Home BERITA TERKINI Pemberkatan Pernikahan Massal di Merauke: Simbol Keteguhan Iman dan Kasih

Pemberkatan Pernikahan Massal di Merauke: Simbol Keteguhan Iman dan Kasih

0

MERAUKE, Pena Katolik — Ratusan pasangan suami istri resmi meneguhkan ikatan perkawinan mereka dalam iman Katolik melalui perayaan Misa Nikah Massal di Gereja Paroki Santa Maria Fatima, Kelapa Lima, Merauke, Kamis 28 Juni 2026. Peristiwa sakral yang bertepatan dengan Hari Keluarga Nasional ini dihadiri langsung oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC.

Sebanyak 138 pasangan dari berbagai usia maju dengan mantap untuk mengikrarkan janji suci di hadapan altar. Suasana religius kian bermakna karena Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, bersama sang istri, Ny. Nova Gebze, hadir bertindak sebagai saksi nikah bagi para pasangan tersebut.

Janji Setia

Dalam khotbahnya, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC mengungkapkan rasa bangga dan sukacita yang mendalam atas kerelaan serta kesiapan para pasangan untuk menerima Sakramen Perkawinan.

“Sebuah peristiwa yang sangat luar biasa melihat setiap pasangan bersedia mengikrarkan janji perkawinan mereka di hadapan seluruh pejabat dan umat Katolik,” ujar Mgr. Mandagi.

Uskup Agung Merauke ini juga memberikan penegasan keras mengenai kesucian lembaga perkawinan Katolik. Ia mengingatkan bahwa pernikahan Katolik bersifat monogam dan tak terceraikan.

“Saya bangga melihat kalian hadir mengikrarkan janji pernikahan. Di dalam Gereja Katolik, tidak ada kata perceraian kecuali maut. Tidak seorang pun berhak merusak lembaga perkawinan karena telah dikuduskan oleh Allah melalui proses pencarian dan pengorbanan,” tegasnya.

Mgr. Mandagi mengajak seluruh pasangan untuk selalu belajar saling mengampuni satu sama lain. Ia juga mengingatkan pentingnya membangun keluarga yang mandiri dan berakar pada doa.

“Berumah tangga berarti siap secara gerejawi untuk mandiri. Masa depan keluarga akan terjaga jika dihidupi dengan doa. Tanpa doa, gereja domestik (keluarga) akan mati. Maka, saya amat sedih menyaksikan banyak keluarga yang mengaku Katolik tetapi hidupnya kacau balau karena meninggalkan doa,” pesan Uskup.

Keindahan Toleransi

Ada pemandangan unik dan menyentuh yang memikat perhatian dalam perayaan Ekaristi kali ini. Nuansa kerukunan antarumat beragama di Provinsi Papua Selatan, khususnya di Merauke, sangat terasa ketika sekelompok perempuan Muslim yang mengenakan jilbab tanpa canggung membawa barang-barang natura sebagai persembahan ke depan altar.

Sekretaris Komisi Hubungan Antarumat Beragama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Aloysius Budi Purnomo, yang turut hadir dalam perayaan tersebut, menyatakan kekagumannya terhadap tingginya nilai toleransi di Merauke.

“Bukti keberagaman yang nyata adalah kerja sama antaragama di sini. Menjadi sangat menarik karena pengantar persembahan ke altar semuanya mengenakan jilbab. Mereka membawa persembahan dengan senyum manis tanpa rasa canggung atau prasangka,” ungkap Romo Budi Purnomo.

Bagi Romo Budi, momen ini merupakan potret hidup dari harmoni, kerukunan, dan sikap saling menerima dalam keberagaman interreligius (antaragama). “Gereja Katolik menghormati setiap perbedaan agama. Merauke patut menjadi contoh bagaimana ragam agama bisa saling menerima dengan indah,” tambahnya.

Kolaborasi Pemerintah dan Gereja

Keberhasilan nikah massal ini merupakan buah kerja sama yang erat antara pihak Gereja Katolik dan Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke melalui tiga instansi: Dinas Catatan Sipil, Dinas Sosial, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Kepala Dinas Catatan Sipil Kabupaten Merauke, Regina Yustina Kamisopa, menjelaskan bahwa banyak dari peserta nikah massal ini sebenarnya sudah berkeluarga cukup lama, namun belum memiliki ikatan perkawinan yang sah, baik secara hukum negara maupun hukum Gereja.

Oleh karena itu, pemerintah mengambil inisiatif untuk menggandeng pihak Gereja agar status hukum para pasangan ini menjadi jelas dan legal. Sebelum hari pernikahan, para peserta juga telah mendapatkan pembinaan (kursus persiapan perkawinan) selama dua bulan sesuai dengan Hukum Kanonik Gereja Katolik.

“Sebagai perwakilan pemerintah dan juga sebagai orang Katolik, kami ingin meresmikan perkawinan mereka. Kami memilih Gereja Katolik St. Maria Fatima karena gereja ini merupakan salah satu ikon gereja termegah di Merauke. Kami terus berdoa agar kehidupan rumah tangga mereka ke depan berjalan baik tanpa masalah,” ujar Regina.

Ibadat peneguhan dan pemberkatan perkawinan massal ini dilayani bersama oleh sejumlah imam kevikepan, di antaranya: Romo Anto Reyaan (Pastor Paroki St. Maria Fatima, Kelapa Lima); Romo Simon Petrus Matruty (Pastor Paroki St. Theresia, Buti); Romo Tio Refwutu (Pastor Paroki St. Mikael, Kuda Mati / Komisi Keluarga KAI Me); Romo Aloysius Budi Purnomo (Sekretaris Komisi Hubungan Antarumat Beragama KWI); dan Romo Roy Sugianto. (Agapitus Batbual/Merauke)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version