MERAUKE, Pena Katolik — Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Merauke, Romo Hendrikus Kariwop, MSC, memuji kesadaran sebagian warga Katolik yang mulai memilah sampah plastik. Sampah tersebut nantinya dapat dijual ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Merauke untuk diolah di TPA Bokem menggunakan mesin pirolisis.
Romo Hendrikus menjelaskan, mesin pirolisis tersebut berfungsi mengolah berbagai jenis bahan plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin.
“Jadi masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor tidak akan kesulitan lagi mendapatkan bensin, karena mesin ini dapat menerima semua jenis sampah plastik di Merauke,” ujar Romo Hendrikus pada Senin (13/7/2026).
Menurutnya, keberadaan mesin ini sangat tepat untuk mengatasi sampah plastik yang berserakan. Plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai secara alami, tetapi melalui proses pirolisis, limbah tersebut dapat diubah menjadi BBM dengan lebih mudah.
Selain itu, ia mengimbau warga agar berhenti membakar sampah plastik sembarangan. Langkah membakar sampah dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan. Dengan adanya pengolahan ini, lingkungan menjadi lebih tertata, bebas dari bau busuk, serta mengurangi risiko munculnya berbagai sarang penyakit seperti malaria, demam berdarah, tifus, dan potensi gangguan hewan liar seperti ular.
“Kita sebagai warga Merauke akan menderita berbagai penyakit jika tidak terbiasa membersihkan lingkungan. Caranya cukup dengan memilah sampah, mana yang plastik dan mana yang kaca,” jelasnya.
Sebagai tokoh agama, ia menekankan bahwa kepedulian lingkungan tidak boleh hanya sebatas khotbah di atas mimbar.
“Aksi menjaga lingkungan harus dimulai dari hal kecil dan diri sendiri di dalam keluarga. Relasi antara manusia, Tuhan, dan alam harus harmonis, sejalan dengan Ensiklik Laudato Si’ yang digaungkan oleh Paus Fransiskus,” tegasnya.
Dampak Ekonomi
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Merauke, Dominikus Catur Risal, menyampaikan bahwa pengadaan mesin pengolah sampah plastik di TPA Bokem merupakan inisiatif dari instansinya. Mesin pirolisis ini dihadirkan untuk menjawab persoalan penumpukan sampah plastik yang sering mengganggu warga, terutama di musim hujan.
“Saat musim hujan, sampah plastik berbagai merek sering menumpuk di sekitar pemukiman penduduk dan sudut kota hingga menyumbat saluran air,” ujar Dominikus.
Ia menjelaskan, sampah plastik tidak boleh dibiarkan begitu saja atau dibakar karena dapat memicu polusi udara. Oleh karena itu, DLH mengajak warga untuk memilah dan menyerahkan sampah plastik agar bisa diolah menjadi bensin. Mengenai keamanan hasil olahan, pihak DLH memastikan standar keamanan produk telah diperhitungkan.
“Soal uji emisi bahan bakar agar tidak membahayakan masyarakat, sudah ada ketentuan dan standar dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional),” kata Dominikus.
Guna menunjang keberlangsungan sistem ini, pihak DLH juga mempekerjakan dan menggaji petugas khusus pemilah sampah di TPA Bokem.
Catatan Keselamatan Kerja
Sementara itu, Policy Advocacy Officer WWF Indonesia, Theofilus Inuri, menyambut baik operasional mesin pirolisis tersebut. Namun, ia mengingatkan pentingnya aspek keselamatan kerja serta pemberdayaan masyarakat adat setempat.
Theofilus menyarankan agar pengelola mengutamakan keterlibatan Orang Asli Papua (OAP). Jika menggunakan tenaga ahli dari luar Papua, mereka harus memberikan pendampingan dan pelatihan intensif.
“Harus ada transfer pengetahuan agar pekerja asli Papua benar-benar terlatih. Mulai dari teknik operasional, takaran volume sampah, mekanisme perputaran mesin, hingga penanganan jika terjadi kerusakan teknis,” ungkapnya.
Selain itu, mengingat tingginya risiko pekerjaan di sekitar mesin pengolah bensin ini, ia menggarisbawahi pentingnya Perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD) dan jaminan sosial bagi para pekerja.
“Pengoperasian mesin ini membutuhkan tenaga terampil dan tingkat kewaspadaan tinggi. Pekerja harus dilengkapi APD lengkap untuk melindungi indera penciuman dan pendengaran dari paparan asap maupun zat berbahaya. Selain itu, mereka wajib dibekali jaminan BPJS Ketenagakerjaan dan jelakaan kerja demi keselamatan,” pungkas Theofilus. (Reporter: Agapitus Batbual)
