ROMA, Pena katolik – Eksorsisme, atau praktik pengusiran roh jahat merupakan fenomena mistis modern, dan bagian integral dari sejarah iman Kristiani. Akar praktiknya membentang jauh dari masa pelayanan Yesus dan berkembang menjadi salah satu tugas penting dalam struktur hierarki Gereja perdana.
Terang Kitab Suci
Dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), Yesus digambarkan sebagai sosok pengusir setan yang tak kenal lelah. Berbeda dengan Injil Yohanes yang tidak mencatat peristiwa eksorsisme, ketiga Injil lainnya mencatat penggunaan kata Yunani “daimonian” sebanyak 53 kali.
Eksorsisme dalam Alkitab memiliki makna teologis yang dalam. Setiap pengusiran setan yang dilakukan Yesus (seperti dalam Mat 12:28-29 dan Luk 11:20-21) merupakan pralambang dari kekalahan mutlak kuasa jahat. Tindakan ini menjadi saat kemenangan definitif, Yesus atas setan.
Kehadiran Kerajaan Allah nyata dalam tindakan ini, mukjizat ini menjadi tanda nyata bahwa Kerajaan Allah telah hadir dan sedang mewujud di tengah manusia. Selain daimonia, Alkitab sering menggunakan istilah “pneuma Ponera”, ‘roh jahat’ dan “pneuma akatharta”, ‘roh najis’ untuk menggambarkan entitas yang dilawan oleh Kristus.
Hubungannya dengan Baptisan
Sejak awal Abad Pertengahan, eksorsisme memiliki kaitan erat dengan praktik dan ritus baptisan. Gereja meyakini bahwa proses pertobatan dan penyatuan dengan Kristus melalui pembaptisan memerlukan pembersihan dari pengaruh kuasa kegelapan.
Pada abad ke-3, Gereja Latin Barat menetapkan “Eksorsis” sebagai salah satu dari Tahbisan Rendah (minor orders), sejajar dengan pembawa pintu (porter), akolit, dan lektor. Bukti Sejarah tercatat pada tahun 252 M, dalam surat Paus Kornelius kepada Fabius dari Antiokhia, tercatat bahwa di Gereja Roma saat itu terdapat 52 orang eksorsis, lektor, dan pembawa pintu yang melayani umat.
Ritus Penahbisan
Menurut Statuta Ecclesiae Antiqua (abad ke-4), seorang imam eksorsis ditahbiskan oleh uskup dengan penyerahan buku berisi formula eksorsisme. Ia mendapat tugas pelayanannya di keuskupan langsung dari uskup. “Terimalah, simpanlah dalam ingatanmu, dan miliki kuasa untuk menumpangkan tangan atas para energumen (orang yang dirasuki), baik yang sudah dibaptis maupun katekumen.”
Para eksorsis di masa awal Gereja memiliki tugas harian yang intens, terutama terhadap para katekumen (calon baptis). Mereka diwajibkan menumpangkan tangan atas para katekumen setiap hari sebagai bagian dari persiapan rohani.
Praktik serupa juga ditemukan dalam berbagai dokumen penting sejarah Gereja, seperti Mystagogical Catechesis karya Sirilus dari Yerusalem (Abad ke-4) dan Tradisi Apostolik; serta Kanon Hipolitus dari Roma (Abad ke-4).
Eksorsisme dalam tradisi Katolik memulihkan martabat manusia sebagai citra Allah. Dari perintah langsung Yesus hingga pembentukan jabatan resmi dalam Gereja, eksorsisme adalah bentuk pelayanan kasih demi membebaskan jiwa-jiwa menuju cahaya Kerajaan Allah.
