Home BERITA TERKINI Dari Sakit Kanker yang Diderita Sang Suami, Menuju Penemuan Iman

Dari Sakit Kanker yang Diderita Sang Suami, Menuju Penemuan Iman

0

TOKYO, Pena Katolik – Bagi Junko Kusanagi, seorang yang menetap di Tokyo, iman bukanlah sesuatu yang datang melalui pendidikan formal, melainkan melalui guncangan hidup yang tak terduga. Meski pernah mengenyam pendidikan di SMA dan universitas Katolik, Junko mengaku, bahwa pada masa itu ia tidak memiliki pengalaman spiritual yang membimbingnya menuju iman akan Kristus.

Titik balik hidupnya dimulai saat ia bersiap untuk menikah. Calon suaminya saat itu berterus terang, “Aku adalah seorang Katolik,” begitu pula dengan seluruh keluarganya. Pengalaman masa sekolahnya ternyata menjadi jembatan yang memudahkan transisi ini.

“Jika aku tidak terpapar Katolisitas sama sekali, aku mungkin akan bereaksi negatif, tetapi karena pernah terpapar, menjadi mudah untuk menerimanya,” kenangnya.

Warisan Iman

Pada usia 39 tahun, Junko melahirkan seorang putra. Ketika suaminya menyatakan, “Aku ingin bayi ini dibaptis,” Junko sempat bimbang. Ia kemudian bertanya kepada saudara ipar perempuannya mengenai makna baptis bayi.

Iparnya, yang dibaptis sejak bayi, menjawab bahwa sejak kecil ia selalu memiliki perasaan kuat bahwa “Tuhan selalu ada.” Jawaban sederhana itu memantapkan hati Junko. “Kalau begitu, baiklah,” pikirnya.

Suami Junko merasa sangat lega dan bahagia atas keputusan tersebut. Junko mengenang ucapan suaminya bahwa, “bahkan jika kita sebagai orang tua mati lebih awal, itu akan baik-baik saja karena Tuhan bersamanya.”

Vonis yang Mengubah

Kehidupan keluarga Kusanagi berjalan tenang hingga Oktober 2022. Sebuah panggilan telepon mengubah segalanya. Suaminya mengabarkan berita sedih.

“Maaf membuatmu sedih, Junko, tapi aku menderita kanker,” kata suami Junko.

Diagnosis kanker pankreas itu menghantam Junko dengan hebat. Namun, di tengah badai itu, sang suami justru menunjukkan ketenangan yang tak tergoyahkan.

Karena heran, Junko bertanya, “Mengapa kamu begitu tenang?”

Jawaban suaminya selalu sama, “Tidak apa-apa. Tuhan selalu ada.”

Keteguhan itu membuat Junko tertegun dan mulai bertanya-tanya, “Apakah iman begitu kuat?” Ia menyadari bahwa iman yang dipupuk suaminya sejak kecil adalah sumber kekuatan utamanya.

Sadar bahwa suaminya akan menjalani perjuangan panjang melawan kanker, Junko merasa harus berjalan di jalur yang sama. “Aku perlu berjalan bersama suamiku dan aku harus pergi ke arah yang sama dengannya,” ungkapnya. Ia pun memutuskan untuk dibaptis.

Keputusan itu disambut haru oleh suaminya, yang bahkan berkata, “Aku senang aku jatuh sakit,” karena penyakitnya membawa sang istri kepada Tuhan.

Dukungan Komunitas Paroki

Junko mulai mengikuti kursus katekumen di Gereja Sekimachi pada April 2023. Di sana, ia didampingi oleh para katekis dan Pastor Yasuaki Inagawa untuk mendalami makna “keadilan Tuhan” dan “cara hidup Yesus”.

Di Gereja Sekimachi, Junko menemukan keluarga baru. Dari seorang yang terisolasi selama pandemi COVID-19 tanpa teman bicara selain suaminya, kini ia menjadi bagian aktif dari komunitas.

“Tuhan, Yesus, gereja, para imam, dan umat awam adalah pendukung total saya. Saya tidak bisa melewati satu minggu tanpa hari Minggu,” ujarnya.

Kini, ucapan doa dari sesama umat menjadi sumber kekuatannya. “Sampai saya mulai datang ke gereja, saya tidak menyangka kata-kata ‘saya berdoa untukmu’ bisa begitu menenangkan.” Energi positif yang ia dapatkan di paroki ia bawa pulang untuk menyemangati suaminya yang sedang dalam masa pemulihan.

Harapan dalam Nama Baru

Junko memilih Raphaela sebagai nama baptisnya, merujuk pada Malaikat Agung Rafael yang dalam Kitab Tobit membimbing Tobias dan menyembuhkan kebutaan Tobit. Ia berharap Santo Rafael senantiasa melindungi dan membimbing keluarganya, baik secara jasmani maupun rohani.

Junko Kusanagi menerima sakramen baptis pada Malam Paskah, 30 Maret 2024, di Gereja Sekimachi. Baginya, ini bukanlah akhir, melainkan sebuah awal yang baru.

“Aku ingin terus membaca Alkitab, menjumpai Yesus, dan berdoa sambil memikirkan makna dari kata-kata doa tersebut,” tutupnya penuh harap. Bagi keluarga Kusanagi, iman telah menjadi “awal dari kehidupan nyata kami sebagai sebuah keluarga.” (UCANews)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version