Home BERITA TERKINI Kisah Menakjubkan Suster Anglikan yang Berbondong-bondong Masuk Katolik

Kisah Menakjubkan Suster Anglikan yang Berbondong-bondong Masuk Katolik

0

VATIKAN, Pena Katolik – Sekilas, para biarawati dari Suster Perawan maria Terberkati (Sisters of the Blessed Virgin Mary/SBVM) tampak sama seperti suster Katolik lainnya. Mereka mengenakan jubah hitam-putih, dan setia mengikuti Regula Santo Benediktus, tekun berdoa Rosario, dan memiliki devosi yang mendalam kepada Perawan Maria.

Namun, ada kisah luar biasa di balik jubah mereka. Seluruh anggota komunitas ini dulunya adalah biarawati Anglikan (Gereja Inggris). Mereka memutuskan bergabung ke dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik Roma pada tahun 2013. Saat ini, mereka menjadi satu-satunya komunitas monastik dalam Ordinariat Anglikan Bunda Maria Walsingham.

Sekilas Sejarah

Mendengar istilah “biarawati Anglikan” mungkin membuat sebagian orang mengernyitkan dahi. Ketika Raja Henry VIII memisahkan Gereja Inggris dari Roma pada abad ke-16, ia membubarkan seluruh biara dan menyita aset-asetnya. Praktik hidup membiara sempat musnah total di Inggris.

Baru pada abad ke-19, muncul Gerakan Oxford di dalam Komuni Anglikan. Gerakan ini berusaha memulihkan kembali aspek-aspek teologi dan spiritualitas yang serupa dengan Gereja Katolik, termasuk hidup membiara. Gerakan ini pula yang melahirkan St. John Henry Newman, salah satu teolog Katolik paling terkenal di dunia.

Terinspirasi oleh kebangkitan ini, William John Butler, seorang vikaris Anglikan muda di Wantage, mendirikan Anglican Community of St. Mary the Virgin (CSMV) pada tahun 1848 dengan landasan Regula Santo Agustinus. Selama bertahun-tahun, komunitas ini tumbuh subur melalui berbagai karya sosial, mulai dari mengelola sekolah hingga panti rehabilitasi.

Panggilan Menuju Katolik Roma

Seiring berjalannya waktu, arah spiritualitas mereka mulai berubah. Dalam kesaksian tertulisnya, Ibu Semesta (Mother Superior) Winsome, SBVM, mengungkapkan alasan mendalam di balik keputusan besar mereka.

“Secara praktis, kami sudah mengenakan jubah tradisional, menyanyikan kidung Gregorian, menyimpan Sakramen Mahakudus, dan mengucapkan kaul seumur hidup (kemurnian, kemiskinan, ketaatan). Kami meniru komunitas monastik Katolik tradisional,” jelas Mother Winsome.

Namun, ia merasakan bahwa kehidupan religius di dalam Gereja Anglikan perlahan mulai terpinggirkan dan kehilangan esensi monastiknya. Ketika terpilih menjadi pemimpin umum pada tahun 2006, Sr. Winsome melihat adanya bahaya di mana panggilan monastik telah bergeser. Komunitas ini sekadar menjadi “asosiasi”, sekumpulan wanita yang melakukan aksi sosial.

Ia pun mencoba memulihkan spiritualitas biara, namun membentur tembok struktur Gereja Anglikan. Mereka mulai merindukan bimbingan dari Magisterium Gereja dan Wakil Kristus (Paus) di Roma.

Saat Kembali

Melihat banyaknya umat dan rohaniwan Anglikan yang ingin bersatu dengan Roma, dengan tanpa kehilangan warisan liturgi mereka, Paus Benediktus XVI mengeluarkan dokumen Anglicanorum Coetibus pada tahun 2009. Dokumen ini memfasilitasi pembentukan Ordinariat Anglikan. Struktur khusus ini (setara keuskupan) memungkinkan mantan anggota Anglikan masuk ke dalam Gereja Katolik. Di dalam Ordinariat Anglikan, imam dan umat yang dulu Anglikan, tetap mempertahankan tradisi spiritualitas mereka, namun sekaligus ada dalam persekutuan dengan Roma.

Mendengar kabar ini, sejumlah suster mendekati Sr. Winsome secara pribadi. Mereka merasa dipanggil untuk menerima undangan Roma tersebut. Setelah melalui masa discernment dan retret yang panjang, 11 suster memantapkan hati untuk “menjadi Katolik” dan memilih untuk hidup di bawah Regula Santo Benediktus.

Keputusan ini tentu tidak berjalan mulus. Otoritas Gereja Anglikan tidak mendukung langkah mereka. Akibatnya, para suster harus angkat kaki dari biara lama mereka, mencari tempat tinggal baru, dan memulai segalanya dari nol.

