PenaKatolik.Com, Kuta, Bali | Pengalaman hidup puluhan tahun yang dimiliki para lanjut usia bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan kekayaan yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Pesan itulah yang mengemuka dalam Misa Jumat Pertama yang dipimpin RD. Hubert Hady Setiawan di Kapel Societas Sancta Clara (SSC), Kuta, Bali, Selasa (9/06/2026).
Perayaan Ekaristi yang dihadiri Komunitas SSC berlangsung dalam suasana akrab dan penuh canda. Melalui dialog spontan dengan para Oma dan Opa, Romo Hady mengajak para peserta merenungkan sabda Yesus tentang garam dan terang dunia dengan cara yang dekat dengan pengalaman hidup mereka.
Alih-alih langsung memberikan penjelasan teologis, Romo Hady mengawali homilinya dengan pertanyaan sederhana tentang garam. Dia bertanya apakah ada yang pernah membeli garam hingga satu kuintal. Pertanyaan itu memancing tawa sekaligus perhatian para oma dan opa yang hadir.
Dari percakapan tersebut, Romo Hady menegaskan bahwa garam tidak dinilai dari banyaknya, melainkan dari kemampuannya memberi rasa. Sedikit garam dapat mengubah cita rasa seluruh masakan.
Menurut dia, gambaran itu sangat relevan dengan kehidupan para lanjut usia yang hadir dalam perayaan tersebut. Meskipun tidak lagi berada di usia produktif seperti dahulu, kehadiran mereka tetap memiliki arti penting bagi keluarga, komunitas, dan Gereja.
“Garam itu tidak perlu banyak, tetapi harus berkualitas, demikian juga hidup orang beriman. Yang penting bukan banyak bicara atau tampil menonjol, tetapi bagaimana hidup kita membawa kebaikan bagi orang lain,” kata Romo Hady, (09/06).
Dalam homili itu, dia juga menyinggung ungkapan populer “sudah banyak makan garam”, yang dalam budaya Indonesia sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang kaya pengalaman hidup.
Bagi Romo Hady, Oma dan Opa yang hadir adalah pribadi-pribadi yang telah melewati berbagai dinamika kehidupan, mulai dari masa muda, membangun keluarga, menghadapi tantangan ekonomi, hingga tetap bertahan dalam iman. Pengalaman panjang tersebut menjadi modal berharga untuk menuntun generasi yang lebih muda.

Dia bahkan mengajak salah seorang Oma dan Opa berbagi pengalaman hidup di Bali serta pengalaman pertama menjalani Hari Raya Nyepi. Dialog tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman hidup sering kali membentuk cara pandang seseorang menjadi lebih dewasa dan penuh pengertian.
Selain menjadi garam dunia, Oma dan Opa juga diajak menjadi terang dunia. Romo Hady menjelaskan bahwa terang tidak hanya berarti cahaya yang menerangi kegelapan, tetapi juga sikap hidup yang memancarkan sukacita, keramahan, dan kasih.
“Kalau hati kita gembira, wajah kita akan berseri-seri. Orang lain bisa merasakan kebahagiaan itu,” ujarnya.
Menurut Romo Hady, para lanjut usia memiliki kesempatan besar untuk menjadi terang melalui teladan hidup yang mereka berikan.
Kehadiran yang penuh perhatian, kemampuan mendengarkan, serta semangat untuk tetap bersyukur merupakan bentuk kesaksian yang sangat dibutuhkan di tengah masyarakat yang sering kali dilanda individualisme.
Homili tersebut juga mengingatkan bahwa kesaksian iman tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Senyum yang tulus, sapaan yang ramah, perhatian kepada sesama, dan kemampuan menjaga relasi yang baik merupakan bentuk nyata kehadiran Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui perayaan Misa Jumat Pertama, anggota Komunitas SSC diajak untuk melihat masa lanjut usia bukan sebagai masa berakhirnya peran, melainkan sebagai kesempatan untuk terus menjadi garam dan terang bagi lingkungan sekitar.
Pengalaman hidup yang mereka miliki menjadi alasan bahwa Oma dan Opa SSC tetap menjadi saksi iman yang menghadirkan kebijaksanaan, sukacita, dan kasih Tuhan bagi keluarga, komunitas, serta Gereja.*Samuel (SSC).