MERAUKE, Pena Katolik – Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC secara resmi meletakkan batu pertama pembangunan Arca Hati Kudus Yesus di Dusun Yonggo, Stasi St. Yoseph Sirapu, Paroki Wendu pada Sabtu, 4 Juli 2026. Mgr. Mandagi menyampaikan rasa sukacita dan syukurnya atas terlaksananya momen bersejarah ini, yang terwujud berkat dukungan penuh dari masyarakat adat serta umat Katolik di wilayah Marind. Beliau mengapresiasi keterbukaan warga yang mengizinkan berdirinya simbol iman tersebut di tanah mereka.
“Terima kasih karena boleh meletakkan batu pertama Archa Hati Kudus Yesus di wilayah Provinsi Papua Selatan,” katanya.
Mgr. Mandagi menegaskan bahwa masyarakat tanah Marind merupakan pribadi-pribadi yang cinta damai. Oleh karena itu, sebagai pengikut Yesus Kristus, sudah seharusnyalah umat membawa semangat cinta dan kasih di antara semua orang tanpa memandang segala perbedaan wilayah, budaya, maupun aliran kepercayaan di Provinsi Papua Selatan.
“Arca Hati Kudus yang akan berdiri harus tertanam kuat sebagai pengikut Kristus sendiri,” katanya. Beliau menambahkan bahwa berdirinya Arca Hati Kudus Yesus di Dusun Yonggo justru mengundang segenap umat beriman untuk tetap mengarahkan hati pada Tuhan Yesus Kristus yang tetap mereka cintai, walaupun di tengah terjadinya perbedaan.
Mgr. Mandagi mengajak semua orang untuk hidup meneladani Yesus yang memiliki hati bagi setiap insan manusia dan sesama. Beliau mengingatkan umat agar senantiasa membuka hati demi mengubah situasi dunia yang saat ini penuh tantangan.
“Hati Kudus Yesus pasti selalu terbuka kepada Tuhan sepert saat ini mengubah berbagai seperti dunia saat ini,” katanya.
Ia menyayangkan berbagai hal duniawi yang sering kali membuat manusia tertutup dan tidak punya hati terhadap sesamanya. Dicontohkannya, tindakan buruk seperti gemar korupsi dengan mengambil dan memakan uang rakyat yang bukan haknya, terjadi hanya karena kerakusan dan keengganan mengikuti jalan Yesus.
“Sering kali tidak terbuka hatinya, tidak rendah hati, melainkan murah hati seperti Yesus yang lemah lembut tetapi tetap mengampuni,” tuturnya sembari menegaskan bahwa kejahatan tidak pernah memuliakan manusia, melainkan justru menghancurkan kebaikan dan kehidupan.
Mgr. Mandagi secara tegas mengingatkan bahwa kejahatan hanya bisa dibalas dengan membawa pengampunan, bukan dengan balas dendam. Menurutnya, pesan perdamaian inilah inti dari ajaran Kristiani yang sejati.
“Itu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, walupun Dihina, difinah, bahkan harus memikul salib Ia tetap mengampuni orang yang menyiksanya,” katanya. Beliau menambahkan bahwa Yesus tidak pernah menaruh dendam atau mengangkat senjata melainkan tetap mengampuni. Kehadiran arca Hati Kudus Yesus ini diharapkan dapat mewartakan perdamaian di wilayah Selatan Papua kepada siapa saja, baik umat Katolik, Protestan, Islam, maupun penganut agama lainnya. Menutup khotbahnya, Mgr. Mandagi mengutip pesan mendalam dari Paus Fransiskus bahwa pengampunan adalah obat yang menyembuhkan.
Sementara itu, RD. Andreas Fanumbi, Kepala Paroki St. Maria Bunda Hati Kudus Wendu yang menjadi penggagas pendirian arca ini menceritakan latar belakang idenya. Sebelum berkarya selama 30 tahun di Paroki Bunda Hati Kudus, ia sempat mencetuskan pembangunan Patung Kristus Raja Semesta Alam di hulu Kali Maro, Stasi Poo.
“Mengatakan, di Poo saat itu, terjadi pembunuhan, tidak nyaman di daerah RI-Papua New Guinea maka di mulai ditetapkan daerah tersebut sebagai tempat perdamaian dan berdirilan Patung Kristus Raja Semesta di Stasi Poo tersebut,” kenang Romo Andreas.
Setelah dipindahkan ke Paroki Bunda Hati Kudus Wendu, Romo Andreas mendengar panggilan serupa dalam batinnya untuk membangun Arca Hati Kudus Yesus. Monumen ini didirikan untuk memperingati para Misionaris Hati Kudus di bagian muara Maro. Keberadaannya juga menjadi simbol ucapan selamat datang bagi setiap kapal yang melintas, serta sebagai berkat atas segala hasil laut dan darat, mulai dari sagu, kelapa, tumbuhan bakau, kepiting, hingga kerang-kerangan agar seluruh alam dan warga Merauke senantiasa diberkati oleh Hati Kudus Yesus.
Ia juga merefleksikan bahwa di tengah kesulitan hidup, umat tidak memiliki tempat bersandar lain selain Tuhan sendiri. “Mau berlari kepada siapa untuk meminta tolong, satu-satunya adalah Hati Kudus Yesus. Ini menjadi simbol untuk menyalurkan damai mulai dari tanah damai mulai dari merauke,” ungkapnya. Romo Andreas menegaskan bahwa inti pembangunan arca ini adalah menyalurkan damai dari Provinsi Papua Selatan agar menyebar ke seantero Papua dan Indonesia; sebuah kedamaian di hati untuk semua orang.
Acara sakral ini turut dihadiri oleh ratusan warga asli Papua yang menyaksikan langsung jalannya prosesi. Pada akhir acara, suasana kebersamaan semakin erat dengan dilangsungkannya aksi penanaman pohon, seperti tanaman sagu, kelengkeng, dan kopi. Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC didaulat secara khusus untuk menanam pohon sagu, diikuti oleh jajaran pejabat dan para pemuka agama yang hadir.
Sejumlah tokoh penting tampak hadir dalam perayaan ini, di antaranya Romo Roy Sugiyanto (Sekjen KAMe ad interim), Romo Andreas Fanumbi (Kepala Paroki Wendu), Romo Pinto Sihombing, OFMCap (Kepala Paroki Kumbe), Romo Ivan Simamora, OFMCap (Kepala Paroki Fransiskus Asisi Harapan Makmur), Romo Oscar Sinaga, OFMCap (Kepala Paroki Padre Pio), Romo Yunus Abel Kellytadan (Kepala Paroki Kuper), Romo Rinto Duarmas (Kepala Paroki Okaba), Romo Petrus Dopo, SMM (Kepala Paroki Tubang), serta Romo Anto Reyaan, MSC selaku KOMSOS KAMe. Hadir pula sejumlah biarawati dari kongregasi KYM, KSSY, dan KSFL, serta perwakilan dari unsur TNI dan Polri setempat. (Agapitus Batbual/Merauke)
