BURU, Pena Katolik – Kisah pewartaan iman di Buru juga menggoreskan sejarah bagi sastra Indonesia. Saat itu, salah satu tahanan politik di Buru adalah Pramoedya Ananta Toer. Di Buru, ia menyelesaikan karya terbesarnya Tetralogi Buru, yang harus diakui, karya ini bisa lahir juga berkat bantuan para imam yang saat itu bekerja melayani para tahanan.
Saat itu, pengawasan kepada para tahanan begitu ketat. Pramoedya mengenang, bahkan untuk menulis pun ia tidak leluasa. Di sinilah, berkat bantuan para imam, Pramoedya bisa mendapat lembaran-lembaran kertas untuk menulis. Selanjutnya, ia menitipkan tulisan itu kepada para imam. Setelah bebas, tulisan-tulisan ini dikumpulkan dan diterbitkan.
Pramoedya mengenang, ia mendapat kiriman paket dari istrinya ke barak Unit III yang ditipkan kepada Romo Ruffing. Pramoedya juga sering dibawakan kertas dan alat tulis oleh Romo Alex. Bahkan, beberapa tulisan Pramoedya juga diselamatkan oleh Pastor Alex. Dalam buku Drama Mangir, Pramoedya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Gereja Katolik Namlea, Buru dan Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat, yang telah menyelamatkan karya ini.
Selain Romo Alex, karya-karya Pramoedya di Buru juga dapat selesai berkat bantuan Romo Stanislaus Sutopanitro. Imam yang berkarya di lingkungan Tentara dan berpangkat terakhir Letnan Kolonel ini sejak tahun 1971 memberi pelayanan kepada para tapol.
Dengan status imam tentara, Romo Suto lebih leluasa mengunjungi Pulau Buru untuk mendampingi para tahanan politik. Saat itu, Romo Suto menjalankan pelayanan sosial bernama Proyek Sosial Kardinal (PSK) yang digagas oleh Kardinal Yustinus Darmoyuwono.
Berkat Romo Suto, naskah-naskah karya Pramoedya dapat diselundupkan sepotong-sepotong keluar penjara. Romo Suto lalu menyimpan naskah ini. Setelah Pramoedya dipulangkan dari Buru pada 1979, naskah-naskah ini diserahkan kembali kepada Pramoedya. Naskah ini lalu diterbitkan menjadi Tetralogi Buru yang terdiri dari empat buku: Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).
Awalnya, buku ini diterbitkan oleh Hasta Mitra. Namun sayang, hanya beberapa saat setelah terbit, buku ini dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung. Alhasil, buku ini justru lebih dulu dikenal di luar negeri karena diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa. Setelah reformasi, Tetralogi Buru dan buku-buku Pramoedya lainnya baru dapat dengan bebas diterbitkan oleh Penerbit Lentera Dipantara.
Pada akhirnya, sejarah pelayanan iman Katolik di Pulau Buru menepis sekat-sekat pembatas antara jeruji besi dan kebebasan manusiawi. Melalui pengorbanan para imam Yesuit seperti Romo Ruffing dan Romo Alex, keteguhan tapol seperti Lukas Tumiso, hingga keberanian Romo Sutopanitro dalam menyelamatkan mahakarya sastra Pramoedya Ananta Toer, Gereja hadir bukan sekadar sebagai institusi agama. Di tengah pengasingan yang sunyi dan keras, kehadiran altar dari bekas kandang ayam hingga kokohnya tiang Gereja Maria Bintang Laut di Namlea membuktikan sebuah kebenaran universal: bahwa di mana ada kasih dan pelayanan rohani yang tulus, di situlah martabat manusia, harapan akan peradaban, dan buah pikiran yang merdeka akan selalu menemukan jalan untuk diselamatkan.
