MERAUKE, Pena Katolik – Sebuah patung Hati Kudus Yesus berukuran raksasa akan segera berdiri di Dusun Yonggo, Stasi St. Yoseph Sirapuh, Paroki Wendu, Merauke. Arca perunggu setinggi 26 meter dengan posisi memberkati ini dirancang untuk menghormati para misionaris awal Tarekat Hati Kudus Yesus (MSC).
Proyek megah di atas lahan seluas lima hektar ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp30 miliar. Lokasi pembangunan berada tepat di muara Kali Maro, jalur utama keluar masuk kapal di Merauke. Di area tersebut, pohon-pohon besar tetap dipertahankan demi menjaga estetika budaya suku Marind.
Inisiator pembangunan, Romo Andreas Fanumbi, menceritakan bahwa ide ini lahir setelah ia berziarah ke patung Yesus di Sibea-bea, Danau Toba, Sumatra Utara. Momen tersebut bertepatan dengan refleksi perjalanan imamatnya yang kini memasuki usia 30 tahun (1995–2026).
“Saya berpikir, Wendu memiliki pesona tersendiri. Dusun Yonggo punya pemandangan eksotik di muara Kali Maro dan dekat dengan Kota Merauke. Jalur laut ini adalah rute yang dilewati para misionaris awal Katolik dengan perahu untuk membangun peradaban di Selatan Papua,” ujar alumnus STFT Fajar Timur itu.
Romo Andreas, yang pernah bertugas di paroki perbatasan RI-PNG, mengakui situasi ekonomi saat ini sedang sulit. Namun, ia berkaca pada keberhasilan pembangunan patung di Sibea-bea. “Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil,” tegas Kepala Paroki Sta. Maria Bunda Hati Kudus ini. Peletakan batu pertama dijadwalkan berlangsung pada 4 Juli 2026 oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC.
Acara ini akan dihadiri oleh jajaran pejabat penting, antara lain: Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo; Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze; Ketua DPR Papua Selatan, Herry Silfanus Silun; Ketua DPRD Merauke, Samuel Mugujai; Pangdam XVII/Cenderawasih (dalam draf tertulis Pangdam XXIV), Mayjen TNI Frits Rizard Pelamonia; Danlantamal XI Merauke, Laksma TNI Joko Andriyanto; serta beberapa tokoh masyarakat.
Rencana ini disambut penuh sukacita oleh warga setempat. Ketua Dewan Stasi Nohotif Kampung Urumb, Wilibrordus Yayu Mahuze, menyatakan kegembiraannya atas proyek tersebut.
“Kami sangat senang. Melalui Kali Maro inilah para misionaris pertama kali datang menyapa leluhur kami di tanah Marind. Pendirian arca Hati Kudus Yesus di daerah ini adalah langkah yang sangat baik,” pungkas Wilibrordus. (Agapitus Batbual/Merauke)
