Home BERITA TERKINI Setahun Meneruskan Kerasulan Petrus

Setahun Meneruskan Kerasulan Petrus

0

VATIKAN, Pena Katolik – Pada 8 Mei 2026 akan menandai satu tahun penuh sejak terpilihnya Paus Leo XIV, menyusul wafatnya Paus Fransiskus pada April 2025. Dari penunjukan pertamanya ke berbagai jabatan penting Vatikan dan dari kedudukan uskup hingga pernyataan publik pertamanya, Leo perlahan mulai membangun visinya sendiri untuk masa depan Gereja. Beberapa melihat kesinambungan dengan penekanan Fransiskus, yakni pada sinodalitas, belas kasihan, dan kepedulian terhadap kaum marginal. Sementara itu, orang lain mendeteksi pergeseran halus dalam nada dan prioritas.

Selama dua belas tahun kepemimpinannya, Paus Fransiskus meninggalkan sederet urusan yang belum tuntas. Secara jelas terlihat, ia berhasil membangkitkan semangat kaum liberal—baik dari kalangan Kristen maupun sekuler—melalui keberaniannya mendobrak dogma-dogma lama. Di bawah arahannya, umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi mulai diizinkan menerima komuni, serta para imam diberi wewenang untuk memberkati pasangan sesama jenis.

Paus Fransiskus juga meninggalkan ambiguitas di balik isu-isu sensitif seperti penahbisan perempuan sebagai diakon, kemungkinan pria beristri menjadi imam di daerah krisis panggilan, hingga penggunaan alat kontrasepsi. Beberapa isu ia gulirkan namun berakhir tanpa ketetapan pasti. Ketidakpastian inilah yang menjadi beban sekaligus tantangan utama bagi penerusnya.

Pada kesepatan inilah, kita akan melihat sejauh mana Paus Leo XIV menjadi penerus pendahulunya, sekaligus meletakkan pondasi sejarahnya sendiri. Di awal kepemimpinannya, ia menjanjikan kesatuan Gereja “In illo Uno unum”, yang berarti “dalam Yang Esa, kita adalah satu”. Kini setahun berlalu, adakah capaian yang sudah ia torehkan sebagai penerus kerasulan St. Petrus?

Paus Leo XIV dalam audiensi umum di Lapangan St. Petrus Vatikan. OSV

Di Persimpangan Jalan

Ada beberapa tema yang akan kita lihat bersama, bagaimana Paus Leo XIV membawa Gereja Katolik mengaruhi arus isu yang sudah diawali Paus Fransiskus. Sebagai Kesimpulan, kita juga akan melihat sejauh mana arah baru yang sudah mulai terlihat dalam jejak kepausan Leo XIV.

Paus Leo XIV lama menjadi misionaris yang bertugas di luar Amerika Serikat, hal ini membuatnya berhasil menjauh dari “perang budaya” yang selama ini memecah belah Katolik Amerika. Ia menjadi sosok yang “tidak terduga”, sekilas banyak yang melihatnya sebagai seorang Amerika dengan aksen Chicago, namun jejak pastoralnya selama puluhan tahun telah membentuk cara berpikir lain yang tidak begitu saja terlihat sebagai cerminan budaya asal negaranya.

Paus Leo XIV nyatanya mewarisi “kondisi keuangan Vatikan yang kempis. Namun, situasi ini sebenarnya juga berakar dari tata kelola keuangan Vatikan pada masa pendahulu Fransiskus. Sayangnya, Fransiskus masih tetap gagal membereskan sepenuhnya, meski ia sudah berusaha melakukan perubahan yang tidak sedikit.

Situasi keuangan Vatikan telah berada dalam bahaya selama bertahun-tahun. Pada awal kepausan Fransiskus, pendapatan dan pengeluaran Vatikan diperkirakan masing-masing mencapai $315 juta dan $348 juta. Defisit operasional tahunan Vatikan terus meningkat menjadi lebih dari $90 juta pada tahun 2023. Paus Fransiskus memperingatkan bahwa dana pensiun Vatikan — yang menyediakan pensiun bagi karyawan Takhta Suci dan Negara Kota Vatikan — telah menghadapi “ketidakseimbangan prospektif yang parah” yang “cenderung meningkat dari waktu ke waktu tanpa intervensi,” menurut Vatican News.

Situsi inilah yang diwarisi Paus Leo dari pendahulunya. Langkah-langkah Paus Leo XIV dalam menata keuangan Vatikan selama satu tahun terakhir tercatat melalui beberapa kebijakan strategis yang menggabungkan transparansi, desentralisasi yang bertanggung jawab, dan efisiensi anggaran. Perubahan Tata Kelola melalui Motu Proprio “Coniuncta Cura” pada Oktober 2025. Langkah ini dianggap sebagai koreksi terhadap kebijakan sentralisasi era Paus Fransiskus. Paus Leo XIV mencabut mandat tahun 2022 yang memusatkan seluruh kendali investasi di bawah Administration of the Patrimony of the Apostolic See (APSA). Ia juga mereaktivasi Bank Vatikan dengan mengembalikan fungsi operasional Bank Vatikan Bank untuk efisiensi transaksi.

Paus Leo XIV menerapkan prinsip “tanggung jawab bersama” yang menekankan bahwa pengelolaan uang harus menjadi instrumen “persekutuan” (komuni), bukan sekadar dominasi administratif.