Namun, pemeliharaan Tuhan (Penyelenggaraan Ilahi) nyata terjadi. Biara Katolik Benediktin St. Cecilia’s Abbey di Isle of Wight menyambut mereka dengan tangan terbuka. Dari awalnya 11 biarawati yang ingin bergabung, ternyata ada tambahan satu lagi dari komunitas lain, sehingga total menjadi 12 suster yang ingin bergabung menjadi Katolik. Suatu kebetulan atau berkat, biara tersebut kebetulan memiliki persis 12 kamar kosong yang batal digunakan oleh suster tamu dari Paraguay.

Menjadi Katolik Seutuhnya

Tepat pada 1 Januari 2013, setelah melewati empat tahun penuh kesalahpahaman dan penolakan yang menyakitkan dari kerabat Anglikan mereka, ke-12 suster ini resmi diterima ke dalam Gereja Katolik.

“Bagi saya, masing-masing dari kami diberikan karunia rahmat penyembuhan yang sangat istimewa, sehingga kami dapat merasakan sukacita sejati saat akhirnya diterima dalam persekutuan penuh Gereja Katolik,” kenang Sr. Winsome hangat.

Kini, komunitas mereka telah menetap di Aston Hall, Staffordshire—sebuah biara yang memiliki kedekatan sejarah dengan St. John Henry Newman.

“Kami tahu bahwa sekarang kami berada dalam persekutuan dengan Takhta Santo Petrus. Ketika konklaf memilih Paus Fransiskus, kami tidak lagi melihat dari luar sebagai penonton. Mereka sedang memilih Paus kami, Bapa Suci kmai. Sekarang, kami benar-benar bagian dari Gereja,” pungkas Sr. Winsome.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version

polestoto

lahirtoto

warung403

warung403 login

situs warung403

lahirtoto

LAHIRTOTO

LAHIRTOTO LOGIN

lahirtoto

imgstock

Hosting Gambar

Mengapa Kasino Online Semakin Sering Muncul dalam Percakapan di Media Sosial?

Kasino Digital dan Perubahan Cara Masyarakat Memahami Risiko Permainan

Menelusuri Pengaruh Konten Video Pendek terhadap Popularitas Kasino Online

Di Balik Tampilan Kasino Online, Ada Strategi Desain yang Memengaruhi Pengguna

Kasino Berbasis Internet dan Tantangan Membedakan Informasi dari Promosi

Bagaimana Kasino Digital Memanfaatkan Teknologi untuk Menjaga Aktivitas Pengguna?

Fenomena Kasino Online Memunculkan Perdebatan tentang Batas Hiburan Digital

Mengenali Pengaruh Notifikasi terhadap Kebiasaan Pengguna Kasino Online

Kasino Online dan Perubahan Persepsi Masyarakat terhadap Peluang Kemenangan

Ketika Kasino Digital Menjadi Topik Perbincangan dalam Literasi Media

Mengapa Informasi tentang Kasino Online Perlu Dilihat dari Berbagai Perspektif?

Perkembangan Kasino Berbasis Internet dan Tantangan Pengawasan Konten Digital

Kasino Online dalam Sorotan Psikologi Pengambilan Keputusan Pengguna

Memahami Bagaimana Promosi Kasino Digital Membentuk Harapan Pengguna Baru

Di Tengah Arus Informasi Digital, Kasino Online Menghadirkan Tantangan Baru

Menelusuri Hubungan Kasino Online dengan Perubahan Pola Konsumsi Konten

Kasino Digital dan Pentingnya Memahami Perbedaan Hiburan dengan Risiko Keuangan

Bagaimana Pengalaman Pengguna Membentuk Pandangan terhadap Kasino Berbasis Internet?

Fenomena Kasino Online Mengingatkan Pentingnya Sikap Kritis terhadap Konten Viral

Kasino Digital dalam Perbincangan tentang Tanggung Jawab Platform Internet

Kasino Online dan Fenomena Normalisasi Taruhan dalam Kehidupan Digital

Mengapa Transparansi Biaya Penting dalam Layanan Kasino Berbasis Internet?

Menelusuri Pengaruh Komunitas Virtual terhadap Pandangan tentang Kasino Online

Ketika Kasino Digital Menggunakan Sistem Hadiah, Bagaimana Pengaruhnya pada Pengguna?

Kasino Online dan Tantangan Memahami Informasi di Tengah Banjir Konten Digital

Bagaimana Kebiasaan Bermain pada Malam Hari Berkaitan dengan Risiko Kasino Online?

Kasino Digital dalam Sorotan Perlindungan Pengguna dari Praktik Manipulatif

Mengenali Perbedaan antara Keberuntungan Sesaat dan Peluang dalam Kasino Online

Kasino Online dan Peran Edukasi Keluarga dalam Membangun Kesadaran Risiko

Mengapa Kemudahan Registrasi Kasino Digital Perlu Diimbangi Perlindungan Identitas?