PARIS, Pena Katolik – Dalam panggung sejarah dunia, nama St. Louis sering kali dijuluki sebagai “raja untuk kaum miskin.” Gelar ini bukan didapat dari kemegahan takhtanya, melainkan dari kedalaman kasih sayangnya yang luar biasa terhadap kaum miskin.
Jika banyak raja pada abad pertengahan cenderung menimbun harta, Louis IX justru memilih jalan yang berbeda, ia menjadikan kemiskinan rakyatnya sebagai tanggung jawab pribadinya. Raja Luis akan lebih dulu memberi makan untuk orang miskin, sebelum ia menikmati sedikit makanan untuk dirinya sendiri.
Benih Kasih Sejak Masa Muda
Kasih sayang Louis terhadap mereka yang menderita bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba saat ia dewasa. Berdasarkan biografi abad ke-19, St. Louis, King of France, sifat ini telah tumbuh sejak masa kanak-kanaknya.
Ke mana pun sang raja pergi, ia menetapkan sebuah aturan yang tak terpatahkan, “setiap hari, 120 orang miskin harus mendapatkan jamuan makan yang melimpah di rumahnya, lengkap dengan roti, anggur, daging, atau ikan.” Louis tidak hanya memerintahkan bawahannya untuk memberi makan mereka, tetapi ia sendiri yang memastikan bantuan itu sampai.
Salah satu teladan paling menyentuh dari St. Louis adalah disiplin spiritualnya dalam mengutamakan orang lain. Terutama pada masa Prapaskah dan Adven, jumlah orang miskin yang dibantu akan meningkat pesat.
Alih-alih duduk nyaman di kursi kebesarannya, Louis sering kali, ia menunggu hingga semua orang miskin selesai dilayani sebelum ia menyentuh makanan atau minumannya sendiri. Ia menghidangkan makanan langsung ke hadapan mereka. Ia memotongkan daging untuk mereka dan memberikan uang santunan dengan tangannya sendiri saat mereka hendak pulang.
Bagi Raja Louis, melayani orang miskin bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan sebuah bentuk penghormatan religius yang ia lakukan, khususnya pada malam menjelang hari-hari besar keagamaan.
Satu Meja dengan Raja
Louis IX juga menghancurkan sekat kasta antara penguasa dan rakyat jelata. Ia sering mengundang orang-orang tua dan penyandang disabilitas untuk duduk makan di meja yang sama dengannya. Menariknya, ia tidak menyajikan makanan sisa; mereka menyantap hidangan yang sama persis dengan apa yang dimakan oleh sang raja. Setelah makan pun, mereka tidak pulang dengan tangan hampa, melainkan membawa sejumlah uang yang diberikan langsung oleh Louis.
Kisah St. Louis adalah panggilan kuat bagi setiap pemimpin dan umat beriman untuk “mempraktikkan apa yang dikhotbahkan.” Ia membuktikan bahwa iman Katolik bukan hanya urusan pribadi di dalam gereja, tetapi harus dihidupkan secara nyata di ruang publik melalui aksi kasih yang konkret.
St. Louis mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari berapa banyak orang yang melayani kita, melainkan dari berapa banyak orang yang kita layani dengan tangan kita sendiri.
Raja Sejak Belia
Louis berusia 12 tahun ketika ayahnya meninggal pada tanggal 8 November 1226. Penobatannya sebagai raja berlangsung pada tanggal 29 November 1226 di Katedral Reims, dipimpin oleh uskup Soissons. Ibunya, Ratu Blanche, memerintah Prancis sebagai wali raja selama masa kecilnya. Ratu Blanche menanamkan nilai-nilai Kristen yang taat kepadanya.
“Aku mencintaimu, anakku tersayang, seperti seorang ibu mencintai anaknya; tetapi aku lebih suka melihatmu mati di kakiku daripada kau melakukan dosa besar,” ujar Ratu Blanche kepada anaknya.
Adik laki-laki Louis, Charles I dari Sisilia (1227–85) diangkat menjadi Pangeran Anjou, sehingga mendirikan dinasti Capetian Angevin.
