Home BERITA TERKINI Kardinal Ernest Simoni: Pengusir Setan yang dijuluki “Martir yang Hidup”

Kardinal Ernest Simoni: Pengusir Setan yang dijuluki “Martir yang Hidup”

0

VATIKAN, Pena Katolik – Di usianya yang telah menginjak 97 tahun, Kardinal Ernest Simoni membuktikan bahwa kekejaman penjara dan kerja paksa tidak mampu memadamkan api iman. Pada 27 April 2026, sosok yang dijuluki Paus Fransiskus sebagai “martir yang hidup” ini diterima dalam audiensi khusus oleh Paus Leo XIV di Vatikan. Ia didampingi oleh lebih dari tiga puluh anggota keluarganya.

Pertemuan menjadi sebuah perjumpaan spiritual yang emosional. Kardinal Simoni, yang merayakan 70 tahun imamatnya pada 7 April 2026, datang membawa pesan perdamaian dan keteguhan hati.

Kisah hidup Kardinal Simoni adalah saksi bisu kekejaman rezim Komunis di Albania. Ia ditangkap tepat setelah merayakan Misa Malam Natal tahun 1963. Ia dituduh melakukan makar karena mempersembahkan Misa untuk mendiang John F. Kennedy dan menjalankan pelayanan sebagai eksorsis (pengusir setan).

Masa Kelam

Setelah penangkapan itu, Kardinal Simoni mengalami masa bertubi-tubi kisah kelam. Ia harus menghadapi interogasi dan penyiksaan selama tiga bulan. Ia bahkan sempat dijatuhi hukuman mati yang kemudian diubah menjadi 25 tahun kerja paksa. Selama 18 tahun di kamp kerja paksa, ia secara sembunyi-sembunyi merayakan Ekaristi menggunakan remah-remah roti dan anggur yang ia buat sendiri dari perasan buah. Setelah dibebaskan pada 1981, ia tetap melayani umat secara rahasia hingga rezim Komunis tumbang pada tahun 1990.

Dalam audiensi tersebut, Kardinal Simoni memberikan sebuah salib dan relikui martir Albania kepada Paus Leo XIV. Hadiah ini merupakan simbol pengorbanan mereka yang memberikan nyawa demi kasih kepada Yesus dan keselamatan bangsa Albania.

“Ada suasana penuh sukacita dan harapan saat memandang wajah Bapa Suci—yang merepresentasikan wajah Yesus,” ujar Kardinal Simoni kepada media. Ia menegaskan bahwa inti dari seluruh perjuangannya adalah iman pada kebangkitan yang menjanjikan kebahagiaan kekal.

Meski sudah sangat lanjut usia, Kardinal Simoni tetap aktif. Ia kini tinggal di Florence, Italia. Ia tetap melakukan perjalanan untuk Misa publik dan, menurut berbagai sumber, masih menjalankan pelayanan eksorsisme—tugas yang telah ia emban bahkan sebelum ia dipenjara puluhan tahun silam.

Pada 2014, kesaksiannya membuat Paus Fransiskus meneteskan air mata, yang kemudian mengangkatnya menjadi kardinal, sebuah kehormatan langka bagi seorang imam diosesan biasa yang bukan uskup.

Bagi dunia modern, sosok Kardinal Simoni adalah pengingat akan kekuatan pengampunan. Meskipun menderita secara fisik dan mental selama belasan tahun di tangan rezim yang kejam, ia tidak menunjukkan rasa pahit atau kebencian. Sebaliknya, ia terus mewartakan perdamaian yang ia sebut sebagai “perdamaian termanis yang datang dari Surga.” Di samping Paus Leo XIV, sang “martir yang hidup” ini berdiri sebagai saksi bahwa kegelapan tirani sekuat apa pun tidak akan pernah bisa mengalahkan cahaya Injil.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version