Hasilnya, laporan keuangan Takhta Suci yang dirilis menjelang akhir 2025 menunjukkan hasil positif berkat kebijakan pengetatan anggaran Leo XIV. Defisit struktural Vatikan berhasil ditekan hingga hampir separuhnya, dari 83 juta euro menjadi sekitar 44 juta euro pada akhir 2024.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa periode, Takhta Suci mencatat surplus tipis sebesar 1,6 juta euro, yang didorong oleh peningkatan performa pendapatan dari aset properti dan rumah sakit yang dikelola Vatikan.

Diplomasi dan Dampak Global

Tindakan penataan keuangan ini juga dibarengi dengan keberanian politik. Dalam kunjungannya ke Kamerun (April 2026), ia secara terbuka mengkritik korupsi dan dominasi elit kaya, sebuah pesan yang mencerminkan visinya tentang tata kelola keuangan yang bersih, baik di dalam maupun di luar Vatikan. Terbaru, Paus bahkan mengkritik, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump atas invasi AS ke Iran.

“Hal-hal yang saya katakan tidak dimaksudkan sebagai serangan terhadap siapa pun,” kata Paus Leo XIV pada hari Senin, 13 April 2026, saat ia terbang ke Aljazair untuk kunjungan empat hari ke Afrika.

“Saya bukan seorang politikus. Saya mengajak semua orang untuk mencari cara membangun jembatan perdamaian dan rekonsiliasi, mencari cara untuk menghindari perang kapan pun memungkinkan.” Ditanya tentang kritik dari Presiden AS Donald Trump terhadapnya terkait perang AS-Israel dengan Iran, Leo menjawab bahwa ia “tidak takut pada pemerintahan Trump.”

Paus Leo XIV juga meneruskan terobosan era Fransiskus dalam relasi dengan Beijing—yang mengizinkan Partai Komunis Tiongkok ikut campur dalam penunjukan uskup. Ia menilai Langkah Vatikan selama ini kepada Tiongkok adalah “pilihan yang dapat dilakukan saat ini, untuk bergerak menuju masa depan.”  

Paus Leo XIV pada September 2025 menekankan bahwa misi ini harus menghormati “baik isu budaya maupun politik yang jelas sangat penting,” sekaligus menghormati “sekelompok besar umat Katolik Tiongkok yang selama bertahun-tahun telah mengalami penindasan atau kesulitan dalam menjalankan iman mereka secara bebas dan tanpa memihak.”

Perubahan Iklim

Dulu Kardinal Robert Francis Prevost OSA dikenal sebagai seorang aktivis lingkungan yang bersemangat. Dalam seminar tahun 2024 tentang perubahan iklim di Roma, ia menegaskan kembali komitmen Takhta Suci untuk melindungi lingkungan dan mendesak negara-negara untuk beralih “dari kata-kata ke tindakan, kekuasaan atas alam—tugas yang diberikan Tuhan kepada umat manusia—tidak boleh menjadi “tirani”. Hal ini harus menjadi “hubungan timbal balik” dengan lingkungan. Mengingat latar belakangnya di Peru, salah satu negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim di dunia, ia kemungkinan akan terus mengusung panji tersebut.

Pada masa kepemimpinannya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa Laudato Si’ telah menjadi semakin relevan saat ini, dari pada masa di mana ensiklik ini diterbitkan. Paus Fransiskus meninggalkan visi lingkungan yang pengaruhnya telah melewati batas-batas kekatolikan. Lewat Laudato Si’, Paus Fransiskus telah menebar kesadaran lingkungan, tak hanya untuk umat Katolik, namun juga untuk umat dari agama dan komunitas-komunitas lain. Namun Paus Leo XIV adalah penerus Petrus, tentu, ia akan menorehkan jejaknya sendiri.

Paus mengecam para kritikus yang “mengejek mereka yang berbicara tentang pemanasan global”. Pidatonya di Castel Gondolfo dekat Roma pada 1 Oktober 2025 merupakan bagian dari peringatan 10 tahun sejak penerbitan Laudato Si’. Dokumen penting tentang iklim, yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015, telah membantu mendorong para pemimpin dunia yang bekerja pada perjanjian iklim Paris yang ditandatangani pada tahun yang sama.

“Beberapa orang memilih untuk mencemooh tanda-tanda perubahan iklim yang semakin jelas, untuk mengejek mereka yang berbicara tentang pemanasan global, dan bahkan menyalahkan kaum miskin atas hal yang paling memengaruhi mereka,” ujarnya.

Paus Leo XIV juga menyerukan tindakan yang lebih besar dari warga di seluruh dunia terkait perubahan iklim. Ia mengatakan, tidak ada ruang untuk ketidakpedulian atau kepasrahan.

Melalui satu tahun kepemimpinan yang dinamis, Paus Leo XIV memulai mengukir identitas kepausannya yang unik. Semboyan “In illo Uno unum” telah menjelma menjadi fondasi nyata bagi Gereja yang berusaha tetap relevan di tengah perpecahan politik dan krisis lingkungan dunia. Langkah awal Leo XIV memberikan harapan akan adanya keseimbangan baru, Gereja yang berani mengkritik tirani kekuasaan, namun cukup rendah hati untuk terus mendengarkan jeritan bumi dan kaum miskin. Sebagai penerus takhta Petrus, ia kini berdiri di persimpangan sejarah, membawa bahtera Gereja mengarungi arus zaman dengan komitmen pada kesatuan yang tak tergoyahkan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version