Pada tahun 1229, ketika Louis berusia 15 tahun, ibunya mengakhiri Perang Salib Albigensian dengan menandatangani perjanjian dengan Raymond VII dari Toulouse. Raymond VI dari Toulouse dicurigai memerintahkan pembunuhan Pierre de Castelnau, seorang pengkhotbah Katolik yang berusaha mengkonversi kaum Cathar.
Pada 27 Mei 1234, Louis menikahi Margaret dari Provence (1221–1295); ia dinobatkan sebagai ratu di Katedral Sens keesokan harinya. Margaret adalah saudara perempuan Eleanor dari Provence, yang kemudian menikah dengan Henry III dari Inggris. Semangat keagamaan Ratu Margaret yang baru membuatnya menjadi pasangan yang cocok untuk raja, dan mereka tercatat memiliki hubungan yang baik, menikmati berkuda bersama, membaca, dan mendengarkan musik. Kedekatannya dengan Margaret menimbulkan kecemburuan pada ibunya, yang berusaha memisahkan pasangan itu sebisa mungkin.
Meskipun orang-orang sezamannya memandang pemerintahan Louis sebagai pemerintahan bersama antara dia dan ibunya, para sejarawan umumnya percaya bahwa Louis mulai memerintah secara pribadi pada tahun 1234, dengan ibunya kemudian mengambil peran yang lebih bersifat penasihat. Dia terus memiliki pengaruh yang kuat terhadap raja sampai kematiannya pada tahun 1252.
Spiritualitas Luis IX
Kehidupan Raja Louis IX yang penuh dengan pengabdian dan cinta kasih meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah Gereja Katolik. Atas kebajikan dan dedikasinya yang luar biasa sebagai pemimpin sekaligus pelayan umat, Paus Bonifasius VIII memproklamasikan kanonisasi Louis sebagai Santo pada tahun 1297. Hingga hari ini, ia menyandang kehormatan sebagai satu-satunya raja Prancis yang dinyatakan sebagai santo.
Louis IX sering dianggap sebagai prototipe atau model ideal dari seorang penguasa Kristen. Ia membuktikan bahwa kekuasaan politik dan kesucian spiritual dapat berjalan beriringan. Salah satu bukti nyata kesalehannya adalah kebiasaannya dalam melayani kaum papa. Pada hari-hari biasa, lebih dari seratus orang miskin mendapatkan jamuan makan di kediamannya.
Sering kali, sang raja sendiri yang turun tangan melayani tamu-tamu miskin tersebut, menegaskan kerendahan hatinya di hadapan Tuhan.
Tindakan amal kasihnya yang radikal, yang dipadukan dengan praktik keagamaan yang taat, memunculkan legenda kuat bahwa ia bergabung dengan Ordo Ketiga St. Fransiskus. Meskipun para sejarawan meragukan apakah ia secara resmi pernah bergabung, Ordo Ketiga St. Fransiskus tetap menghormatinya sebagai rekan pelindung (co-patron) dan mengklaim sang raja sebagai bagian dari keluarga besar spiritual mereka.
Nama dan teladan St. Louis terus hidup melalui berbagai kongregasi religius yang didirikan untuk meneruskan misi kasihnya. Dua di antaranya adalah Kongregasi Suster Cinta Kasih St. Louis yang didirikan di Vannes, Prancis, pada tahun 1803. Kongregasi yang kedua adalah Kongregasi Suster St. Louis yang didirikan pada tahun 1842. Kedua ordo ini menjadi bukti bahwa semangat pelayanan Louis IX tetap relevan berabad-abad setelah masa kepemimpinannya berakhir.
Penghormatan Liturgis
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, Gereja Katolik dan Gereja Episkopal merayakan hari peringatan St. Louis IX setiap tanggal 25 Agustus. Perayaan ini menjadi pengingat bagi dunia bahwa kepemimpinan sejati diukur dari seberapa besar cinta dan pelayanan yang diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan. Ia dihormati sebagai pelindung bersama Ordo Ketiga Santo Fransiskus. Ia bahkan bergabung di dalam ordo tersebut.
Paus Bonifasius VIII memproklamasikan kanonisasi Louis pada tahun 1297. Ia adalah satu-satunya raja Prancis yang dinyatakan sebagai santo. St. Louis IX sering dianggap sebagai model raja Kristen yang ideal.
