MANCHESTER, Pena Katolik – Antusiasme umat Katolik di Britania Raya kini tengah meningkat menyusul pengumuman resmi dari Keuskupan Salford, Inggris. Pihak keuskupan menyatakan bahwa proses (Kausa) kanonisasi bagi Pedro Ballester—seorang pemuda awam yang wafat akibat kanker tulang pada usia 21 tahun—telah resmi dibuka.
Langkah ini menempatkan Pedro dalam jejak spiritual yang sama dengan para beato dan orang kudus muda modern, seperti Santo Carlo Acutis dan Beato Pier Giorgio Frassati.
Aroma Kekudusan
Pedro Ballester lahir di Manchester dari pasangan orang tua asal Spanyol yang menetap di Inggris. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga Katolik yang taat. Pada tahun 2013, Pedro memutuskan untuk bergabung dengan Opus Dei sebagai anggota numeraris—sebuah komitmen untuk hidup selibat dan menguduskan diri melalui pekerjaan sehari-hari di tengah dunia.
Pada tahun 2014, sesaat setelah diterima di Imperial College London untuk belajar teknik kimia, Pedro mulai merasakan nyeri punggung yang hebat. Pemeriksaan medis kemudian mendiagnosis dirinya mengidap kanker panggul stadium lanjut.
Ia menghabiskan sisa hidupnya di Rumah Sakit Christie, Manchester, hingga mengembuskan napas terakhir pada 13 Januari 2018. Selama tiga tahun berjuang melawan sakitnya yang luar biasa, Pedro justru dikenal karena doa, pengorbanan, kegembiraan, dan perhatiannya yang mendalam pada orang lain.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada pertengahan Mei 2026, Keuskupan Salford menegaskan pentingnya pembukaan kausa ini:
“Kami dengan sukacita mengumumkan pembukaan kausa beatifikasi dan kanonisasi Pedro Ballester, seorang pemuda Manchester yang teladan iman dan kesaksian hidupnya terus menginspirasi banyak orang, terutama dalam menghadapi penderitaan.”
Sebagai tahap awal dari proses panjang peninjauan oleh Dikasteri Pengorbanan Orang Kudus di Vatikan, Keuskupan Salford kini mengimbau umat untuk mengumpulkan kesaksian, catatan harian, surat, maupun memori tertulis yang berkaitan dengan Pedro guna membuktikan reputasi kekudusannya. Hingga saat ini, otoritas Gereja telah mewawancarai lebih dari 60 orang terdekat, termasuk keluarga dan sahabat.
Teladan Otentik
Romo Joseph Evans, pastor kapelan di Greygarth Hall, Manchester, yang mendampingi Pedro di tahun terakhir hidupnya, menyambut gembira kabar ini. Menurutnya, pemuda masa kini sedang merindukan figur teladan yang otentik di tengah dunia yang serba instan.
“Banyak anak muda, khususnya pria muda, menunjukkan minat baru pada iman. Mereka lelah dengan masyarakat yang berbasis pada kelembekan dan kepalsuan, di mana kenyamanan serta kemudahan disajikan sebagai tujuan akhir hidup,” ujar Romo Evans kepada EWTN News.
“Pedro menderita secara luar biasa, tetapi ia menjalaninya dengan iman yang tak kalah besar. Ia benar-benar menemukan Kristus di jalan yang sukar, dan ia mengikuti-Nya dengan sukacita.”
Jack Valero, perwakilan dari Opus Dei yang ikut mempromosikan kausa kanonisasi ini, mengungkapkan bahwa inspirasi dari hidup Pedro telah meluas ke berbagai negara. Situs web resmi yang didedikasikan untuk Pedro terus menerima laporan tentang rahmat doa yang dikabulkan melalui perantaraannya.
Salah satu kisah yang paling menyita perhatian adalah kesembuhan Blanca, seorang remaja berusia 15 tahun dari Asturias, Spanyol. Pada November 2023, Blanca mengalami stroke parah yang mengancam nyawanya dan harus menjalani operasi otak besar.
Keluarga dan kerabatnya kemudian berdoa memohon intesi kesembuhan melalui perantaraan Pedro Ballester. Secara tak terduga, Blanca mengalami pemulihan drastis yang oleh tim dokter disebut sebagai “mukjizat nyata”, hingga akhirnya ia bisa keluar dari rumah sakit pada Desember 2023.
Melalui ketenangan dan iman radikal yang ditunjukkan Pedro, Gereja Katolik di Inggris berharap proses ini dapat berjalan lancar sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa merangkul salib penderitaan bersama Kristus pada akhirnya akan membawa sukacita sejati.
