MERAUKE, Pena Katolik – Gereja Katolik memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan tanaman serai wangi (serai merah) di wilayah Merauke. Hal ini disampaikan oleh Romo Hendrikus Kariwob, MSC, yang melihat potensi besar tanaman tersebut bagi kesejahteraan warga lokal, khususnya masyarakat asli Papua.
Romo Hendrikus, atau yang akrab disapa Romo Henky, mengaku kagum dengan khasiat serai wangi berbatang merah ini. Berbeda dengan serai hijau yang umum digunakan sebagai bumbu masak, serai merah memiliki aroma harum yang khas dan dapat diolah melalui proses penyulingan menjadi minyak atsiri yang kaya manfaat kesehatan.
“Gereja Katolik mendorong semua warga untuk menanam tanaman ini. Selain pohon kayu putih, warga lokal bisa memanfaatkan pekarangan mereka untuk serai wangi. Tidak butuh lahan luas untuk memulai, tapi hasilnya sangat bermanfaat untuk kesehatan keluarga. Jika ada lahan luas, tentu bisa menjadi peluang pasar yang besar,” ujar Romo Henky, Kamis (5/3/2026).
Ia menambahkan bahwa tanah Papua Selatan yang luas sangat cocok untuk budidaya ini. Menurutnya, warga lokal harus kreatif dan tidak hanya bergantung pada satu sektor saja. Terlebih lagi, serai wangi tergolong tanaman yang mudah tumbuh, cepat rimbun, dan tidak memerlukan pupuk khusus, asalkan tidak tertutup oleh pohon besar yang terlalu rindang.
“Pohon serai wangi tidak perlu dipanjat seperti pohon kayu putih, namun keduanya sama-sama harus melalui proses penyulingan untuk menghasilkan minyak,” tambahnya. Saat ini, beberapa titik di Merauke sudah mulai mengembangkan tanaman ini, seperti di Kampung Wasur, Tanah Miring, Distrik Jagebob, dan area sekitar BMKG LB Moerdani.
Frans Leonard, penggagas penyulingan minyak serai merah di Merauke, menjelaskan bahwa produk ini memiliki beragam kegunaan medis. Minyak serai wangi efektif untuk meredakan nyeri sendi, rematik, pegal-pegal, keseleo, pilek, demam, gangguan pencernaan, sakit kepala, insomnia, migrain, hingga luka potong dan gatal-gatal akibat gigitan serangga. Selain itu, minyak ini juga populer sebagai aromaterapi.
“Mungkin saat ini belum terlalu familier di masyarakat, namun kami terus mempromosikannya. Minyak serai wangi ini berbeda dengan produk lain yang beredar di Merauke,” kata Frans.
Ide pengembangan ini muncul sejak tahun 2018 setelah Frans membaca Majalah Trubus dan mengikuti pelatihan penyulingan di Bogor. Terinspirasi dari kunjungan ke lahan budidaya di sana, ia pun bertekad membawa inovasi ini ke Merauke.
Kini, melalui wadah Komunitas Serai Wangi Merauke (KSWM), Frans terus mengampanyekan manfaat tumbuhan ini. Ia juga berencana menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua Selatan untuk mempromosikan budidaya serai merah secara lebih luas.
“Tujuan utamanya adalah membantu ekonomi rumah tangga warga lokal. Kami mengajak siapa saja yang memiliki lahan untuk turut mengembangkan tanaman yang kaya manfaat ini,” pungkasnya. (Agapitus Batbual/Merauke)
