
Tragedi ini bermula pada 20 Juli 1936, tak lama setelah Perang Saudara Spanyol berkecamuk. Seelompok milisi anarkis menyerbu biara Kongregasi Misionaris Putra Hati Kudus Maria (Karetian) di Barbastro dan menahan 51 misionaris di dalamnya. Merekalah yang kelak mengalami penderitaan, penghinaan, hingga akhirnya wafat sebagai martir demi mempertahankan iman.
Meski tergolong kota kecil, Barbastro dengan cepat berubah menjadi salah satu pusat kecamuk perang yang paling berdarah. Karena kota tersebut tidak memiliki fasilitas tahanan yang memadai, para pemberontak menjadikan gedung sekolah setempat milik Ordo Piaris sebagai penjara darurat. Di sana, mereka menahan para biarawan Benediktin, Piaris, dan Karetian.
Sejarah mencatat bahwa Keuskupan Barbastro menjadi wilayah dengan persentase kemartiran klerus tertinggi selama perang. Secara keseluruhan, korban tewas meliputi 18 biarawan Benediktin, 9 Piaris, 51 Karetian, 13 kanonik Katedral, 114 imam projo (diosesan), 5 seminaris diosesan, serta seorang uskup.
Sebagian besar anggota Karetian yang ditangkap masih berusia awal 20-an. Mereka baru tiba di Barbastro beberapa minggu sebelumnya untuk menyelesaikan tahun terakhir pendidikan seminaris mereka. Tanpa dakwaan kejahatan apa pun, mereka ditahan selama berminggu-minggu sebelum dieksekusi secara bertahap.
Penghiburan Terakhir di Tengah Siksaan
Di tengah masa penahanan yang mencekam, para seminaris ini mendapatkan satu hiburan spiritual yang sangat luar biasa. Saat penggerebekan terjadi, seorang frater berhasil menyelamatkan Sakramen Mahakudus dari tabernakel agar tidak dinodai oleh para pemberontak. Ia menyembunyikan Sakramen tersebut di balik jubahnya, sebelum kemudian disembunyikan di lemari peralatan kelas fisika sekolah.
Setiap kali pembagian jatah makanan harian, seorang frater secara rahasia menyelipkan Hosti Kudus ke dalam roti lapis (sandwich) untuk rekan-rekannya. Berkat keberanian tersebut, para tahanan dapat menyambut Komuni Kudus berkali-kali selama masa penyanderaan.
Guna menghancurkan iman dan panggilan mereka, para penculik kerap melakukan siksaan psikologis berupa eksekusi tiruan. Para tahanan dibariskan di hadapan regu tembak, namun tidak ditembak saat itu juga.
Tiga pemimpin komunitas Karetian tersebut akhirnya dieksekusi pada 2 Agustus 1936, sedangkan sisa anggota lainnya ditembak mati secara bertahap pada tanggal 12, 13, 15, dan 18 Agustus 1936.
Warisan Kesaksian Iman
Dari tragedi tersebut, dua frater warga negara Argentina berhasil diselamatkan berkat intervensi kedutaan besar mereka, sementara satu frater lainnya lolos dari maut karena pihak milisi tidak percaya bahwa ia adalah seorang biarawan. Melalui kesaksian para penyintas inilah, detail penyiksaan dan keteguhan iman para korban dapat terdokumentasi dengan sangat baik.
Atas kesaksian iman mereka yang luar biasa, ke-51 martir Barbastro ini secara resmi dibeatifikasi oleh Paus Santo Yohanes Paulus II pada 25 Oktober 1992. Keteguhan mereka kini terus dikenang sebagai teladan iman dan kesetiaan sejati hingga akhir hayat.
