Ratusan Anak “Bevak Pintar” Rayakan Paskah Bersama di Merauke, Kobarkan Semangat Kebangkitan

MERAUKE, Pena Katolik – Ratusan anak yang tergabung dalam komunitas Bevak Pintar mengikuti perayaan Misa Paskah Bersama di GOR Hiad Sai, Merauke, pada Sabtu (18/4/2026). Ibadah syukur ini dihadiri oleh jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Papua Selatan dan Pemerintah Kabupaten Merauke sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan anak asli Papua. Misa dipimpin oleh tiga imam SVD, yakni Romo Fitalis Aty, SVD, Romo Rony Guntur, SVD, dan Romo Albertus Muda, SVD.

Dalam khotbahnya, Romo Fitalis Aty memberikan apresiasi kepada para siswa yang hadir mengenakan pakaian seragam berwarna merah. Warna tersebut, menurutnya, melambangkan peristiwa Kebangkitan Kristus.

“Warna merah melambangkan Kebangkitan Kristus. Konsekuensinya, kalian harus rajin bersekolah, berdoa, dan menghormati orang tua. Bawalah kabar baik ini kepada siapa pun tanpa memandang perbedaan agama maupun suku,” ujar Romo Fitalis.

Beliau juga memotivasi anak-anak agar tidak berkecil hati meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi atau status yatim piatu. Ia menekankan bahwa kesuksesan lahir dari kesadaran untuk berubah. Romo Fitalis juga mengingatkan pentingnya menjaga iman agar tidak terjerumus pada perilaku negatif setelah lulus dari Bevak Pintar.

Ketua Panitia Paskah Bevak Pintar, Fransiskus Kamim, menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini mengusung tema “Kebangkitan Kristus Memperbaharui Iman Kita dan Alam Ciptaan-Nya”.

Berdasarkan data panitia, saat ini terdapat sekitar 800 siswa yang tersebar di 19 titik Bevak Pintar di wilayah Merauke hingga ke pelosok seperti Kumbe, Jagebob, dan Sota. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari dalam kota, tetapi juga dari wilayah-wilayah terjauh.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan Pemerintah Provinsi Papua Selatan, Pemkab Merauke, serta para donatur yang peduli terhadap masa depan generasi asli Papua,” ungkap Fransiskus.

Br. Johny Kilok, MTB, sosok penggagas Bevak Pintar, berbagi kisah mengenai latar belakang berdirinya komunitas ini pada tahun 2017. Istilah “Bevak” diambil dari bahasa lokal yang berarti pondok kecil tempat beristirahat suku Marind di tengah hutan.

Br. Johny merasa prihatin melihat banyak anak asli Papua yang belum tersentuh pendidikan formal, bahkan kesulitan membaca, menulis, menghitung, serta tidak mengenal tata cara berdoa yang baik.

Meski mayoritas siswa adalah Katolik, Bevak Pintar bersifat umum dan terbuka bagi anak-anak beragama Muslim maupun Protestan. Lembaga ini menampung anak-anak putus sekolah tingkat SD, SMP, hingga SMA. Hingga kini, Bevak Pintar telah meluluskan sekitar 790 anak.

Kedepannya, Br. Johny mengungkapkan rencana pembangunan asrama putra dan putri di daerah Cigombong di atas tanah hibah dari umat. Hal ini diharapkan dapat memberikan pembinaan yang lebih intensif bagi anak-anak Papua agar siap bersaing di masa depan. Agapitus Batbual/Merauke

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini