Home BERITA TERKINI Uskup Timika: “Orang Muda Papua Jangan Mati Sia-sia”

Uskup Timika: “Orang Muda Papua Jangan Mati Sia-sia”

0

NABIRE, Pena Katolik – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, melaksanakan perjalanan kanonik perdana di wilayah Dekanat Teluk Cendrawasih selama sepekan, 20–23 Maret 2026. Dalam kunjungan pastoral ini, Mgr. Bernardus menerimakan Sakramen Penguatan (Krisma) kepada 283 umat dari tiga paroki berbeda.

Rangkaian kunjungan dimulai pada Jumat (20/3), saat ratusan umat menyambut hangat kedatangan sang Uskup di gerbang utama paroki dengan tarian adat dan nyanyian dalam bahasa daerah, mencerminkan kekayaan budaya suku-suku di Dekanat Teluk Cendrawasih.

Membawa tema “Jika orang tidak memiliki Roh Kristus, Ia bukan milik Kristus” (Roma 8:9), pelayanan Sakramen Krisma dilakukan secara bertahap.

Paroki St. Antonius Padua, Bumi Wonorejo (21/3): Sebanyak 92 umat menerima Krisma didampingi empat pastor. Dalam kesempatan ini, Uskup juga melakukan audiensi, pemberkatan peletakan batu pertama menara lonceng, serta penyerahan lokasi tanah dari Stasi Urumusu Topo kepada Keuskupan Timika.

Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK), Meriam (22/3): Uskup memberikan sakramen kepada 106 umat didampingi Pastor Paroki Yohanes Adriyanto, SJ.

Paroki St. Yosep, Nabire Barat (23/3): Sebanyak 85 umat menerima Krisma. Uskup juga memberkati 20 orang akolit baru yang akan melayani di wilayah paroki tersebut.

Dalam homilinya yang menyentuh, Mgr. Bernardus memberikan perhatian khusus pada ancaman kepunahan Orang Asli Papua (OAP). Ia menyoroti tiga jenis “kematian” yang kini mengintai generasi muda: kematian tubuh/fisik, kematian psikologis/mental, dan kematian roh.

Ia prihatin atas kurangnya disiplin hidup dan pendidikan dasar dalam keluarga yang membuat banyak pemuda terjebak dalam minuman keras (miras).

“Sakramen Krisma tidak boleh hanya menjadi catatan administrasi gereja, tetapi harus menjadi tanda penerimaan kekuatan Roh Kudus untuk berkarya dan menjadi saksi iman,” tegas Mgr. Bernardus.

Kepada kaum perempuan, Uskup berpesan agar mereka senantiasa menjaga martabat dan identitas sebagai wanita yang takut akan Tuhan. Sebaliknya, ia memberikan teguran keras bagi kaum laki-laki agar tidak merusak kaum perempuan.

“Kalau cinta, cintalah dengan tulus. Jika menikah, menikahlah di gereja, karena perempuan adalah martabat Allah,” pesannya.

Uskup Bernardus juga tidak menutup mata terhadap faktor eksternal yang menindas umat. Ia mengkritik keras kolaborasi “investor nakal” dan oknum negara yang membanjiri Papua dengan miras untuk melemahkan mental orang muda. Menurutnya, hal ini adalah taktik untuk menciptakan “gelandangan sosial” agar kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) Papua bisa dikeruk dengan mudah.

Terkait konflik sosial seperti pertikaian suku di Kapiraya, Uskup menegaskan bahwa hal tersebut seringkali merupakan konflik buatan akibat perebutan kekayaan oleh pihak luar. Ia mengajak seluruh umat untuk menolak segala kekuatan yang mengorbankan warga sipil demi kekayaan duniawi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version